
"Kerjasama kalian sangat bagus, aku suka!" Sean memuji kinerja Remon dan Laura begitu juga dengan Leon dan Rachel. "Malam ini aku akan mengadakan pesta di salah satu hotel milikku. Hanya pesta kecil-kecilan, semua pinggi dalam kedua kelompok geng akan di undang!" Ujar Sean memberitahu.
"Tumben sekali kau mengadakan pesta seperti ini. Dalam rangka acara apa?" Tanya Remon yang penasaran.
"Biar hubungan geng-ku dan geng-mu semakin erat!" Jawab Sean dengan santainya.
"Oh, emangnya ada seperti itu?" Ujar Remon.
"Aku tidak tahulah apa yang ada di pikiranmu itu? Di adakan pesta tapi masih saja protes. Kalau tidak mau ikut pesta, tenggelam sana di laut!" Ucap Amara yang merasa kesal setiap kali melihat dan mendengar Remon bicara.
Remon mendelikkan kedua matanya malas.
"Aku lebih tua darimu, tidak ada sopan-sopannya!" Ucap Remon jengkel.
"Sayang, dia mengatai aku tidak sopan!" Adu Amara pada Sean.
Sean langsung menarik istrinya masuk ke dalam pelukannya kemudian berkata. "Jangan di ambil hati, dia hanya bercanda."
"Melihat kelakuanmu, aku merasa jijik dan ingin muntah!" Ucap Remon kemudian berlalu pergi.
__ADS_1
"Bilang aja syirik..!" Seru Amara.
Sean hanya bisa menghela nafas panjang, Amara dan Remon sudah seperti kucing dan tikus yang tidak pernah akur.
"Laura, kau harus memeriksa lukamu, mana tahu senjata yang di gunakan mengandung racun. Pergi ke ruang medis..!" Ujar Sean memberitahu.
"Baik, tuan!" Jawab Laura.
"Dan kau, temani dia...!!" Titah Sean pada Rachel.
"Baik, tuan...!!"
"Entah laki-laki seperti apa yang harus di percaya, bisa-bisanya laki-laki itu membiarkan seorang perempuan terluka seperti ini." Singgung Rachel.
"Kau menyinggungku?" Sahut Remon yang merasa.
"Rachel, sudahlah!" Tegur Laura.
"Hai perempuan, ember sekali mulutmu itu. Cocok sekali jika kau di satukan dengan Amara." Ucap Remon dengan santainya.
__ADS_1
"Pantas saja kau ini jomblo, menjaga rekan kerjamu saja tidak bisa apa lagi menjaga hati perempuan lain." Cibir Rachel.
"Rachel, hentikan. Jangan membuat keributan!" Sekali lagi Laura menegur.
"Berisik...!" Seru Remon langsung keluar dari ruangan tersebut sambil mengomel.
"Rachel, dia sepupu bos kita. Bisa saja dia menendang kita, jangan bicara sembarangan." Ucap Laura menasehati.
"Aku geram saja pada dia..!!" Sahut Rachel.
"Biarkan saja, ingat tujuan kita hanya untuk bekerja mencari uang yang banyak sebelum pensiun muda. Bukankah kita ingin membeli rumah lalu mencari suami? Abaikan dia, pekerjaan kita jauh lebih penting." Kata Laura yang mengingatkan.
Tanpa sengaja, Remon yang masih berada di depan pintu mendengar semua ucapan Laura. Pria ini tidak peduli dan memilih untuk pergi.
"Pensiun muda katanya, emang ada laki-laki yang mau sama mereka berdua?" Pria ini menertawakan, meskipun Rachel dan Laura sangat cantik, tapi bukan tipe Remon.
Akhir-akhir ini jarang ada pekerjaan yang sangat serius, entah kenapa sejak geng milik Sean dan Remon bersatu, tidak ada musuh yang berani menyinggung mereka.
Sean merasa jika hidupnya sekarang bisa lebih santai. Sesantai sekarang yang sedang menggoyang istrinya di siang buta. Tiada hari tanpa bercinta, bagi Sean semua ini adalah vitamin yang paling utama untuk melewati hari agar tetap kuat dan semangat.
__ADS_1