Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 45


__ADS_3

"Sayang....!" Panggil Amara tersenyum-senyum aneh membuat Sean merasa curiga.


"Jangan bilang kau ingin sesuatu?"


"Tolong belikan aku obat pencahar dan gatal-gatal ini." Pinta Amara.


"Untuk apa? Jangan bilang kau ingin mengerjai aku?" Sean menyelidik.


"Tidak, hanya untuk ku simpan saja. Tidak lebih!" Jawab Amara. "Beli atau aku marah lagi." Ancam Amara mau tidak mau ia membeli kedua obat tersebut.


Setengah jam menunggu, pada akhirnya Sean mendapatkan apa yang ia inginkan. Setelah itu, ia dan Amara kembali pulang ke hotel.


"Apa efek samping dari racun yang kau beli tadi?" Tanya Amara penasaran.


"Melemahkan jaringan otot, merusak pita suara dan penderitanya akan selalu mengalami mimpi buruk." Jawab Sean.


"Tapi, apa kau sudah yakin jika Raul yang sudah melakukan semua itu?" Tanya Amara yang ingin tahu agar suaminya tak salah mengeksekusi orang.


"Karena Raul tahu jika Shena adalah adik ku. Saat itu aku sedang bermasalah dengan dia." Jawab Sean.


"Dan bagaimana dengan ibu mu, siapa yang sudah meracuni dia?"


"Papi-nya Remon." Jawab Sean singkat. "Dan menurut kabar terakhir, papi-nya Remon belum meninggal dan sekarang ada di suatu tempat. Ternyata selama ini Remon membuat berita bohong."

__ADS_1


"Terserahlah, lama-lama aku pusing dengan masalah mu." Jawab Amara.


"Dia yang bertanya dia yang pusing. Perempuan memang aneh!"


Tak mau menanggapi, Amara lebih memilih membaringkan dirinya.


Singkat cerita, keesokan harinya Sean dan Amara pulang ke negara mereka. Sama seperti berangkat, pulang pun membutuhkan waktu sebelas jam perjalanan.


"Aku mual," adu Amara pada Sean.


"Ayo ke kamar mandi jika ingin muntah." Ujar Sean.


"Tidak, bukan ingin muntah hanya mual saja. Kepala ku juga pusing."


Sean pun membaluri perut istrinya dengan minyak angin lalu mengusapnya lembut.


"Hem, terus seperti itu sampai pesawat ini mendarat dengan selamat." Ucapnya langsung di iyakan oleh Sean.


Demi kenyamanan sang istri, Sean rela menahan kantuk demi mengusap perut Amara yang masih datar. Berhenti mengusap pada saat pesawat mendarat.


"Sayang, bangun." Sean membangunkan istrinya dengan sangat lembut.


"Apa kita sudah sampai?" Tanya Amara setengah mengantuk.

__ADS_1


"Ya, ayo turun. Mobil Leon sudah menunggu di bawah." Jawab Sean yang langsung menggendong istrinya turun dari pesawat.


Singkat cerita, mereka pun sudah berada di mansion. Amara langsung melanjutkan istirahatnya sedangkan Sean menemui Leon terlebih dahulu.


"Kenapa pulang secepat ini?" Tanya Leon yang heran.


"Semua gara-gara ide Amara. Leon, aku tidak mau tahu, apa pun caranya kau harus bisa meracuni adik Raul." Titah Sean pada Leon.


"Cecilia? Cila? Elia?"


"Nama itu satu orang." Jawab Sean. "Aku ingin melihat Raul ingat atas apa yang di perbuat."


"Racun apa ini?" Tanya Leon penasaran.


Sean pun memberitahu Leon efek dari racun tersebut.


"Ternyata Amara lebih pintar dari mu." Cibir Leon. "Meskipun dia tidak bersekolah, Amara itu perempuan yang cerdik."


"Berani menyukai istri ku, akan ku potong usus mu!" Ancam Sean.


"Hanya mengagumi pun tidak boleh." Jawab Leon dengan beraninya.


Sean mendengus kesal.

__ADS_1


"Jangan lupa kerjakan tugas mu. Aku ingin melihat Raul menangisi adik kesayangannya."


"Kakak beradik itu hidup seperti orang asing. Mari kita lihat sedekat apa mereka?" Sahut Leon yang sudah tidak sabar melihat reaksi Raul.


__ADS_2