
Dua kebab yang berisi irisan daging pilihan di lahap habis oleh Amara. Setelah sekian lama akhirnya ia bisa memakan kebab Turki yang langsung dari tempatnya.
Sean merasa puas dan bangga saat ia bisa menuruti permintaan dari istrinya. Setelah puas makan, Amara mengajak suaminya kembali ke hotel.
"Kapan kita pulang?" Tanya Amara membuat mata Sean melebar.
"Kita baru dua hari di sini dan kau sudah mengajak pulang? Sayang, masih ada waktu lima hari lagi untuk menikmati liburan ini."
"Tapi, aku tidak bisa makan bubur seafood alias bubur udang kesukaan ku. Kalau pun ada, beda rasanya!"
Sean memijat dahinya sebentar.
"Belum lahir saja sudah mengerjai ku seperti ini, bagaimana jika sudah lahir nanti?" Batin Sean.
Amara yang masih marah tak menghiraukan suaminya.
"Marah lagi, iyakan?" Tebak Sean. "Percayalah Amara, hanya kau yang aku cinta. Berhentilah marah, sekarang bilang padaku, harus aku apakan perempuan itu?"
"Racun saja seperti Raul meracun adikmu. Apa susahnya sih?"
"Tapi, aku ingin melihat Raul menderita!"
"Beri saja racun yang bisa membuat adiknya cacat, pasti dia akan menderita. Gimana sih? gitu aja gak bisa mikir, mafia kok gak ada pemikiran sampai ke sana." Gerutu Amara yang kesal.
Sean menghela nafas panjang, bisa-bisanya ia kalah pintar dari istrinya.
__ADS_1
"Kau ingin pulang kapan?" Tanya Sean pada istrinya.
"secepatnya, aku ingin makan bubur."
"Kalau begitu, jangan marah lagi dong." Bujuk Sean.
"Sekali lagi aku melihat mu dekat dengan perempuan, aku akan memotong batang urat mu dengan gergaji kayu." Ancam Amara.
"Jadi, sekarang kau tidak marah lagi padaku?"
Amara hanya diam.
"Em, anu, itu.... apa aku boleh.....!!" Sean memainkan dua jarinya.
Amara tak menjawab, sok jual mahal sedikit tidak apalah kata Amara.
Tak menunggu jawaban, perlahan-lahan Sean naik ke atas ranjang lalu meraba-raba istrinya. Di arahkannya tangan Amara untuk menyentuh batang tak berpulangnya yang sudah mengeras.
"Keras gak?" Tanya Sean berbisik. "Sudah ku bilang jika aku sedang rindu sekarang."
"Cepatlah, aku juga rindu!" Sahut Amara tanpa basa basi lagi Sean mulai mencumbu istrinya.
Hanya satu ronde, bahkan itu saja keluar di luar membuat Sean merasa tidak puas. Tapi, meskipun begitu ia merasa senang jika istrinya sudah tidak marah lagi.
"Aku izin keluar sebentar ya," ujar Sean sambil memakai kembali celananya.
__ADS_1
"Mau kemana?" Tanya Amara menyelidik.
"Aku harus menemui temanku. Aku tertarik dengan ide mu yang tadi."
"Kau ingin pergi mencari racun?" Perjelas Amara.
"Iya, boleh gak? Kalau gak boleh juga gak apa-apa!"
"Jangan pulang malam," ucap Amara mengingatkan.
"Tapi, aku tidak tega meninggalkan mu sendiri. Bagaimana jika kau ikut saja?" Tawar Sean.
"Kalau begitu, tunggu sebentar. Aku akan berganti pakaian!"
Setelah beberapa menit, Sean dan Amara pun pergi menemui teman Sean yang bernama Khalid. Khalid sendiri seorang Dokter beda sama seperti Sean.
Khalid mengajak Sean ke toko obat-obatan tradisional khas sana.
"Katakan saja pada paman ini apa yang kau inginkan." Kata Khalid pada Sean.
"Aku sedang mencari racun yang bisa membuat cacat. Apakah ada?" Tanya Sean tanpa basa basi.
"Berani bayar berapa?" paman Ali balik bertanya.
"Berapa pun!" Jawab Sean.
__ADS_1
Di saat Sean sedang sibuk membahas masalah racun, Amara justru sibuk melihat-lihat obat-obatan dan beberapa racun yang di jual secara tertutup di toko tersebut.