
Beberapa hari kemudian, Sean memanggil Remon dan Laura juga Leon dan Rachel. Saat ini ruang keluarga penuh dengan mereka saja. Rasa-rasanya Amara sudah tidak sabar lagi ingin melihat ekspresi mereka berempat.
Pak Pet juga ada di sana karena mereka korban dari Amara dan Sean juga. Sebelum bicara, entah kenapa Sean merasa beli sendiri hatinya hingga membuat pria ini tertawa.
"Kau memanggil kami hanya untuk melihat dan mendengarmu tertawa?" Remon kesal sendiri, ingin sekali ia menghajar Sean.
"Tenanglah, aku hanya tertawa sebentar." Sahut Sean.
Sean berdehem beberapa kali sebelum mengatakan yang sebenarnya. Pria ini memandang satu persatu orang yang ada di ruang tersebut.
"Enak nggak nikah?" Tanya Sean membuat mereka berempat semakin kebingungan. "Sebenarnya Laura dan Rachel adalah calon istri yang sudah aku siapkan untuk kalian berdua." Ucap Sean seketika membuat ekspresi Remon dan Leon berubah datar.
"Jangan-jangan semua yang terjadi adalah pengaturanmu?" Tanya Remon yang sebenarnya sudah curiga dari awal.
"Semua ide Amara!" Jawab Sean setengah tertawa.
Laura dan Rachel hanya bisa diam, mau marah tapi Amara istrinya Sean, tidak marah tapi mereka merasa dijebak.
"Jangan bilang kau yang sudah memberi obat malam itu?" Tuduh Leon dengan sorot mata tajam.
"Ya udahlah, nggak usah marah. Aku yakin jika kalian setiap malam sudah mencicil kuping. iya kan?" Ujar Amara dengan senyum menggoda.
"Amara.....!!" Remon menekan suaranya, mengepalkan kedua tangannya menahan amarah.
__ADS_1
"Aku bingung harus berekspresi seperti apa sekarang?" Ucap Rachel seraya menggaruk kepalanya tak gatal.
"Kita tanding malam ini." Tantang Remon pada Sean.
"Kalau kalian tidak suka, ya sudah bercerai saja. Sudah dicarikan istri masih protes aja!" Omel Amara.
Sontak saja Leon memeluk Rachel.
"Jangan, aku sudah terlanjur cinta dan nyaman." Ucap Leon membuat Sean merasa geli.
"Tuan, apa Suster Belina juga istri pilihan tuan?" Tanya pak Pet yang memberanikan diri.
"Tepat sekali...!!" Jawab Sean.
"Bandot gila...!" Seru Remon yang merasa geli. "Sudah tua masih kegilaan mau menikah."
"Hai, kau pikir yang muda saja yang memiliki selera? Pak Pet itu masih normal!" Amara membela pak Pet.
"Nyora tetap yang terbaik." Puji pak Pet.
"Perasaan dari tadi marah-marah terus, kamu menyesal nikah sama aku?" Tanya Laura pada suaminya.
Remon tersenyum lalu mengecup tipis bibir istrinya.
__ADS_1
"Tidak dong, kalau menyesal kenapa aku selalu menjadi kudamu?"
Mendengar jawaban Remon yang sungguh menggelikan membuat semua orang memutar bola matanya malas.
"Tidak menyesal katanya, tapi kenapa kau mengajak suamiku untuk tanding hah?" Protes Amara.
"Tidak jadi... tidak jadi. Dari pada aku tanding dengan suamimu, lebih baik aku menggoyang istriku." Sahut Remon yang sampai sekarang masih suka merasa geram pada Amara.
Sean hanya bisa menggelengkan kepalanya, entah kenapa saudara sepupunya ini sangat membenci Amara.
"James juga ikut ambil dalam pernikahan kalian. Apa kalian tidak berniat mencarikan dia jodoh?" Ujar Sean memberitahu.
"Bajingan itu.....??" Semakin panas hati Remon, pria ini tidak menyangka jika orang kepercayaan bisa berbohong sekarang.
Untung saja James tidak ada di sana, jika tidak sudah pasti akan dihajar oleh Remon. Hanya Leon yang tidak banyak bicara karena pria ini sangat menerima dengan lapang dada karena menurutnya punya istri ada enaknya juga.
"Sayang, kesabaran Remon setipis kulit bawang." Bisik Amara pada suaminya.
"Apa hah? Untung istri Sean, jika bukan sudah kuhabisi kau!" Ucap Remon yang benar-benar geram.
"Berani berkata seperti itu lagi akan kuhajar kau!" Ancam Sean yang tidak terima.
Dengan perasaan kesal, Remon mengajak Laura pergi dari sana. Leon hanya mengangkat kedua bahunya kemudian pria ini mengajak Rachel pergi.
__ADS_1