Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 72


__ADS_3

"Nanti, kamu maju duluan. Ejek mereka agar terpancing emosi." Ucap Remon yang memberi arahan pada Laura.


"Jika aku tertembak, bagaimana?" Tanya Laura sedikit panik.


"Aku ada di belakangmu, kau tenang saja, mereka tidak akan membunuhmu." Ujar Remon.


"Hem, baiklah!" Jawab Laura yang begitu penurut.


Jika Laura sangat penurut, beda lagi dengan Leon dan Rachel yang saat ini sedang berdebat di persembunyian mereka.


"Cepatlah keluar, nanti musuh kita lari." Titah Leon.


"Kenapa harus aku yang kau jadikan umpan? kenapa tidak dirimu sendiri hah?" Rachel kesal pada Leon.


"Aku ini atasanmu, kenapa kau ini selalu membantah hah?" Leon menekan suaranya.


"Aku ini perempuan, bisa-bisanya kau menjadikan aku umpan!"


"Amara saja pernah di jadikan suaminya sendiri sebagai umpan, kenapa kau harus takut hah?"


Rachel mendengus kesal, mau tidak mau wanita ini keluar dari persembunyiannya. Mengganggu orang-orang yang sedang bertransaksi senjata api ilegal tersebut.


"Siapa perempuan ini? Kenapa ada perempuan di sini?" Tanya salah seorang dari mereka.

__ADS_1


"Hentikan transaksi kalian, kerja yang halal!" Ucap Rachel membuat semua terkejut.


"Perempuan ******!" Hardiknya. "Beraninya kau....!!"


Rachel hanya mengangkat kedua bahunya, tiba-tiba saja wanita ini mengarahkan senjata apinya ke sembarang arah hingga membuat semua orang yang sedang melakukan transaksi kocar kacir menghindari tembakan Rachel.


Leon keluar, pria mengejar beberapa orang yang mencoba bersembunyi, tidak lupa para polisi yang sudah berada di tempat persembunyiannya mereka juga ikut menyerang.


"Perempuan gila...!" Hardik Leon yang merasa kesal. "Bukan seperti itu caranya. Seharusnya kau menembak ketua geng mereka lebih dulu." Ucap Leon semakin jengkel.


"Mana aku tahu, kau tidak bilang aturan mainnya. Yang penting mereka semua gagal!" Jawab Rachel dengan santainya.


Leon menghela nafas panjang, mencoba bersabar menghadapi perempuan satu ini.


"Katamu ada polisi, mana dia?" Tanya Laura sambil menghalau pukulan demi pukulan yang di layangkan padanya.


"Entah, sedang tidur mungkin...!" Jawab Remon.


Belum ada satu menit Remon menjawab seperti itu, para polisi yang di tunggu pun akhirnya datang. Delapan orang tersebut mulai tersudut, ingin kabur pun tidak bisa karena jumlah mereka kalah banyak.


Aaaargh..... jerit Laura yang mendapatkan sayatan di lengan kirinya. Remon yang mendengar jeritan Laura langsung menghajar pria yang sudah melukai Laura.


"Sudah di kepung, tapi bisa-bisanya kau melukai orang lain." Ucap Remon yang tidak terima.

__ADS_1


Pada akhirnya, kedelapan orang tersebut bisa di lumpuhkan. Mereka langsung di bawa ke kantor polisi beserta satu mobil box yang berisi obat-obatan terlarang.


"Apa lukamu terasa sakit?" Tanya Remon tidak masuk di akal.


"Bodoh sekali lelaki ini." Ucap Laura yang merasa jengkel. "Di sayat, terluka dan mengeluarkan darah. Itu artinya sakit!"


"Biasa saja jawabnya, bukankah kau pendiam?"


Laura memutar bola matanya malas, wanita ini bergegas masuk ke dalam mobil Remon. Malam ini mereka hanya berdua, sedangkan James ada pekerjaan lain.


Merasa kasihan, Remon mengeluarkan kotak obat yang selalu ada di dalam mobilnya lalu mengobati luka Laura.


"Apa pekerjaan kalian seperti ini kalau malam?" Tanya Laura yang penasaran.


"Hem, geng milik Sean khusus untuk membasmi kejahatan dan tindakan ilegal." Jawab Remon.


"Apa untungnya untuk kalian?" Tanyanya lagi.


"Berhenti bertanya!" Sergah Remon.


"Bertanya pun tidak boleh. Menyebalkan!" Sahut Laura yang langsung menepis tangan Remon.


Mau marah, tetap tidak bisa karena hati Remon akan melunak pada wanita, tidak termasuk Amara yang selalu membuat darahnya naik.

__ADS_1


__ADS_2