
"Sean...!" Panggil Remon menghentikan langkah Sean yang hendak masuk ke dalam mobil.
"Apa?"
"Kita bertemu di cafe black rose sekarang. Ada yang ingin aku bicarakan padamu!"
"Baiklah!"
Sean pun mengajak anak dan istri pergi ke cafe yang barusan disebut Remon. Entah apa yang akan dibicarakan oleh Remon pada Sean.
Setibanya di sana, mereka langsung duduk di meja paling sudut. Ada Amara dan Laura, kedua wanita ini duduk di samping suami masing-masing.
"Apa yang ingin kau bicarakan?"
"Begini, aku punya rencana untuk menjodohkan Rachel dan Leon. Bagaimana menurutmu?"
Amara dan Sean saling pandang seolah menahan tawa mereka agar tidak lepas dihadapan Remon dan Laura.
"Ide yang menarik...!" Seru Sean pura-pura tidak tahu.
"Bagaimana caranya menjodohkan mereka?" Tanya Amara yang ingin tahu ide Remon. "Laura, kau pasti hafal betul dengan temanmu itu. Ayo berikan pendapatmu!"
__ADS_1
"Apa ya? aku jadi bingung!" Laura menggaruk kepalanya kebingungan.
"Di jebak saja...! Tapi, dijebak bagaimana?" Remon ikutan bingung. "Leon harus menikah, biar dia tidak mengejekku terus!" Ucapnya geram.
"Aku akan pura-pura mogok makan agar Leon dan Rachel menikah. Pasti mereka akan merasa kasihan dengan anak yang sedang aku kandung." Ucap Amara dengan senyum lebarnya padahal ia sendiri tidak hamil.
"Aku jijik padamu, Sean. Anak masih kecil tapi istrimu hamil lagi." Ujar Remon langsung mendapatkan jambakan dari Amara.
"Itu artinya suamiku perkasa, dari padaku colok sana sini." Singgung Amara membuat Remon gelagapan.
Sean tertawa, suka sekali melihat Amara dan Remon yang selalu bertengkar.
Remon langsung menarik tangan Laura, mengajak istrinya untuk pulang lebih dulu. Begitu pula dengan Sean dan Amara, suami istri ini memutuskan untuk pulang karena Aaron sudah pulang lebih dulu bersama Daren dan Sindu.
Beberapa hari kemudian, Sean tampak gelisah sambil membawa piring berisi makanan yang masih utuh. Remon sengaja menginap di mansion karena ia harus membantu Amara berakting.
"Amara kenapa lagi?" Tanya Remon sok polos.
"Dia tidak mau makan, sudah tiga hari ini dia tidak mau makan nasi dan minum obatnya. Aku takut terjadi sesuatu pada calon anakku."
"Kenapa seperti itu?" Tanya Leon yang merasa heran.
__ADS_1
"Amara meminta padaku jika dia ingin melihat kau menikah dengan Rachel." Ucap Sean memberitahu hingga membuat Leon dan Rachel saling pandang. "Aku bingung harus merayunya bagaimana? Kalian tahu sendiri Amara keras kepala."
"Hayooo.... Leon. Kau dan Rachel harus segera menikah. kalau tidak, kasihan anak yang ada di kandungan Amara." Ujar Remon mengompori.
"Rachel, iya tuh...!" Timpal Laura.
"Amara yang hamil, semua orang yang susah. Gila aja main nikah, dipikir mainan!" Gerutu Leon tidak terima.
"Saya menolak!" Seru Rachel.
"Tuan... Nyora pingsan....!" Jerit Suster Belina yang masih bekerja di mansion.
Sean pura-pura panik, ditambah Leon juga ikutan panik hingga membuat seisi mansion mendadak panik.
"Rachel, kau harus setuju kali ini. Kasihan Nyora, dia sedang mengidam. Bisa-bisanya kau dibunuh oleh tuan Sean." Ucap Laura yang menakuti Rachel.
Rachel merasa serba salah, mana mungkin ia bisa menikah dengan Leon yang tidak ia cinta. Meskipun begitu, Leon masih peduli pada Amara, pria ini langsung meminta Daren untuk menjemput Dokter kandungan yang pernah menangani Amara.
"Leon, anak Sean itu calon keponakan kita. Apa kau tidak kasihan hah? Kalau sampai terjadi apa-apa, kau harus bertanggung jawab!"
Pusing kepala Leon, pria ini bingung ingin mengambil keputusan apa? Amara sudah tiga hari tidak makan, katanya begitu.
__ADS_1