Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 69


__ADS_3

Di tengah malam yang gelap, Sean bersama sebagian anak buahnya datang menyerang markas Garvin yang sudah berani melukai istrinya dan membuat anaknya lahir secara prematur.


Bersama Leon, Remon dan James, dengan santainya mereka berdiri tepat di sebuah gudang yang berjarak hanya satu kilo dari muara sungai.


"Serang!" Titah Sean dengan satu tembakan sebagai pertanda.


Anak buah Garvin yang sedang tidak di dalam markas merasa terkejut mendengar suara tembakan, mereka belum siap di serang banyak yang langsung tumbang. Sedangkan Garvin yang kebetulan sekali ada di sana mencoba untuk melarikan diri lewat pintu belakang, tapi tak sempat karena James sudah menghalangi dirinya.


"Menyingkirlah!" Titah Garvin yang berusaha menyembunyikan wajah takutnya.


Tak berapa lama, Sean pun datang sambil berkacak pinggang.


Satu orang di hadang oleh empat orang, tentu saja hal ini membuat dada Garvin semakin berdebar apa lagi saat ia mencoba melarikan diri tadi tidak sempat membawa senjata apa pun.


"Beraninya kau menembak istriku," ucap Sean dengan suara dinginnya.


"Tapi tidak matikan?" Ujarnya yang berani buka suara.


"Dan sebab kau, anakku harus di lahir lebih awal!" Ucap Sean lagi.

__ADS_1


Hanya dengan lirikan mata, Sean memerintahkan Remon, James dan Leon untuk menangkap pria ini.


"Lepaskan aku!" Pinta Garvin.


"Berani bermain denganku, itu artinya kau sudah siap untuk mati." Ucap Sean dengan sorot mata tajam.


Pria ini melangkah maju lalu mencekik leher Garvin sampai membuat pria ini nyaris kehabisan nafas. Jika sudah seperti ini, Leon memberi kode pada Remon dan James untuk melepaskan Garvin.


Sean pun menghajar Garvin, kemarahannya pada pria ini telah merasuk ke dalam hati. Berusaha melawan Sean, tapi tetap saja ia kalauh.


Darah segar terus mengalir dari kedua hidung Garvin, bahkan bibirnya pun sudah pecah dan yang lebih parahnya lagi, Sean memukul tetap di salah satu mata Garvin.


Sean membuka celana Garvin, melepasnya paksa sampai membuat Remon, Leon dan James penasaran apa yang akan di lakukan oleh Sean.


"Gara-gara kau, aku kehilangan malam indahku selama beberapa bulan. Rasakan ini," ucap Sean dengan nada menekan.


Nyeees..... sssst..... aaaaaaaargh....... jerit Garvin yang menggelepar kesakitan saat harta karun miliknya di potong Sean menggunakan pisau belati.


Remon, Leon dan James yang melihat kejadian tersebut langsung memegang burung mereka masing-masing yang ikut terasa nyeri.

__ADS_1


Sean tersenyum puas saat melihat darah segar mengalir deras dari kejantanan Garvin yang sudah putus bahkan tanpa merasa jijik, Sean memungut potongan kulit tak bertulang itu lalu ia lemparkan tepat di wajah Garvin.


"Kau akan mati di kandangmu sendiri, Garvin." Ucap Sean.


Nafas Garvin hampir lepas dari singgasananya, dengan sisa tenaga yang tersisa pria ini mencoba merangkak di bawah kaki Sean.


"Ampun, jangan bunuh aku." Lirih Garvin memohon ampun.


"Aku nyaris kehilangan istri dan anakku, menurutmu apa pantas jika kau di biarkan hidup?"


Sean pun mengeluarkan senjata api yang selalu ia bawa kemana pun ia pergi.


"Ampun... ampun....!!" Mohon Garvin.


Lekat mata Sean menatap dada Garvin, tanpa memiliki rasa iba, pria ini langsung menembak mati Garvin.


Dor.... dor... dua tembakan sudah lebih dari cukup. Itu artinya penyerangan telah selesai. Di markasnya sendiri, Garvin meregang nyawa.


Tidak sampai di situ, Sean yang belum merasa puas langsung merobek dada Garvin, memastikan peluru yang ia tembak berada tepat di jantung pria ini.

__ADS_1


"Aku puas!" Ucap Sean dengan tawa kerasnya.


__ADS_2