
Senang sekali saat Amara melihat jejeran buah jagung yang berbaris rapi di hadapannya ini. Pak Pet senang-senang saja melakukan tindakan konyol seperti ini tapi tidak dengan Sean dan yang lain.
Mengambil gambar satu persatu dari mereka adalah kebahagiaan tersendiri untuk Amara. Semangatnya kembali ceria lagi, tentu saja hal ini membuat Sean bisa bernafas lega.
"Sekali saja kalian tertawa, akan ku tembak kalian semua." Ancam Remon pada Anak buah Sean.
"Kenapa kau sangat galak?" Sergah Amara. "Hidupmu itu monoton, tidak ada bahagia-bahagianya. Jika seperti itu terus, apa tujuan kau hidup di dunia ini hah?"
Seketika Remon terdiam, apa yang di katakan oleh Amara ada benarnya juga. Sejak ia kecil sampai sekarang, belum pernah ia merasakan bahagia sama sekali. Hidupnya hanya di kelilingi oleh awan kelabu tanpa tujuan.
"Cepat-cepatlah menikah biar hidupmu tidak berbuat jahat terus." Ucap Amara lagi.
"Ingin sekali aku menyobek mulut kecilmu itu." Sahut Remon yang geram.
"Hai, kecil-kecil begini rudal besar suamiku masuk sampai tenggorokan!" Balasnya tidak mau kalah sampai membuat wajah Sean tebal menahan malu.
"Sayang, bisa-bisanya kau ini....!" Ucap Sean dengan nada menekan.
Amara tidak peduli, ia dan Remon bagai musuh bebuyutan apa lagi Amara pernah mengerjai Remon dulu.
"Jangan melawan Amara, suaminya saja kalah apa lagi kita." Bisik Leon pada Remon.
Remon memutar bola matanya malas lalu pria ini melepas kostum jagungnya.
__ADS_1
"Heh, mau kemana lagi kau?" Tanya Amara menahan langkah Remon.
"Aku mau pulang, ada apa lagi?"
"Sayang, aku ingin makan siang di restoran mewah bersama kalian semua. Boleh ya...?" Rengek Amara pada suaminya.
"Sekali saja....!" Rayu Sean pada Remon.
"Tidak suami tidak istri suka sekali merepotkan orang lain. Sean, di mana harga dirimu sebagai seorang ketua hah?"
Sean tidak bisa menjawab, mana berani ia melawan perintah istrinya meskipun ia jauh lebih tua dari Amara.
Mau tidak mau mereka harus menuruti permintaan Amara yang ingin makan di salah satu restoran mewah. Dengan perut membusung besar, Amara sama sekali tidak merasa lelah.
"Dua bulan lagi." Jawab Sean.
"Cepatlah melahirkan agar kau tidak menyusahkan orang saja!"
"Cepatlah menikah, agar kau tahu rasanya." Sahut Amara.
Duduk bagi ratu karena ia di kelilingi oleh enam orang pria tampan kecuali pak Pet. Amara merasa sangat senang sekali.
"Aku merasa sangat bahagia sekali, kita seperti keluarga yang damai." Ucapnya membuat keenam pria ini saling toleh.
__ADS_1
Tapi, tiba-tiba saja.....
Dor...... ssssht...... tubuh Amara jatuh lunglai saat ia di tembak dari belakang. Semua orang mendadak panik terutama Sean apa lagi darah segar mulai mengalir dari tubuh bagian belakang Amara.
Remon, James dan Daren langsung mengejar orang yang sudah menembak Amara yang ternyata adalah anak buah Remon yang sudah berani berkhianat.
Sedangkan Sean, Leon dan pak Pet bergegas membawa Amara yang sudah tidak sadarkan diri ke rumah sakit.
"Sayang....!" Lirih Sean yang sudah tidak bisa berkata-kata lagi. "Leon, cepat sedikit...!"
Pakaian Sean berlumuran darah, bahkan pak Pet rela melepas pakaiannya demi menahan darah segar yang masih keluar dari tubuh Amara.
Sesampainya di rumah sakit, Sean langsung memerintahkan banyak Dokter untuk menangani istrinya.
"Maaf tuan, kita juga harus segera melakukan operasi untuk mengeluarkan janin yang ada di dalam kandungan mengingat istri anda sudah banyak mengeluarkan darah." Ucap salah satu Dokter dengan wajah ketakutan.
Sean mencengkram kerah kemeja Dokter tersebut.
"Apa kau sudah gila? usia kandungannya masih tujuh bulan. Selamatkan istri dan anakku cepat!" Titahnya penuh emosi.
"Jika kita tidak mengeluarkannya, maka istri dan anak tuan tidak akan selamat. Tolong mengertilah tuan, saya bisa jamin anak tuan akan selamat begitu juga dengan istri anda. Jika tidak, istri anda akan mengalami komplikasi mengingat pelurunya hampir mengenai jantung."
Sean jatuh tersungkur lemas di lantai. Pikirannya mendadak kalut.
__ADS_1
"Cepat keluarkan anaknya sekarang setelah itu kami sendiri yang akan melakukan operasi untuk mengeluarkan peluru." Titah Leon pada Dokter tersebut.