
Di paksa ikut pergi ke luar negeri bersama Sean, sebenarnya Amara sangat malas apa lagi ini adalah kali pertamanya ia naik pesawat.
Merasa gugup dan takut, tapi sebisa mungkin Amara tidak menunjukkannya pada Sean. Duduk di kursi sendiri, menatap ke luar jendela pesawat dengan hamparan awan putih langit biru.
"Sayang, bicaralah. Aku bosan!" Ucap Sean memaksa.
Amara hanya diam, ia justru menarik selimut dan memejamkan matanya.
"Apa kau tidak rindu padaku?" Tanya Sean mulai memancing. "Hampir dua minggu kita tidak kikuk-kikuk, kau sangat menyiksaku, Amara." Ucap Sean.
'Aku ini bukan istrimu, Sean. Kita ini hanya dua orang yang saling memuaskan" Sahut Amara tentu saja membuat Sean kesal.
"Kau kau suka memancing emosi hem?"
"Aku tidak ingin bicara padamu!"
"Sudahi marah mu, Amara. Kau sangat menyiksa ku jika seperti itu terus. Masalah perempuan itu, sebenarnya dia adik Raul geng teratai hitam. Aku mendapatkan informasi jika dia berada di satu sekolah yang sama dengan adik ku beberapa tahun silam. Sebenarnya aku ingin memperlakukan dia dengan manis sebelum aku membuat dia seperti Alena." Tutur Sean panjang lebar. "Masalahnya terlalu rumit untuk ku ceritakan pada mu." Imbuh Sean.
"Kenapa kau tidak langsung membunuhnya saja?"
__ADS_1
"Aku hanya ingin tahu siapa yang sudah bekerjasama dengan Raul. Mereka meracuni adikku, membunuh adikku, memperkosanya bahkan ibu juga meninggal karena di racun. Aku hanya ingin mencari informasi lewat perempuan itu."
"Kenapa tidak Leon saja?"
Sean memijat keningnya.
"Aku sudah menjelaskan sedikit padamu, berhentilah marah. Aku lebih suka mendengar ucapan mu yang cerewet dari pada kau diamkan seperti ini."
Amara memutar bola matanya malas tiba-tiba saja ia merasa mual saat pesawat mengalami guncangan. Sean yang melihat Amara menutup mulut langsung paham jika Amara hendak muntah dengan cepat pria ini membawa istrinya pergi ke kamar kecil.
"Anak kita ini, ingin makan kebab saja harus pergi ke turki. Nanti, kalau punya pasangan orang Jepang masa iya kita harus terbang ke Jepang untuk melamar?"
Di usapnya perut Amara yang masih datar sampai rasa mual itu hilang. Amara terlelap tidur, membuat Sean merasa lega melihatnya. Di usapnya wajah tembem Amara dengan perasaan geram ingin meremasnya.
Sebelas jam penerbangan, akhirnya pesawat mendarat dengan selamat. Amara tampak lelah, raut wajahnya lesu. Tak mau membuang waktu, Sean langsung mengajak istrinya pergi ke hotel yang sudah di pesan sebelumnya.
"Istirahat dulu, kau pasti lelah!"
"Aku ingin tidur," ucap Amara singkat.
__ADS_1
Sean langsung memanggil Dokter kandungan untuk memastikan jika keadaan istri dan anaknya baik-baik saja.
"Aku ingin makan bubur seafood," pinta Amara pada suaminya.
Sean tepuk dahi, di mana ia akan mencari bubur seafood yang biasa di makan istrinya sejak hamil.
Di tempat yang berbeda, saat ini Remon yang tengah berbahagia karena untuk pertama kalinya transaksi yang ia lakukan berhasil tanpa halangan.
Semua berkat Amara, andai Amara dan Sean tidak bermasalah, sudah pasti rencana Remon akan gagal seperti biasanya.
"Aku heran, kenapa transaksi kita kali ini berjalan lancar? Sean tidak tahu, atau dia ada misi yang lebih besar lagi?" Remon mencoba mencari jawaban.
"Iya, semua ini terasa aneh." Jawab James.
"Bagaimana, apa semua persiapan untuk menyerang geng teratai sudah siap?" Tanya Remon pada James.
"Sudah siap semua. Akhir minggu depan!" Jawab James datar.
"Mereka sudah menghabisi Alena, setidaknya aku harus membalas dendam atas nama Alena." Ucap Remon yang sampai sekarang belum mengetahui jika semua itu adalah perbincangan Sean.
__ADS_1
Rencana demi rencana bodoh di atur oleh Remon, bahkan pria ini sedang memikirkan rencana untuk mengumpulkan semua geng yang tidak menyukai geng Sean kemudian menyerangnya secara bersama-sama.