
Lirih perih terdengar begitu manja di telinga Remon. Pria ini terus menggoyangkan pinggulnya menikmati lapis legit yang baru saja ia buka secara paksa.
kayuhan pedal-pedal cinta mulai merasuk ke dalam jiwa Remon dan Laura. Sesekali Remon mengusap keringat yang membasahi kening Laura, tapi salah satu tangannya tidak berhenti meremas buah pepaya milik istrinya.
"Jangan merintih terus, sesekali mendesaahh lah!" Ujar Remon.
Mendengar teguran seperti itu tentu saja membuat Laura merasa sangat malu.
"Aku....!!" Tiba-tiba saja wanita ini merasakan sesuatu yang sangat bergejolak dalam dirinya.
Laura merapatkan kedua kakinya, bahkan kedua tangannya erat mencengkram punggung dan pundak Remon.
Aaaarh... emmph.... wanita ini mengerang dengan tubuh yang menegang menikmati puncak yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Kejantanan Remon semakin di jepit hingga membuat pria ini semakin mempercepat gerakannya.
"Laura, kau menjepit burungku!" Ucap Remon yang juga merasakan nikmat.
Meskipun tidak ada adegan yang begitu panas, entah kenapa Remon merasa kecanduan dengan tubuh perempuan yang ia nikahi secara paksa ini.
Berulang kali melakukan hubungan suami istri malam ini, hingga larut malam baru lah Remon menyudahi permainan.
__ADS_1
"Pasti bengkak. Tapi, mau bagaimana lagi? Semua bukan salahku, yang salah burungku karena dia selalu minta nambah lagi." Ucap Remon dalam hati.
Remon memandang wajah Laura yang saat ini tengah terlelap lelah di bawah selimut tebal tanpa mengenakan sehelai benang pun.
"Rasanya beda, entah kenapa sejak kau datang ke mansion Sean, aku suka melihatmu." Ucap Remon dalam hati.
Pria ini membaringkan tubuhnya pelan-pelan agar tidak mengusik tidur Laura. Di pandangnya wanita ini sampai sendiri terlelap tidur.
Malam telah berganti pagi, Remon terbangun lebih dulu sedangkan Laura masih tidur. Pria ini sudah tampan dan wangi, ia hanya duduk di samping ranjang menunggu istrinya bangun.
"Tidur aja cantik. Haduh, kalau seperti ini caranya aku ya jatuh cinta." Ucap Remon dalam hati.
"Pagi istriku!" Ucap Remon dengan senyum lebarnya. Bahkan pria ini sok akrab.
"Hidih... kamu pasti kesambet!" Ujar Laura seketika memudarkan senyum Remon.
Remon menghembus nafas kasar kemudian pria ini membuka tirai.
"Bangun dan mandilah, aku sudah menyiapkan air hangat untukmu!" Ujar Remon yang tiba-tiba menggendong Laura menuju kamar mandi karena Remon paham jika Laura pasti tidak bisa melangkah sekarang.
__ADS_1
Mulut Laura terasa di kunci tidak bisa membantah permintaan suaminya ini.
"keluar sana!" Usir Laura.
"Hanya ingin melihatmu mandi, apa salahnya?"
"Keluar...!" Sekali lagi Laura mengusir. "Meskipun kau suamiku dan kita sudah melakukan hubungan suami istri, tapi tetap saja aku merasa malu." Jelas Laura.
"Tapi aku mencintaimu sekarang!" Ucap Remon membuat Laura tertawa. "Kenapa tertawa?" Tegur Remon cemberut.
"Tiba-tiba bilang cinta, dasar modus! Cepat keluar...!!"
Remon mendengus kesal, mau tidak mau pria ini akhirnya keluar dari kamar mandi.
"Apa Sean seperti ini saat dengan Amara dulu? Ah, gila..! Bisa-bisanya aku mencintai Laura hanya karena tadi malam. Tapi, kok dia masih perawan? Aneh...!"
Remon kembali memikirkan hal tersebut. Otaknya terasa beku tidak bisa berpikir sekarang yang ada hanya mengingat nikmatnya tadi malam.
"Ternyata Sean benar, bercinta dengan pasangan halal jauh lebih nikmat dari pada makan di luar." Ucap Remon yang baru sadar.
__ADS_1