
"Sabarlah, semua akan baik-baik saja." Ucap Leon yang berusaha menenangkan Sean.
"Aku akan membunuh bajingan itu dengan tanganku sendiri." Ujar Sean dengan mata merah penuh amarah.
Tak berapa lama, Remon datang menyusul ke rumah sakit.
"Apa kau sudah menangkap bajingan itu?" Tanya Sean dingin.
"Ya, James dan Daren sudah membawanya ke markasmu!" Jawab Remon.
"Siapa yang sudah berani menembak istriku?"
"Maaf aku, Sean. Dia adalah anak buahku yang telah berkhianat pada geng mafiosi." Jawab Remon yang sebenarnya takut juga pada Sean.
Bug..... buku lima itu meninju dinding keras rumah sakit. Sean sama sekali tidak merasakan sakit di kelima jarinya meskipun berdarah.
"Garvin. Bajingan itu ingin bermain dengan aku." Ucapnya dengan suara menekan.
Suasana semakin tegang, setelah menunggu kurang lebih lima puluh menit, dua orang Dokter dan dua perawat keluar dengan membawa bayi mungil berjenis kelamin laki-laki yang berada di dalam incubator.
"Anakku," ucap Sean yang langsung menghampiri anaknya.
Sangat kecil sekali bahkan lebih besar lengan Sean dari pada anaknya sendiri.
__ADS_1
"Maaf tuan, kami harus membawa anak tuan ke ruang rawat khusus." Ucap salah satu Dokter.
"Tolong berikan yang terbaik untuk anakku," pinta Sean dengan kedua mata berkaca-kaca.
Hanya bisa menyentuh kaca yang menjadi pembatas, Sean tidak bisa memeluk anaknya yang memiliki berat badan tidak sampai dua kilo.
"Sean, jangan menangis. Ayo cepat masuk, Amara harus melakukan operasi lagi." Ujar Leon mengingatkan.
"Tolong perintahkan semua orang melakukan pengaman lebih ketat lagi di rumah sakit ini." Pinta Sean pada Remon.
Remon hanya mengangguk, hati pria ini tiba-tiba saja melunak iba saat melihat bayi mungil tadi.
Sean dan Leon pun masuk ke dalam ruang operasi sedangkan pak Pet dan Remon menunggu di luar.
"Aku tidak bisa...!" Ucap Sean yang tidak sampai hati merobek kulit istrinya dengan pisau operasi.
"Ayolah Sean, kau pasti bisa. Demi Amara dan anakmu," ujar Leon.
"Aku gila....!" Seru Sean. "Aku benar-benar gila sekarang. Dalam waktu tidak terduga, istriku harus merasakan dua kali di operasi dalam sehari. Aku tidak bisa Leon...!" Ucap yang tiba-tiba merasa lemas.
"Anggap saja Amara bukan istrimu melainkan pasienmu. Sean, cepatlah. Apa kau ingin melihat Amara mati?"
Sean tidak menangapi, pria ini justru menangis sambil di lantai.
__ADS_1
Plak..... Leon menampar wajah Sean, mengingatkan pada pria itu jika nyawa Amara dalam bahaya.
"Ayo cepat lakukan sekarang, Sean!" Pinta Leon yang sudah emosi. "Jika tidak, biarkan Dokter yang lain melakukannya."
Sean mengusap air matanya lalu berkata. "Tidak, biar aku saja!"
Pria ini kembali bangkit, segara melakukan persiapan untuk membedah istrinya.
Berulang kali Sean menarik ulur nafasnya sebelum ia melakukannya. Dengan hati yang mantap, pada akhirnya Sean di bantu Leon dan beberapa Dokter langsung melakukan operasi pengangkatan peluru yang bersarang dekat jantung.
Di luar, pak Pet tiba-tiba saja menangis sampai membuat Remon kebingungan.
"Hai, kenapa anda menangis?" Tanya Remon yang merasa heran.
"Semoga Nyora selamat dan sehat." Jawab pak Pet.
"Siapa Nyora?" Tanya Remon lagi.
"Nyonya Amara. Panggilan Amara kalau di mansion."
"Kalian semua aneh!" Seru Remon.
"Meskipun Nyora seperti itu, tapi berkah dia tuan Sean memiliki banyak perubahan." Ucap pak Pet membuat Remon terdiam.
__ADS_1