
Setelah berjibaku selama beberapa jam, akhirnya Sean berhasil mengeluarkan satu butir peluru yang bersarang di tubuh istrinya.
Ketegangan yang semula menyerang Sean, tapi sekarang ia bisa bernafas lega hanya saja ia tidak tega melihat istrinya harus di tidurkan dalam keadaan miring.
"Kau berhasil," ucap Leon seraya menepuk pundak Sean.
"Terimakasih telah membantuku. Kalian, tolong pantau terus keadaan istriku sampai kondisinya kembali normal. Aku ingin melihat anakku." Ujar Sean yang sudah gelisah memikirkan anaknya.
Pria ini keluar dari ruangan operasi, ternyata Remon dan pak Pet masih setia menunggu di luar sana.
"Bagaimana operasinya?" Tanya Remon yang khawatir.
"Berhasil." Jawab Sean singkat. "Dengan peluru yang sama aku akan membunuh Garvin." Ucapnya kembali emosi.
Kemudian Sean berlalu begitu saja. Langkah lebarnya menuju lantai tiga tempat dimana anaknya di rawat.
Melihat kedatangan Sean, dua orang Dokter dan perawat yang di tugaskan menjaga anaknya langsung berdiri.
"Bagaimana kondisi anakku?" Tanya Sean.
__ADS_1
"Baik-baik saja tuan, tapi sekarang kita membutuhkan asi. Kita butuh donor asi, sekarang." Ujar Dokter yang bernama Melani.
Sean memijat keningnya yang terasa nyeri, rasa ngantuk dan letih hanya bisa ia tahan.
"Tolong carikan asi untuk anakku. Lakukan yang terbaik," pinta Sean sambil melihat-lihat anaknya yang sangat kecil mungil.
"Baik, tuan!"
"Kalian tunggu diluar, aku ingin sendiri di sini." Ujar Sean.
Kedua Dokter dan perawat tersebut bergegas keluar dari ruangan.
Sean membuang nafas kasar, ingin sekali ia menggendong dan memeluk anak yang selama ini ia tunggu kelahirannya.
Manis sekali wajah mungil yang tertidur begitu lelap itu. Wajahnya sangat mirip dengan Sean sampai membuat pria ini meneteskan air mata.
"Andai mommy mu sadar, pasti dia akan marah besar sebab wajahmu sangat mirip dengan Daddy." Ucap Sean yang mengajak anaknya bicara.
Setelah beberapa saat berada di sana, Sean pun keluar karena ia harus memantau keadaan istrinya sekarang.
__ADS_1
Setelah di rasa keadaan istri dan anaknya baik-baik saja, Sean meminta pada pak Pet dan Daren juga Lindu untuk bergantian menjaga istri dan anaknya sedangkan ia harus pergi sekarang.
Pergi ke markas, hal pertama yang di lakukan Sean adalah menemui beberapa orang yang di tangkap Remon saat menghadang Sean dan Amara beberapa hari yang lalu.
Berbaris rapi dengan tangan dan kaki terikat, mereka mohon pada Sean untuk di bebaskan bahkan mereka ingin menjadi anak buah Sean.
"Seret bajingan itu ke sini...!" Titah Sean pada Dampo.
Tanpa banyak bicara, Dampo langsung menyeret pria yang sudah berani menembak Amara tadi siang di restoran.
"Dia sama seperti kalian," ucap Sean memberitahu. "Dia telah berani mencelakai istriku." Imbuhnya yang langsung menghajar pria tersebut dengan sekuat tenaga.
Kata ampun sudah tidak Sean pedulikan lagi, di hadapan semua orang, Sean menyiksa pria tersebut bahkan pria ini tanpa ampun langsung menebas tangan pria tersebut sampai putus.
Ceceran darah mengalir di mana-mana, rintihan kesakitan memekik telinga. Di hadapan semua anak buah Garvin, dengan kejam Sean mencongkel bola mata pria tersebut sampai ia menjerit kesakitan. Sean benar-benar menyiksanya tanpa ampun, setelah di rasa puas, Sean menembak tepat di kepala pria tersebut sampai mati.
Sungguh menggelikan dan mengerikan, semua anak buah Garvin berlutut di bawah kaki Sean memohon ampun karena mereka tidak menyangka jika orang yang ingin mereka hancurkan ternyata sangat kejam.
"Dampo, perintahkan kepada anak buahmu untuk mencincang bajingan ini lalu berikan pada aligator peliharaanku." Titah Sean semakin membuat bulu kuduk mereka merinding ketakutan.
__ADS_1
"Baik, tuan!" Jawab Dampo.
Dampo pun bergegas menyeret mayat pria yang sudah berani menembak Amara ke salah satu ruangan eksekusi.