Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 40


__ADS_3

Sambil memakan kepiting yang di pesan langsung oleh Sean di salah satu restoran mewah di negara tersebut, Amara menonton drama dari negara K yang sangat populer sekarang.


"Oh, manisnya...!" Ucap Amara yang makan kepiting sambil melihat pria tampan di dalam televisi.


"Masa iya dagingnya sangat manis?" Tanya Sean yang tidak di izinkan untuk mencicipi kepiting tersebut.


"Bukan kepitingnya yang manis. Pria tampan di dalam sana sangat tampan," jawab Amara memperjelas.


"Bisa-bisanya kau memuji laki-laki di depan suami mu? Memang mau pecah ini televisi," ucap Sean yang tidak terima kemudian pria ini keluar dari kamar.


Tak berapa lama Sean masuk ke dalam kamar sambil membawa linggis.


"Beraninya menyentuh televisi ini, aku akan pergi sejauh mungkin." Ancam Amara.


Sean menghela nafas panjang kemudian meletakan linggis tersebut pelan-pelan di lantai.


"Sayang, kau tidak pernah memuji diriku. Sesekali pujilah suami mu ini," Pinta Sean penuh harap.


"Ajak aku makan kebab di Turki." Pinta Amara sekali lagi.


"Pasport mu masih dalam proses. Sabarlah sebentar," jawab Sean kemudian duduk di samping istrinya. "Hasil kita bercocok tanam akhir tumbuh juga ya." Ucap Sean sambil mengusap perut istrinya.


"Akhir-akhir ini aku tidak bisa mengontrol diri ku, entah kenapa ada dorongan di dalam hati ku yang begitu kuat jika aku sedang menginginkan sesuatu."


"Kemungkinan besar bawaan bayi kita. Apa yang aku impikan bisa aku dapatkan dari mu, Amara." Ucap Sean terdengar serius.


"Maksud mu, anak?" Tanya Amara memperjelas.


"Ya, sudah lama aku menginginkan seorang anak."


Amara hanya tersenyum sambil menikmati kepiting besarnya. Rasanya kehidupan Amara sekarang sudah jauh lebih baik bahkan apa pun yang dia minta selalu di kabulkan oleh Sean.


Pintu kamar Sean dan Amara di ketuk, ternyata Daren datang untuk memberitahu sesuatu pada Sean.


"Cepat katakan!"


"Mata-mata kita memberitahu jika Remon dan Roland akan melakukan transaksi mobil mewah mereka R. Mobil tersebut ilegal, harganya mencapai seratus delapan puluh empat miliar. Apa tuan tertarik untuk menggagalkannya?" Tanya Daren.


"Remon ya....?" Sean berpikir sejenak. "Dari mana Roland mendapatkan mobil itu?" Tanya Sean penasaran.


"Dari seorang pengusaha dari negara A yang katanya bangkrut dan pindah ke negara ini. Tapi, jika dia bangkrut kenapa mobil tersebut dijual ilegal?"


"Hem, aku mengerti. Apa pun tentang Remon, aku pasti akan menggagalkannya." Ucap Sean kemudian tertawa.

__ADS_1


"Menggagalkan apa?" Tanya Amara yang baru saja keluar. "Sayang, ikut....!" Rengek Amara.


"Sayang, kau sedang hamil. Tidak mungkin aku mengajak mu melakukan hal yang berbahaya," kata Sean yang menolak permintaan istrinya.


"Kau sudah tidak sayang lagi pada ku. Aku benci pada mu," ucap Amara merajuk kemudian langsung masuk ke dalam kamar dan menguncinya.


Sean memijat keningnya yang tak terasa nyeri.


"Sungguh menguji kesabaran ku," ucap Sean dengan suara yang pelan.


"Maklum tuan, bawaan bayi ya seperti itu." Jawab Daren.


"Apakah semua bayi sangat usil?"


Daren mengangkat kedua bahunya kemudian pergi dari sana.


Untung saja Sean selalu mengantongi kunci cadangan, jadi pria ini bisa bebas keluar masuk kamar.


"Marah.....?" Ucap Sean singkat. "Kau sedang hamil, Amara. Aku tidak ingin kau kenapa-kenapa."


"Aku hanya ingin ikut, apa salahnya sih?"


Sean menghela nafas panjang.


"Mendoakan aku mati kah?" Tajam tatapan mata Amara.


"Bukan mendoakan. Intinya kau tidak boleh ikut!"


"Oh.....!"


Amara menjauh dari Sean, raut wajahnya cemberut tidak ingin bicara pada suaminya. Sekali lagi Sean hanya bisa menggaruk kepalanya tak gatal.


"Sayang, aku harus pergi sebentar. Tidak apa-apa kau marah yang penting kau selamat."


Tanpa menunggu jawaban dari istrinya, Sean kemudian pergi untuk mengecek kinerja para anak buahnya.


Keesokan harinya, saat sarapan Amara masih bersikap sama seperti semalam yang tidak ingin menegur suaminya.


"Sayang, aku ada meeting pagi ini setelah itu makan siang bersama klien. Istirahat yang banyak, jangan lupa minum obat dan Vitamin mu."


Masih sama, Amara tidak mau menyahut. Bahkan di saat Sean mencium keningnya pun, ia tampak acuh.


"Sindu, ayo ikuti bajingan itu. Entah kenapa hati ku tiba-tiba saja merasa tidak enak!"

__ADS_1


"Baik nona....!"


"Jika kau melapor pada tuan mu, aku akan menembak batang leher mu!" Ancam Amara.


Melewati jalan pintas, Amara dan Sindu mengikuti Sean. Hal yang sangat menyebalkan bagi Sindu, duduk diam di dalam mobil tanpa melakukan apa pun.


"Makanlah camilan ini," tawar Amara. "Hidup mu sangat membosankan, minimal tersenyum atau tertawa biar ramai."


Sindu tidak menjawab, tentu saja hal ini membuat Amara jengkel.


Satu jam dua jam sampai pada akhirnya jam menunjukkan pukul sebelas siang.


"Nona, tuan sudah keluar!" Ujar Sindu memberitahu.


Lebar mata Amara saat melihat suaminya keluar dengan menggandeng seorang perempuan cantik. Sindu langsung menelan ludahnya kasar, ia yakin setelah ini akan ada perang besar-besaran yang lebih parah melawan musuh.


"Kita pulang saja ya, nona!" Ajak Sindu.


"Tidak, ikuti mereka!" Titah Amara yang penasaran.


Tidak bisa membantah, mau tidak mau Sindu mengikuti mobil Sean dari kejauhan agar tidak ketahuan. Sebenarnya Sindu sudah mengirim pesan pada Sean jika Amara sedang mengikutinya, tapi entah kenapa Sean tidak membuka ponselnya.


Di sebuah restoran mewah bahkan Amara sendiri belum pernah di ajak suaminya makan di tempat seperti ini. Amara masuk ke dalam restoran seorang diri sedangkan Sindu sibuk menelpon Sean, tapi tetap saja tidak di angkat.


Amara bisa melihat dengan jelas jika perempuan itu terus menempel pada suaminya. Panas hati Amara, terbakar matanya menahan cemburu. Dengan beraninya Amara melangkah maju lalu duduk di meja yang berada tepat di depan meja Sean. Sean yang melihat istrinya langsung terkejut.


"Pelayan.....!" Amara melentikkan jarinya untuk memanggil pelayan restoran. "Aku mau semua makanan yang ada di tempat ini. Semua, tidak pakai lama. Yang bayar, suamiku yang sedang duduk di belakang bersama perempuan itu."


Sengaja Amara meninggikan suaranya. Sean yang ingin menghampiri istrinya terus di tahan oleh perempuan tersebut bahkan perempuan tersebut malah memeluk lengan Sean.


"Lepaskan aku, istri ku ada di depan!" Sean berusaha melepaskan diri.


"Kau sudah janji ingin makan siang bersama ku. Aku tidak peduli jika ada istri mu, biarkan saja dia!"


Sean melepas paksa tangan perempuan itu kemudian menghampiri Amara, tapi Amara yang mengetahui hal tersebut langsung beranjak pergi.


Sean ingin mengejar, tapi ia langsung di tahan oleh pelayan yang sejak tadi memperhatikan mereka.


"Maaf tuan, makanan yang sudah di pesan tidak bisa di batalkan. Tuan harus tetap membayar!"


"Astaga, kirim tagihannya ke perusahaan ku!" Ujar Sean kemudian mengeluarkan selembar kartu namanya.


"Sean,....!" Panggil perempuan tersebut tapi tidak di hiraukan oleh Sean.

__ADS_1


__ADS_2