
"Aku suka wanita cantik." Ucap Remon dengan suara beratnya.
"laki-laki gila...!" Hardik Laura. "Tidak mengaku sudah mencuri keperawananku." Ucap Laura yang marah.
"Untuk masalah itu, aku serius. Aku juga tidak tahu kenapa aku dan kamu bisa berada di satu kamar yang sama?"
"Pembohong!" Seru Laura.
Remon menghembuskan nafasnya kasar, pria hanya diam saja. Tapi, semakin ia pandang semakin cantik wajah Laura hingga membuat belut di dalam celananya berkedut.
Remon sudah tidak peduli, pria ini langsung memeluk Laura. Hasrat birahinya tiba-tiba saja bergemuruh di dada terlebih lagi sudah lama ia tidak menikmati tubuh seorang wanita.
"kau istriku sekarang, sekeras apapun kau melawan, kau harus tetap melayani aku." Ucap Remon yang langsung menindih tubuh Laura di atas ranjang.
Ingin sekali Laura berontak, tapi apa yang di katakan oleh Remon barusan semuanya benar. Mau tidak mau, Laura tetap melayani nafsu pria yang telah menjadi suaminya ini.
__ADS_1
Remon merobek pakaian yang di kenakan Laura kemudian membuangnya sembarangan. Remon mencumbu di setia bagian yang ia suka. Laura yang belum pernah merasakan hal seperti ini, tidak munafik juga, Laura merasakan jika tubuhnya tidak menolak.
Eeeemph.... lenguh Laura terdengar begitu manja di telinga Remon.
"Kau sudah basah, istriku!" Bisik Remon membuat Laura merinding.
Tidak mau membuang waktu, Remon yang sudah tidak tahan bersiap-siap untuk menumbukkan alu miliknya ke dalam lesung yang sedikit berbulu tebal.
"Jangan, aku belum siap!" Ujar Laura menahan.
"Diamlah!" Sentak Remon.
Bug.... aaaarh... rintih Laura saat Remon menabrakkan batang kerasnya ke dalam lubang Laura.
"Loh, kok nggak masuk? kok nggak ada jalan?" Batin Remon yang merasa heran.
__ADS_1
Semakin penasaran pria ini, ia mencoba sekali lagi meskipun cakaran dari kuku Laura terus melukai tubuh bagian belakangnya.
Sekali dua sampai tiga kali hentakan tidak masuk juga. Rintihan perih memekik di sudut ruangan, tapi Remon yang masih penasaran terus mencoba memasukan burung unta miliknya ke dalam sangkar.
Jleb.... tiba-tiba saja di tabrakan yang keenam, kejantanan milik Remon berhasil masuk. Mata pria ini melebar, ditatapnya wajah Laura yang saat ini tengah mengigit bibir bawahnya menikmati rasa perih di **** *************.
"Dia masih perawan?" Batin Remon. "Kok bisa? Bukankah kemarin aku tidur dengannya? Hah, bagaimana sih ini?" Untuk beberapa saat Remon terdiam, pria ini justru sibuk bergulat dengan pikirannya.
Segera Remon membuat pikirannya jauh-jauh, ada yang berkedut di bawah sana minta di goyang. Sedangkan Laura masih sibuk menangis. Tidak peduli, Remon memulai aksinya dengan menggoyangkan pinggulnya begitu lembut.
"Tidak akan sakit, percayalah padaku. Hentikan tangisanmu!" Ujar Remon yang mengusap air mata Laura.
Laura memukul lengan Remon, mencubitnya tapi tetap saja Remon tidak peduli. Semakin ia menggoyang, perlahan pukulan dan cubitan itu berubah menjadi remasan seperti orang yang sedang menahan kenikmatan.
Suara tangisan pun berubah menjadi lirih kenikmatan. Remon tersenyum tipis melihat ekspresi Laura yang tiba-tiba saja berubah penuh nafsu.
__ADS_1
"Dia masih polos ternyata!" Batin Remon. "Gila aja dapat perawan. Sempit dan menggigit." Ucapnya dalam hati.
Meskipun Remon penasaran kenapa Laura masih perawan? Tapi semua rasa penasarannya di kalahkan dengan hawa nafsunya sekarang.