Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 42


__ADS_3

Sudah satu minggu Sean dan Amara tidur di kamar terpisah. Begitu betahnya Amara tidak bertegur sapa dengan suaminya. Sedangkan Sean sudah seperti orang gila saat di perlakukan seperti ini oleh istrinya.


Contohnya seperti pagi ini, Sean keluar dari kamar sambil merangkak seperti orang yang sedang sakit. Pak Pet yang kebetulan lewat merasa syok saat melihat tuannya seperti ini.


"Tuan kenapa?"


Pak Pet berusaha membantu Sean berdiri.


"Perut ku mual, kepala ku sangat pusing dan tubuh ku bergetar. Pak Pet, tolong aku!"


Seumur hidup, baru sekarang Sean merasakan sakit yang seperti ini. Amara yang melihat dari atas tangga hanya memandang datar tanpa rasa khawatir.


"Sayang, tolong aku!" Ucap Sean dengan mengulurkan salah satu tangannya.


Amara acuh, perempuan ini malah berlalu begitu saja. Semakin mual, Sean hendak memuntahkan isi perutnya sekarang. Di bantu pak Pet, pria ini pergi ke kamar mandi.


Pak Pet juga memerintahkan Daren untuk menghubungi Dokter pribadi untuk mengecek kondisi tubuh Sean.


Lewat jalan pintas, tak sampai setengah jam, Dokter yang bernama Noel datang ke mansion dan langsung memeriksa Sean.


"Sehat, tidak kenapa-kenapa. Apanya yang serius?" Pertanyaan Noel membuat mata Sean melebar.


"Sejak pagi buta aku muntah-muntah sampai usus ku mau keluar dan kau masih bisa bilang jika aku baik-baik saja?" Sean bertanya dengan nada tinggi. Pria ini tiba-tiba saja kembali segar seperti biasanya.


"Kalau begitu, periksalah dirimu sendiri. Kau seorang Dokter juga kan?"


"Bajingan satu ini...!" Umpat Sean kesal.

__ADS_1


"Tapi benar, tuan tadi sampai merangkak keluar dari kamar. Bahkan aku sendiri yang mengantar ke kamar mandi tadi," ucap pak Pet yang merasa heran. Meskipun pak Pet seorang duda, tapi ia tidak memiliki anak.


Noel yang merasa di kerjai oleh Sean memutuskan untuk pulang. Sean dan pak Pet pun merasa heran.


"Di mana istriku?" Tanya Sean pada pak Pet.


"Pergi bersama Sindu. Katanya istri tuan ingin makan bubur seafood pagi ini." Jawab Pak Pet.


"Amara, bisa-bisanya dia pergi tanpa aku!" Ucap Sean geram. Pria ini langsung menyusul Amara karena takut terjadi apa-apa pada istrinya.


Mengemudi dengan kecepatan tinggi, Sean terus memikirkan istrinya. Meskipun Amara sedang marah sekarang, tapi tetap saja Sean tidak ingin istri dan calon anaknya kenapa-kenapa-kenapa.


Sean masuk ke dalam kedai yang menjual aneka macam bubur berbagai rasa. Di lihatnya Amara sedang duduk sendiri di meja yang paling pojok. Kedai sangat sepi karena memang sekarang sedang hujan lebat.


"Kenapa pergi sendiri hem?" Tanya Sean tanpa basa basi. "Jika ada orang jahat mencelakai mu, bagaimana?"


"Amara, aku bertanya pada mu. Mau sampai kapan kau bersikap seperti ini?"


"Sampai kau menceraikan aku!" Jawab Amara tegas.


"Beraninya kau...!" Sean menahan emosinya.


"Aku tidak bisa hidup dengan orang seperti mu. Aku sudah berusaha mengerti dunia mu, tapi aku tidak bisa mengerti masalah kemarin."


"Kenapa kau tidak bisa memakluminya?" Tanya Sean membuat Amara tertawa. "Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai."


"Kau merusak selera makan ku!" Ucap Amara kemudian beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Amara langsung menggandeng tangan Sindu di depan Sean. Sean yang melihat hal tersebut langsung panas dan mengejar istrinya yang sudah masuk ke dalam mobil.


"Sindu benar-benar cari mati." Ucap Sean kemudian mengejar mobil Sindu.


Sindu, pria ini benar-benar tegang sekarang. Pria ini harus siap tenaga karena sudah pasti ia akan di hajar oleh Sean nanti.


Kembali ke mansion, Amara yang masih marah hanya karena suaminya menggandeng perempuan lain. Tentu saja marah apalagi Sean belum pernah mengajak Amara pergi ketempat seperti itu.


"Lepas....!" Sean menepis tangan Leon saat pria ini hendak masuk ke lift mengejar istrinya yang sudah naik ke lantai tiga.


"Apa lagi sekarang?" Tanya Leon yang kesal. "Kenapa kau tidak bisa mengontrol dirimu untuk Amara?"


"Dia meminta cerai dari ku hanya karena aku menggandeng perempuan itu padahal aku tidak melakukan apa pun."


"Wajar, hubungan mu dengan Amara bukan atas dasar suka sama suka melainkan dia mencintai mu hanya karena kau sudah mengikat dia ke dalam hidupmu. Sean, sudah ku bilang beberapa kali untuk meliburkan diri dari segala aktifitas apa pun." Tutur Leon panjang lebar.


"Ternyata mengurus perasaan wanita lebih rumit dari pada aku harus membunuh musuh!" Sahut Sean mulai kesal.


"Uang mu memang banyak tapi kau tidak bisa membuat pasangan mu hidup dengan bebas seperti pasangan lainnya. Jika aku menjadi Amara, lebih aku kabur dari mu!"


"Beraninya kau...!" Teriak Sean semakin kesal.


"Tiket kalian, ajak Amara pergi besok. Jika kau tidak mau, biar aku saja yang mengajak istri mu pergi."


"Cobalah, maka aku akan membuat mu menderita seumur hidup sampai kau mati." Ancam Sean.


Leon hanya terkekeh mengejek, pria ini kemudian pergi sedangkan Sean kembali menyusul istrinya yang sudah masuk ke dalam kamar. Lift hanya di gunakan saat terdesak saja contohnya seperti sekarang.

__ADS_1


__ADS_2