Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 47


__ADS_3

Mata Amara terbelalak saat ia melihat suaminya membuka sebuah pintu di atas tanah. Tak sampai mengeluarkan suara, Sean langsung mengajak istrinya untuk turun ke bawah.


Hanya beberapa anak tangga, mata Amara di suguhi pemandangan yang sangat luar biasa. Ternyata, di tengah danau yang berisi buaya ini terdapat sebuah ruangan yang berukuran besar dengan segala fasilitas yang sangat lengkap seperti di mansion.


"Tempat apa ini?" Tanya Amara kagum.


"Tempat persembunyiannya jika suatu waktu mansion di serang." Jawab Sean.


"Tapi, kenapa harus di sini?"


"Orang bodoh hanya akan menganggap danau ini sarang buaya. Tapi, mereka tidak akan pernah tahu jika ada tempat tersembunyi di dalamnya."


"Pasti banyak setannya." Ucap Amara langsung memeluk lengan suaminya.


"Tidak ada setan!" Sahut Sean.


"Pasti banyak hantu di tempat ini secara anak buah mu suka membuang mayat di sini. Aku gak mau!" Tolak Amara membuat Sean harus menarik nafas panjang. "Ayo pulang, aku gak mau di tempat ini." Amara menarik tangan Sean.


"Belum juga mengajak mu berkeliling." Ujar Sean.

__ADS_1


"Malam rabu, adalah malam jatah. Apa kau ingin tidur dalam keadaan kosong malam ini?" Ancam Amara membuat Leon dan Daren tertawa tapi tidak dengan Sean yang menahan malu.


Mau tidak mau Sean mengajak istri pulang, tapi sebelum itu mereka mampir ke markas untuk melihat keadaan keluarga Amara yang sampai sekarang masih di sekap.


Amara terkejut melihat keadaan Selena dan Marta yang sangat menyedihkan. Tubuh kurus kering bahkan Amara tidak melihat wajah yang selalu di agung-agungkan kecantikannya oleh Selena.


"Kau tidak kasihan pada mereka?" Tanya Sean.


"Kenapa aku harus kasihan?" Amara balik bertanya sampai Sean sendiri bingung ingin mengatakan apa lagi.


"Lepaskan kami, Amara." Pinta Selena memohon.


"Perempuan iblis...!!" Seru Marta dengan keadaan lemah.


"Aku belajar dari mu, wahai nyonya Marta." Sahut Amara kesal.


Amara tidak peduli, perempuan ini melanjutkan langkahnya untuk melihat Darwin yang hampir setiap hari menjadi bahan pukulan anak buah Sean.


"Hai, saudara tiri ku." Sapa Amara. "Terimakasih sudah menjual ku di atas meja judi." Ucap Amara dengan tawa sinisnya. "Berkat kau, sekarang hidupku sangat enak." Imbuhnya.

__ADS_1


Darwin tak bisa menjawab bahkan saat Amara menginjak telapak tangannya yang keluar dari jeruji besi pun hanya di tahan dengan rintihan kecil.


Sean memijat keningnya nyeri, entah kenapa semakin hari sikap Amara semakin berubah menjadi kejam seperti ini.


"Sayang, aku lelah. Ayo pulang!" Ajak Amara merengek.


"Kita bicara dulu di ruangan ku." Ujar Sean.


Mau tidak mau Amara harus ikut bersama suaminya. Ada Daren dan Leon, hanya mereka berempat di sana.


"Bicara apa?" Tanya Amara.


"Masalah racun, sepertinya kau orang yang cocok untuk masuk ke dalam keluarga Raul." Ucap Sean yang terpaksa meminta bantuan pada istrinya.


"Kenapa aku harus masuk ke dalam keluarga mereka? Oh, bukan. Maksudnya rumah mereka. Kenapa kau tidak membuka cafe atau kedai nongkrong di dekat kampusnya? Bukankah kau bilang di masih kuliah?"


Baik Sean maupun Leon dan Daren, ketiga pria ini hanya bisa menghela nafas panjang. Sejak Amara hadir dalam kehidupan mereka, entah kenapa mereka semua mendadak bodoh.


"Kalau hanya untuk membuka sebuah cafe, itu sangat gampang. Tapi, jika sampai hal itu terjadi, Raul pasti akan menyelidikinya."

__ADS_1


"Ah, itu masalah gampang. Kita bisa mengadu domba sesama mereka." Ucap Amara benar-benar di luar dugaan. Entah mendapatkan ide dari mana yang jelas saat Amara menjelaskan ide nya, ketiga pria ini langsung setuju.


__ADS_2