Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 76


__ADS_3

Keduanya keluar dari kamar secara bergantian karena takut jika ada yang melihat. Ternyata semua orang sudah kembali mansion sejak pagi buta yang lalu. Semua orang di mansion bersikap biasa saja, meskipun Rachel masih kebingungan mencari keberadaan Laura.


"Rachel, di mana Laura? kenapa dia tidak terlihat sejak kemarin?" Tanya Amara yang pura-pura tidak tahu.


Rachel menggaruk kepalanya tak gatal, wanita ini bingung ingin menjawab apa sekarang.


"Saya ada di sini, Nyora!" Jawab Laura dari arah pintu. Seketika Rachel bisa bernafas lega.


Laura pun masuk ke dalam menghampiri Amara.


"Hai, Laura. Apa kau menangis? kenapa?" Tanya Amara yang kembali pura-pura tidak tahu.


Laura memaksakan senyumnya lalu menjawab. "Tidak, Nyora. Saya hanya kurang tidur tadi malam!"


Amara manggut-manggut tanda mengerti. Tak lama, Remon juga masuk dari arah pintu utama.


"Hai ikan Salmon, menghilang semalaman. Suamiku terus mencarimu!" Ucap Amara yang pura-pura kesal.


"Berisik...!!" Sahut Remon yang langsung masuk ke dalam kamarnya. Laura hanya melirik, hatinya sebenarnya sakit melihat Remon tapi wanita ini tidak bisa mengungkapkannya.


Amara pun kembali ke kamarnya, membiarkan Rachel dan Laura beristirahat.


"Laura, kau dari mana saja semalaman? Aku mencarimu!" Rachel mulai bertanya kemana perginya Laura tadi malam.

__ADS_1


Laura diam, wanita ini bingung ingin menjawab apa.


"Laura, ayo dong jawab. Kau ini sebenarnya kenapa?" Tanya Rachel yang penasaran.


"Tidak kenapa-kenapa. Tadi malam aku ketiduran di atas atap." Bohong Laura. "Niat hati ingin mencari angin, eh malah ketiduran!"


Rachel menghembuskan nafas kasar, ada yang aneh pada Laura sekarang.


"Oh, ya udahlah. Yang penting kamu udah pulang dengan selamat." Ucap Rachel.


Rachel pun membaringkan tubuhnya karena memang hari ini mereka semua di bebaskan untuk beristirahat.


"Aku pergi ke luar sebentar!" Ucap Laura setelah memainkan ponselnya.


Bergegas Laura pergi ke labirin, tempat di mana ia sudah janjian dengan Remon.


"Malam ini kita harus bicara pada Sean. Apapun alasannya, aku akan tetap menikahimu." Ucap Remon dengan nada pelan.


"Baguslah, setidaknya aku tidak menjadi perempuan murahan yang biasa kau tiduri." Sahut Laura.


"Hai, aku sudah bertobat. Aku tidak pernah lagi tidur dengan perempuan lain." Bantah Remon yang tidak terima.


Keduanya saling berdiri saling pandang kebingungan. Saat Laura hendak menyandarkan tubuhnya di labirin, tiba-tiba saja Remon menariknya.

__ADS_1


"Jangan sembarangan menyentuh tempat ini." Ucap Remon memberitahu.


"Kenapa?" Tanya Laura yang penasaran.


"Tempat ini banyak jebakan. Hati-hati..!"


Laura hanya diam, perempuan ini percaya begitu saja karena orang seperti Sean tidak sebodoh yang ia kira.


"Nanti malam, selesai makan malam temui aku di ruang keluarga. Kita akan bicara di sana nanti malam!" Ucap Remon kemudian pria ini pergi.


Setelah Remon pergi, barulah Laura pergi juga dari sana. Tanpa mereka sadari, Sean dan Amara mengintip dari lantai tiga, lebih tepatnya dari kamar yang dulu di tempati Amara.


"Sayang, menurutmu apa yang sedang mereka bicarakan?" Tanya Amara pada suaminya.


"Tidak tahu!" Jawab Sean singkat.


"Harusnya Laura sedikit pintar, jika seseorang selesai melakukan hubungan suami istri, pasti ada sisa rasa perih. Bisa-bisanya dia nggak kepikiran sampai ke sana!" Ucap Amara yang merasa heran.


"Dia tidak sepintar kamu, udah ayo turun!" Ajak Sean.


"Gendong!" Rengek Amara.


Tidak membantah, Sean pun menggendong istrinya. Meskipun ada lift, tapi Amara memilih lewat tangga.

__ADS_1


__ADS_2