
Pagi yang sangat cerah, Remon sebenarnya sudah bangun tapi pria ini masih malas untuk membuka matanya. Entah kenapa rasanya sangat nyaman sekali, Remon seperti memeluk guling yang keras tapi ada sesuatu yang kenyal saat ia meremas sesuatu.
Aaaaaaaa........ wuaaaaaaa......
Jerit Laura sembari menutupi tubuhnya menggunakan selimut. Remon yang merasa terganggu, langsung membuka kedua matanya. Pria ini langsung melompat dari atas ranjang saat melihat Laura yang berada di sampingnya.
"Kau...!" Remon menunjuk Laura. "Kenapa kau bisa ada di sini?" Tanyanya yang panik bahkan pria ini sibuk mengenakan kembali pakaiannya yang sudah kocar kacir.
"Kau sudah menodai aku!" Ucap Laura kemudian wanita ini menangis. "Bajingan....!!" Umpatnya marah.
"Aku tidak menodaimu, aku juga tidak tahu kenapa bisa aku tidur denganmu!" Ucap Remon yang benar-benar bingung sekarang.
Laura menangis sesegukan, Remon bingung harus memulai dari mana sekarang.
__ADS_1
"Hai, Laura. Jangan menangis, aku juga tidak tahu kenapa aku bisa tidur denganmu!" Ucap Remon.
"Tidak tidur denganku, kau bilang! Nyatanya tadi kau meremas buah dadaku. Dasar bajingan keparat!" Umpat Laura yang tidak terima.
Remon menggaruk kepalanya tak gatal, pria ini mengusap wajahnya kasar kemudian duduk di tepi ranjang.
"Lantas, mau mu sekarang bagaimana?" Tanya Remon yang serba salah. Baru sekarang ia begitu panik menghadapi seorang perempuan padahal selama ini ia main celup sana sini.
"Sekali pun aku belum pernah melakukan tindakan terlarang meskipun pekerjaanku seperti ini. Aku kotor sekarang," ucap Laura sambil memaki dirinya sendiri. Padahal tadi malam tidak terjadi apa pun pada mereka berdua.
Laura menurut, wanita ini memungut pakaiannya kemudian masuk ke kamar mandi. Setelah beberapa saat, Laura pun keluar dengan perasaan yang sedikit tenang.
"Apa kita minum sampai mabuk tadi malam? Terus kita masuk ke kamar yang sama?" Tanya Laura yang berpikir sangat positif sekali padahal semua ini kerjaan Sean dan Amara.
__ADS_1
"Tunggu sebentar, aku akan mengecek semua rekaman cctv yang ada di hotel ini." Ujar Remon yang bergegas pergi ke ruang cctv.
Sangat sial, setelah Remon pergi ke ruang cctv, pria ini tidak mendapatkan informasi apa pun karena semua cctv yang ada di hotel ini dalam perbaikan. Entah apa yang di perbaiki, tapi yang jelas dalam perbaikan.
"Lalu, bagaimana sekarang? Kalau aku hamil bagaimana? Aku tidak ingin hamil di luar nikah." Ujar Laura yang kembali menangis.
Remon membuang nafas kasar, pria semakin bingung sendiri dan merasa kasihan pada Laura. Remon izin ke mandi sebentar.
"Dasar burung sialan! Bisa-bisanya kau masuk ke sangkar orang tanpa permisi." Remon mengomel pada burungnya sendiri. "Selain menikahi, aku harus apa? Kalau dia ngadu sama Sean, habislah aku!"
Merasa pusing di kamar mandi, Remon memutuskan untuk kembali ke luar menemui Laura.
"Laura, besok kita akan menikah!" Ucap Remon yang sudah mantap pada keputusannya.
__ADS_1
Laura kembali menangis, hancur sudah harapan dan cita-citanya sekarang. Tapi, mau bagaimana lagi? kalau ia sampai hamil, itu akan menyulitkan dirinya di masa depan. Laura bukanlah Rachel yang suka marah-marah, meskipun ia memilik ilmu bela diri, tapi Laura memiliki sifat yang lembut.