Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 85


__ADS_3

"Sumpah, aku geli banget!" Bisik Remon pada Laura saat mereka menghadiri pemberkatan pernikahan pak Pet dan Suster Belina disalah satu gereja.


"Geli kenapa?" Tanya Laura yang keheranan.


"Sudah alot dan keriput kok mau-maunya menikah lagi. Apa lagi Suster Belina itu masih perawan."


Laura mencubit lengan Remon, meminta pria ini untuk diam.


"Kalau ada yang dengar, tidak enak. Diamlah!"


Remon menurut, pria ini kembali duduk dengan tenang tapi tangannya terus menggenggam erat tangan Laura bahkan sampai berkeringat.


Setelah acara selesai, semua orang langsung pergi ke salah satu restoran untuk makan bersama merayakan pernikahan yang sangat sederhana ini.


"Kambing bandot sudah punya pasangan, kita kapan?" Bisik Daren pada Sindu.


"Kapan-kapan kalau ketemu jodohnya!" Jawab Sindu setengah tertawa. "Gila aja. Kupikir laki-laki tua seperti pak Pet tidak ada nafsu, ternyata kalah kita yang muda ini."


Leon dan James saling pandang mendengar perkataan Pandu. Entah kenapa kedua pria ini tiba-tiba saja merasa tersinggung.


"Andai tuan Sean mencarikan aku jodoh sama seperti tuan Remon dan Leon." Batin James.


Acara makan bersama sangat ramai, entah kenapa Sean merasa puas dan bahagia melihat semua anak buahnya bisa menikmati waktu seperti ini.


"Sayang, sepertinya kau harus sering-sering mengajak semua anak buahmu makan bersama seperti ini. Lihat mereka, senang sekali." Ucap Amara.

__ADS_1


"Iya. Aku merasa bahagia melihatnya!"


Kebanggaan Sean adalah bisa menunjukkan anaknya dihadapan semua anak buahnya, anak yang akan menjadi penerus Sean. Tidak, bukan untuk kadi mafia melainkan penerus perusahaannya.


"Singa, kapan kau akan menikah?" Sengaja Amara bertanya pada Leon.


"Pertanyaanmu ini sangat menyebalkan!"


"Hai, aku serius. Jika kau tidak memiliki calon, itu Rachel jomblo!"


Leon menoleh ke arah Rachel yang duduk di samping Amara.


"Perempuan cerewet sama sepertimu, siapa yang mau?"


"Hai, jaga mulutmu! Dasar singa ompong. Sekali lagi kau mengatai aku cerewet, akan kupatahkan tulangmu!" Ancam Rachel yang tidak terima.


Leon mendengus kesal, semakin kesal saat semua orang bersorak seolah menjodohkan dirinya dan Rachel. Keduanya saling tatap penuh kebencian.


"Sayang, tiba-tiba aku ngidam ingin melihat Leon dan Rachel menikah." Rengek Amara pada suaminya.


"Amara...! Jangan mengada-ngada." Teriak Leon kesal.


Rachel hanya bisa menarik nafas panjang, wajah terasa tebal menahan malu sekarang.


"Apa mereka cocok?" Tanya Remon pada Laura.

__ADS_1


"Menurutmu apa kita cocok?" Laura bertanya balik.


"Sangat cocok, kalau tidak kenapa kau mengerang kenikmatan setiap malam?"


Laura mati ucap, wanita ini langsung memasukan makanannya kedalam mulut untuk membuang rasa malunya.


"Menjodohkan temanmu itu sepertinya bagus juga. Biar dia tidak kesepian setelah kau tinggal menikah."


"Menjodohkan dengan siapa?"


"Dengan Leon!"


"Memangnya Leon mau?"


"Kalau tidak mau, aku akan menjadikannya istri kedua biar kau ada temannya. Toh, kalian akrab!"


Panas hati Laura mendengar, wanita ini tiba-tiba saja meremas burung suaminya hingga membuat Remon terkapar di lantai. Semua orang bingung melihat Remon, tapi Laura tampak biasa saja.


"Remon, ada apa dengan dirimu?" Tegur Sean.


"Tidak kenapa-kenapa!" Jawab Remon yang langsung kembali duduk ke kursinya.


Semua orang kembali menikmati makannya masing-masing.


"Apa kau tahu ini rasanya sangat sakit?" Remon menekan suaranya.

__ADS_1


"Meskipun kita menikah secara paksa dan kau sudah menikmati tubuhku, berani menduakan aku, aku bisa saja memotong burungmu itu." Ancam Laura dengan suara sedikit menekan agar tidak di dengar orang lain.


Remon meraih tangan Laura, mengusapnya lembut sambil meminta maaf dengan senyum lebarnya.


__ADS_2