
"Untung saja hanya pendarahan ringan, janinnya cukup kuat dan keadaannya sehat." Ucap Dokter yang menangani Amara.
Mendengar hal tersebut, Sean dan Amara bisa bernafas lega. Sean juga langsung mencium kening istrinya.
"Syukurlah jika anak kita baik-baik saja. Aku harus membuat perhitungan dengan mereka semua," ucap Sean penuh dendam.
"Aku baik-baik saja, tidak usah berlebihan." Ujar Amara.
"Berlebihan katamu? Anak kita nyaris saja log out!" Jawabnya kesal.
Amara membuang nafas kasar, terserah suaminya ingin berkata apa sekarang. Sean langsung menghubungi Leon agar pria ini menahan semua orang yang sudah menyebabkan istrinya menjadi seperti ini.
Tanpa sepengetahuan Sean, tiba-tiba saja Remon dan James datang ke rumah sakit untuk melihat keadaan Amara.
"Itu, apa anakmu masih ada?" Tanya Remon yang bingung ingin bertanya seperti apa.
"Maksud Remon, bagaimana keadaan Amara?" James memperjelas karena ia takut jika Sean akan naik pitam mendengar pertanyaan dari Remon.
"Dia baik-baik saja, kenapa kau datang kemari?"
"Bukankah kau ingin bicara padaku?"
Remon memutar bola matanya malas.
"Jika di lihat-lihat Remon ini tampan juga." Ucap Amara sengaja memancing keributan.
Sean langsung menutup mulut istrinya.
__ADS_1
"Bisa-bisanya kau memuji dia hadapan suamimu sendiri. Apa maksudmu hah?" Sentak Sean yang tidak terima sedangkan Remon menahan tawanya.
"Aku hanya bercanda," ucap Amara setengah tertawa. "Bagiku, kau paling tampan dalam segala hal termasuk uang."
"Aku tunggu diluar!" Ucap Remon kemudian ia dan James keluar dari ruangan Amara.
"Sayang, ada hal yang ingin aku bicarakan dengan Remon. Tidak apa-apakan jika kutinggal sendiri?"
"Iya, tidak apa-apa. Pergilah!"
Sean mengusap wajah istrinya kemudian pria ini pergi menyusul Remon. Tidak lupa memerintah pada anak buahnya untuk menjaga ruangan istrinya.
Rumah sakit milik sendiri, Sean mengajak Remon bicara di ruangannya yang sangat jarang sekali ia kunjungi.
"Kenapa kau mengajak aku bicara empat mata seperti ini?" Tanya Remon datar.
"Lantas, apa hubungannya dengan aku?"
"Selain Leon, hanya kau yang aku percaya untuk memegang semua pekerjaan gelap kita. Remon, kau tahu sendiri posisi kita seimbang hanya saja kau lebih suka memilih jalan kotor. Aku harap kau bersedia bekerjasama denganku." Pinta Sean membuat Remon tertawa.
"Kenapa kau ingin pensiun muda?" Tanya Remon penasaran.
"Istriku sedang hamil dan dia butuh perhatian lebih." Jawab Sean membuat Remon semakin tertawa.
"Dan kau rela meninggalkan kebesaranmu hanya demi perempuan licik itu?"
"Dia bukan sekedar perempuan licik bagiku. Aku mencintai dia," ucap Sean jujur.
__ADS_1
"Jawab aku dengan jujur, sebenarnya kau yang sudah membunuh Alena, iyakan?"
Sean terdiam sejenak.
"Kau mencintai dia?" Sean bertanya balik.
"Tidak juga. Aku hanya memanfaatkan dia!" Jawab Remon tampak santai. "Bagus jika dia mati sebab dia banyak mengetahui tentang rahasiaku."
"Lalu, bagaimana dengan penawaranku?"
"Kau ingin berdamai dengan aku hanya demi istri kecilmu itu?"
"Berhenti mengatai istriku, bajingan!" Umpat Sean yang kesal.
"Ya, karena aku masih kesal pada istrimu itu." Ucap Remon dengan nada tinggi.
"Selain aku mencintai dia, dia juga berguna untukku." Sahut Sean. "Jika kau setuju, maka aku akan mengadakan pertemuan besar di hutan bagian selatan. Apa kau setuju?" Tawar Sean yang sebenarnya ia lakukan demi Amara.
"Kau tidak takut aku menyerangmu?" Goda Remon.
"Dendam pribadi kita telah selesai, Remon. Dan sekarang aku percaya padamu." Ucap Sean membuat Remon terdiam untuk beberapa saat.
"Terserah kau, Sean. Aku mau pergi....!" Jawab Remon yang tidak jelas.
"Jangan lupa, akhir minggu ini...!" Ucap Sean dengan nada yang sedikit tinggi.
Pada dasarnya Remon adalah orang baik, hanya saja ia kerap di siksa oleh ayahnya saat masih kecil, membuat pria ini sedikit dingin. Kejahatannya selama ini pun sebab hasutan dari sang ayah yang memerintah untuk bersaing dengan Sean.
__ADS_1