
"Akhirnya mereka menikah juga. Aku harap dengan adanya istri bisa membuat mereka berdua bisa berubah ke arah yang lebih baik terutama Remon."
"Kalau tidak berubah, goreng saja mereka!" Sahut Amara setengah tertawa.
"Tapi, ngomong-ngomong itu James kasihan juga nggak ada jodohnya. Sepertinya dia kepingin nikah."
"Biarkan Remon dan Leon yang mencarikan istri untuk dia. Asyik mencari perempuan malah kau sendiri nanti yang kecantol. Awas aja...!!"
"Suka sekali mengancam. Suamimu ini tidak akan menduakanmu. percayalah."
"Sudahlah menjadi istri kedua, awas saja kau menduakan aku."
"Hai, kau satu-satunya istriku. Tidak ada yang lain, sayang!"
Amara memutar bola matanya malas, perempuan ini memiliki pergi ke balkon kamar lantai tiga untuk melihat pemandangan sore. Saat ia sedang merentangkan kedua tangan tiba-tiba saja....
Dor.....
Amara yang terkejut sontak saja menjerit ketakutan. Amara langsung berjongkok sedangkan Sean langsung menarik Amara masuk kembali ke kamar.
__ADS_1
"Bajingan... Siapa yang sudah berani menyerang?"
Sean mengajak Amara untuk turun, Sean juga mengajak anaknya dan Suster Belina pergi ke ruangan tersembunyi karena Mansion mereka sudah di serang setelah itu Sean bergegas keluar.
"Apa penembak tertangkap?" Tanya Sean pada Daren.
"Belum, tapi para anak buah sudah memburu mereka." Jawab Daren.
Sean memberi kabar pada Remon dan Leon, dengan gerak cepat kedua pria itu pergi ke mansion bersama istri masing-masing.
Menjelang gelap semua anak buah Sean berkumpul untuk di absen, bahkan anak buah Remon juga termasuk dalam hitungan. Jumlahnya cukup banyak, Sean sedikit kewalahan untuk mengabsennya padahal sudah dibantu oleh Leon.
"Ada lima orang yang mengisi absen. Dimana mereka?" Tanya Sean dengan suara beratnya.
Suasana sedikit panas, Sean mulai sibuk berpikir siapa yang sudah berani menyerang ke kandangnya?
"Siapa menurut?" Tanya Sean pada Remon.
"Aku juga tidak tahu. Bukanlah setiap hari kita mendapatkan laporan jika keadaan kota aman-aman saja?"
__ADS_1
"Tapi, dimana James?" Tanya Sean yang tak melihat kehadiran James.
"James sedang menyelesaikan masalahnya dengan geng motor tidak jelas. Aku pun tidak begitu paham apa masalahnya?"
Sean mengangkat kedua alisnya kemudian berkata. "Ternyata belum selesai?"
"Kau mengetahuinya?"
"Ya. Geng motor itu menyerang cafe milik seorang gadis yang baru saja lulus sekolah. Aku kenal gadis itu, dia salah satu siswa yang mendapatkan beasiswa dariku dan akan melanjutkan pendidikan tahun depan."
Remon mengangguk, mereka bertiga pergi ke ruang rahasia untuk melihat keadaan para istri di sana.
"Sampai mereka tertangkap, jangan pernah keluar dari ruangan ini karena ada yang berkhianat. Aku hanya takut mereka bisa menyusup ke dalam mansion ini." Ucap Sean memberitahu.
"Kalian tetap hati-hati, terutama suamiku tersayang ini. Aku tidak ingin jadi janda muda." Ujar Amara membuat Sean sedikit kesal.
"Suamimu bukan pergi berperang. Kau ini ada-ada saja." Sahut Sean yang gemas sendiri pada istrinya.
"Istrimu itu memang agak lain, sudahlah pandai berakting, menipu lagi." Ujar Remon yang sampai sekarang masih belum terima jika ia pernah kalah dari tipu daya Amara.
__ADS_1
"Kau saja yang bodoh!" Hardik Amara. "Untung aku pintar, jika tidak sudah pasti aku sedang tidur di dalam tanah sekarang."
Terus berdebat, begitulah Amara dan Remon. Tidak ada yang berniat menyela perdebatan mereka, Sean sebagai suaminya pun sudah merasa lelah.