
Sean mondar mandir di depan pintu kamar sambil menggaruk kepalanya tak gatal kemudian berkacak pinggang bingung menjelaskan dari mana dulu.
Sindu, Daren, pak Pet dan Leon, keempat pria ini berbaris rapi ikut bingung memikirkan nasib rumah tangganya.
"Kenapa kau tidak memberitahuku, hah?" Tanya Sean dengan nada menekan Sindu.
"Tuan, saya sudah mencoba menghubungi tuan bahkan mengirim pesan. Tuan saja tidak merespon!"
"Amara sudah salah paham. Matilah aku," ucap Sean.
"Percayalah tuan, bertarung di arena pertarungan jauh lebih baik dari pada bertarung dengan istri." Ujar pak Pet.
"Kenapa begitu?" Tanya Sean heran.
"Kita bicara satu kata, kaum mereka pasti sudah bicara sepuluh paragraf!" Jawab pak Pet membuat Sean lesu.
Pria ini berdiri tepat di depan pintu kamar, menarik ulur nafas untuk sekedar menguatkan diri.
Tok... tok... tok...
"Sayang, buka. Aku ingin menjelaskan masalah di yang kau lihat di restoran tadi." Ucap Sean tak mendapatkan respon.
Tok... tok... tok...
Sekali lagi Sean mengetuk pintu kamarnya.
"Sayang, jika kau tidak membuka pintu ini, aku akan memenggal kepala Sindu menit ini juga!" Ancam Sean.
Ditunggu selama beberapa menit, Amara tidak membuka pintu juga. Tidak bisa masuk ke dalam kamar karena Amara dengan sengaja mengganti sandi pintu kamar mereka.
"Leon, retas pintu ini sekarang juga!" Titah Sean.
"Kenapa tidak kau saja, kamar mu sendiri, menyusahkan orang saja!" Tolak Leon mentah-mentah.
"Cepatlah!" Suara Sean melemah.
Leon membuang nafas kasar kemudian pria ini menuruti perintah Sean. Setelah di otak atik selama beberapa menit akhirnya pintu kamar terbuka juga.
__ADS_1
Sean pun bergegas masuk ke dalam kamar. Ternyata, orang yang sedang ia khawatirkan dan takuti ternyata sedang enak-enakan tidur.
"Sayang bangun...!'' Sean mengguncang tubuh istrinya.
"Sudah kenyang makannya?" Amara bersuara.
"Sayang, perempuan di restoran yang kau lihat itu bukan siapa-siapa." Ucap Sean memberitahu.
"Kalau bukan siapa-siapa, kenapa kalian bergandengan tangan? Bahkan kau mengajaknya makan siang di restoran mewah seperti itu? Aku sendiri belum pernah kau ajak ke tempat mewah seperti itu."
Sean yang pintar bicara mendadak mati ucapan di hadapan istrinya.
"Kau bilang ingin meeting dengan klien, apa jangan-jangan selama ini kau membohongiku?"
"Aku tidak membohongimu, perempuan bernama Zevani. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dia, percaya pada ku."
"Perkataan buaya darat seperti mu jauh lebih menakutkan dari pada buaya air. Pergilah, aku tidak ingin melihatmu sekarang!" Usir Amara dengan raut wajah dingin.
"Aku janji akan mengajak mu pergi ke restoran yang lebih mewah. Percaya pada ku!"
"Seharusnya menulis di dahi mu janji-janji yang selama ini kau ucapkan pada ku. Sean... !!"
"Aku hanya istri kedua, jika kau bisa mendua kenapa aku tidak bisa!" Tantang Amara membuat mata Sean melebar.
"Zevani bukan siapa-siapa. Aku sedang menyelidiki dia," ucap Sean jujur. "Perempuan itu ada tahu siapa yang sudah memperkosa dan membunuh adik ku."
"Aku sangat mengerti akan masalah mu, tapi kenapa kau tidak bisa menjaga perasaanku yang sedang hamil ini. Atau, jangan-jangan kau sengaja ingin membuat aku hamil setelah anakku lahir, kau akan menendang diriku seperti yang kau ucapkan dulu?"
"Amara... !!" Sentak Sean terdengar sampai keluar kamar.
Keempat pria di luar sana mulai penasaran apa yang sudah terjadi di dalam.
"Aku mencintaimu itu adalah kebenaran, jadi jangan coba-coba kau menguji kesabaran ku. Aku hanya ingin menyelesaikan kematian adikku. Semakin kesini kau semakin mengatur hidupku," ucap Sean dengan nada tinggi.
"Kenapa kau tidak bicara jujur padaku jika kau sedang menyelidiki masalah mu? Sebagai seorang istri yang tengah mengandung, wajar jika aku cemburu!" Sahut Amara dengan beraninya..
"Tidak semua masalah harus kau ketahui. Jika kau tidak percaya dengan apa yang aku bilang jika aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan perempuan itu ya sudah. Terserah kau yang terpenting aku ingin mengungkapkan kematian adikku!"
__ADS_1
"Oh, baiklah. Jangan mengajak ku bicara, jangan menemui aku dan kita akan tidur di kamar yang terpisah sampai masalah mu selesai. Jika kau bisa pergi dengan perempuan lain mengatasnamakan masalahmu, itu artinya aku juga bisa pergi dengan laki-laki lain atas rasa sepi ku!" Jawab Amara kemudian perempuan ini keluar dari kamar.
Amara menoleh ke arah Sindu, Leon, Pak Pet dan Daren kemudian ia naik ke lantai tiga.
Sean keluar kamar dengan wajah kusut penuh emosi.
"Cara mu salah, Sean." Tegur Leon. "Wajar jika Amara marah dan cemburu. Bisa-bisanya kau pergi menggandeng perempuan lain di saat dia sedang hamil. Terlebih lagi kau mengajaknya pergi ke tempat yang mewah, tempat yang belum pernah Amara masuki. Amara istrimu, seharusnya kau bisa bertukar cerita atau pendapat dengan dia. Aku sangat yakin kalau Amara saat ini merasa sangat sakit hati."
Sean hanya diam.
"Kau selalu ingkar janji pada Amara, jika suatu hari dia tidak mempercayai mu, salahkan dirimu sendiri."
Leon mengajak ketiga pria lainnya pergi dari sana. Membiarkan Sean berpikir tentang masalah ini.
Sean naik ke lantai tiga, pria ini kembali membujuk Amara. Tapi, nyatanya Amara tidak begitu mudah terbujuk mulut manis Sean.
Waktu pun berlalu, sudah dua hari Amara tidak menegur suaminya bahkan saat makan pun mereka terasa seperti orang asing. Begitu juga dengan tidur, Amara memilih tidur sendiri di kamar atas meskipun Sean terus membujuknya.
"Kali ini Amara marah beneran!" Ucap Sean memberitahu Leon.
"Kalau aku jadi Amara, akan ku pukul kepala mu!" Sahut Sean.
"Nalar perempuan itu sangat tinggi, dia melihat mu hanya satu kali bergandengan dengan perempuan di luar. Tapi, di pikiran perempuan sudah pasti berkali-kali. Aku tahu kau ingin membalas dendam atas kematian adikmu, tapi hargailah Amara. Masih ada cara lain, jangan seperti itu."
Sean hanya diam, otaknya mulai sibuk memikirkan rencana untuk merayu istrinya lagi. Baru dua hari tidur terpisah sudah membuat Sean gelisah.
Selesai makan malam, Sean sengaja membuatkan susu hamil untuk istrinya, tapi Amara yang begitu acuh malah membuat sendiri susu tersebut. Raut wajahnya dingin teras, ini bukan Amara yang Sean kenal sebelumnya.
"Sayang, vitamin dan obatnya di minumnya." Ujar Sean mengingatkan istrinya.
Jangankan menoleh, melirik pun tidak. Amara berlalu begitu saja dari ruang makan tanpa menghiraukan suaminya.
Sean mengekor di belakang Amara, berusaha merayu tapi tak sekalipun Amara menyahut ucapan suaminya.
"Astaga, apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Sean mengusap wajahnya kasar saat Amara dengan keras menutup pintu kamarnya.
__ADS_1
"Artikel mengatakan jika seorang ibu hamil merasakan tekanan di batinnya bisa menyebabkan keguguran. Aku tidak ingin Amara kenapa-kenapa. Apa yang harus aku lakukan sekarang?"
Sean semakin gelisah, pria ini sangat kacau sekarang.