Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 88


__ADS_3

Dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan, wajah cemberut penuh tekanan. Berdiri saling berhadapan tapi Rachel tidak mau menatap wajah Leon. Keduanya, mau tidak mau harus mengucapkan janji suci pernikahan. Tapi saat Leon mengucapkan janji suci tersebut, mata pria ini lekat memandang wajah Rachel hingga membuat wanita ini gugup.


Setelah melalui proses yang singkat, pada akhirnya mereka berdua sudah resmi menjadi suami istri. Sean dan Amara tersenyum puas, begitu pula dengan James yang ikut ambil dalam perjodohan ini.


"Sayang, kapan kau akan memberitahu mereka?" Tanya Amara berbisik.


"Nanti, setelah Leon dan Rachel saling cinta." Jawab Sean.


Sama seperti pernikahan Remon dan Laura, mereka berdua juga melakukan sesi foto sebagai kenang-kenangan. Setelah selesai barulah mereka pergi ke salah satu restoran mewah untuk makan-makan bersama. Pulang dari restoran, Leon dan Rachel diberikan izin satu minggu untuk menginap di hotel mewah milik Sean.


"Kenapa tempat tidurnya hanya satu?" Protes Rachel dengan raut wajah masam.


"Kalau mau tempat tidur dua, tidur di rumahmu sana!"


"Menyebalkan!" Seru Rachel. "Mulai malam ini sampai satu minggu ke depan, kau tidur di sofa!"

__ADS_1


"Enak aja...!"


Leon langsung melompat ke atas ranjang yang berukuran king size. Rasanya lumayan juga mendapatkan libur selama satu minggu untuk bersantai.


"Secepatnya kita harus segera mengurus perceraian kita. Aku tidak mencintaimu dan kau tidak mencintai aku. Jadi, perceraian adalah yang terbaik untuk kita."


Leon tidak menjawab, pria ini justru memejamkan matanya. Tentu saja hal ini membuat Rachel emosi.


Berbeda lagi dengan Laura, saat mereka baru sampai di rumah, Remon sudah memberitahunya jika Laura memiliki beberapa orang bodyguard jika berpergian. Merasa terkejut sudah pasti, lebih terkejut lagi saat Remon memberikan dua kartu tanpa batas sebagai nafkah untuk Laura.


"Melihat dari tampangmu, sepertinya kau ini pemain."


"Dulu iya. Tapi, setelah aku berada dibawah naungan Sean, tidak lagi."


"Apa bisa dipercaya?"

__ADS_1


"Bunuh saja aku jika omonganku tidak bisa dipercaya. Aku tidak ingin menjadi seperti ayahku yang manifulatif."


"Maksudmu?"


"Ayah selalu menyiksa ibu hingga membuat Ibuku mengalami gangguan mental kemudian meninggal. Percayalah, aku tidak seperti itu. Kita menikah tanpa dasar cinta, tapi kau harus percaya jika aku mencintaimu sekarang." Tutur Remon yang kali ini benar-benar dari lubuk hati paling dalam.


Laura hanya diam, meskipun dalam benaknya sudah muncul benih cinta, tapi ia tidak berani untuk menyatakannya.


Di tempat yang berbeda, saat ini Amara dan Sean tengah menikmati keberhasilan mereka menjodohkan Remon dan Leon dengan Laura dan Rachel. Ada kepuasan tersendiri dalam benak Sean, pria ini sangat berharap jika Remon mampu merubah segala kebiasaan buruknya setelah menikah dengan Laura.


"Sayang, kulihat akhir-akhir ini kalian tidak lagi melakukan pekerjaan malam seperti dulu, kenapa?" Tanya Amara yang penasaran. "Sudah pensiun kah?"


"Entahlah, tapi akhir-akhir ini tidak ada yang berani melakukan transaksi atau pun kejahatan yang berlebihan di kota ini. Remon dan Leon sedang menyelidiki apakah ada geng lain yang melakukan transaksi di kota lain."


"Baguslah, setidaknya kau lebih betah berada di mansion dari pada beradu nyawa setiap malam." Ucap Amara membuat Sean menghela nafas pelan.

__ADS_1


__ADS_2