Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 65


__ADS_3

Setelah dua puluh empat jam tidak sadarkan diri, pada akhirnya pukul sembilan malam lebih sedikit, Amara mulai membuka kedua matanya.


Orang pertama yang ia lihat pertama kali adalah Sean, tapi Amara belum sadar jika perutnya sudah mengempis.


"Akhirnya kau sadar juga, sayangku." Ucap Sean yang langsung memeluk istrinya.


"Sakit sekali," keluh Amara dengan suara lirih.


"Katakan, bagian mana yang sakit, sayang?" Tanya Sean tampak khawatir.


Amara mengusap-usap perutnya, semakin di usap ia mulai merasa ada yang aneh di sana.


"Datar....?" Batin Amara mulai panik. Ia pun menoleh ke arah perut, jelas terlihat kandungannya hilang.


Tubuh yang masih lemah, mendadak segar mana kala ia mendapati anaknya yang masih berada di dalam kandungan telah hilang.


"Anakku, dimana anakku?" Jerit Amara yang benar-benar syok dan panik. Bahkan ia tidak memperdulikan bekas luka operasinya.


"Sayang, tenanglah... tenang....!!" Ujar Sean yang berusaha menenangkan istrinya.


"Anakku mana? Anakku.....?" Amara mulai menangis histeris.

__ADS_1


"Anak kita ada... ada di ruangan lain....!" Ucap Sean dengan nada tinggi agar istrinya bisa mendengar.


Detik itu juga Amara terdiam lalu ia menatap suaminya.


"Anakku mana?" Tanyanya sekali lagi.


Sean mengusap pucuk kepala istrinya lalu menjawab. "Ada, di ruangan yang berbeda."


"Kenapa sudah lahir? Bukankah masih dua bulan lagi? Jangan bohongi aku, cepat katakan di mana anakku?" Amara mencengkram kedua tangan suaminya, memohon pada pria itu agar segera menunjukan di mana anaknya.


"Kau masih lemah, besok pagi saja ya, melihatnya." Sean merayu.


"Nggak, aku nggak mau. Aku ingin melihat anakku, kalian semua pasti bohong!"


Demi menenangkan hati istrinya, mau tidak mau Sean harus membawa Amara pergi ke ruangan anaknya. Tentu saja dengan dikawal beberapa orang Dokter.


Dalam ruangan itu masih sama, hanya ada anak Sean dan Amara yang di jaga dua orang Dokter dan dua orang perawat.


Setetes air mata kembali jatuh membasahi pipi, Amara hanya bisa mengusap kaca incubator tanpa bisa memeluk anaknya.


"Kenapa dia sangat mirip denganmu hah?" Amara mencubit lengan suaminya. Cubitan kecil tentu saja sangat sakit tapi Sean berusaha menahannya.

__ADS_1


"Kau baru sadar dan masih lemah, tapi kenapa cubitanmu sakit sekali?" Ujar Sean.


Amara tidak menanggapi.


"Apa aku boleh menggendong dia?" Tanya Amara pada suaminya.


"Maaf sayang, tapi anak kita belum bisa di gendong sampai berat badan dan pernapasannya normal." Jawab Sean seketika membuat hati Amara patah.


kembali menangis, Amara tidak pernah menyangka jika sang anak harus di bantu oleh alat agar ia bisa bertahan.


"Bertahanlah nak, mommy janji jika kau keluar dari tempat ini, mommy akan mencukur habis rambut daddy dan saudaranya yang lain." Ucap Amara yang sebenarnya sedang menghibur dirinya.


Sean menghela nafas pelan, sejak kemarin membuat semua orang khawatir dan setelah sadar justru membuat jengkel.


Hanya sepuluh menit berada di sana, Amara kembali ke ruangannya karena ia harus banyak beristirahat. Masih sama, Amara hanya bisa tidur miring karena depan belakang tubuhnya bekas operasi semua.


"Aku ingin cepat pulang, aku benci suasana rumah sakit." Ucap Amara.


"Kau ini terlalu banyak mengeluh, bersyukur jika kau masih hidup. Kalau tidak, sudah ku bunuh sejak hari itu." Sahut Remon yang kembali kesal saat melihat Amara sudah sadar.


"Sayang.... dia jahat...!" Adu Amara pada suaminya.

__ADS_1


"Tutup mulutmu!" Seru Sean pada Remon.


__ADS_2