
Pukul sepuluh pagi, Rachel dan Leon sama-sama membuka mata. keduanya saling tatap tak bicara karena tadi malam mereka melakukan hubungan suami istri setengah sadar.
Rachel menarik selimut, menutup tubuhnya yang masih polos begitu pula dengan Leon.
"Tadi malam itu kita benar melakukan ninu-ninu?" Tanya Rachel yang begitu polos.
"Bukan aku yang mulai duluan!" Jawab Leon malu-malu.
"Menurutmu kita ini kenapa?"
Leon menggelengkan kepalanya tidak tahu. Tiba-tiba saja Rachel menangis, tentu saja hal ini membuat Leon panik.
"Jangan menangis, hai... kenapa menangis?"
"Tolong jangan ceraikan aku!" Pinta Rachel. "kau sudah menikmati tubuhku!"
Leon bingung ingin berkata apa, menurutnya kejadian ini sangat tidak masuk diakal dan diluar dugaannya.
"Berhenti menangis, ada baiknya kita bebersih dulu setelah itu kita bicara lagi."
Rachel hanya mengangguk, wanita ini pun masuk ke kamar mandi dengan tubuh yang terbalut selimut sedangkan Leon langsung mengambil bantal untuk menutup burungnya. Meskipun terasa sangat perih, tapi Rachel merasa malu untuk mengeluh.
__ADS_1
"Tidak bisa dibiarkan. sepertinya ada yang salah dengan makanan tadi malam." Ucap Leon begitu yakin.
Pria ini memungut celana, mengenakannya sebelum Rachel melihat burungnya yang terasa perih. Leon yang curiga pada makanan tadi malam langsung membungkus makanan tersebut kemudian menghubungi seseorang untuk melakukan pengecekan dalam makanan ini.
Satu jam kemudian, Rachel dan Leon saat ini sedang menikmati sarapan dan makan siang yang digabungkan menjadi satu. Sesekali Leon melirik Rachel kemudian pria ini tersenyum tipis.
"Bisa kan kita mencoba saling mencintai?" Ujar Leon.
Rachel tidak menjawab, ia merasa malu sekarang.
"Hai, aku bertanya padamu!"
"Aku laki-laki yang baik dan bersih. Beda dengan Remon atau Sean. Tapi, kalau Sean tidak suka bermain perempuan."
"Tidak bisa dipercaya apa lagi pekerjaan kalian di dunia gelap." Sahut Rachel.
"Kau pikir pekerjaan aku, Sean dan Remon hanya di dunia gelap? Harta milik mereka tidak akan habis sampai sepuluh keturunan."
"Itu mereka, bagaimana denganmu?"
"Aku cuma memiliki tiga hotel, tiga restoran, tiga showroom dan masih ada beberapa lagi. Cukuplah untuk menghidupi istriku dan anak-anakku." Jawab Leon dengan santainya. "Oh, tabunganku juga banyak. Jadi, kau jangan takut kelaparan." Sombongnya.
__ADS_1
"Kenapa harus serba tiga?"
"Karena aku hanya ingin memiliki dua anak. Masing-masing dari mereka mendapatkan satu persatu begitu pula dengan aku sebagai jaminan dimasa tuaku."
"Wah, hebat!" Puji Rachel.
Leon tersenyum tipis, pria ini merasa bangga saat mendapatkan pujian dari Rachel.
"Jika aku mengandung anakmu, tapi kita tidak berjodoh dan kau menikah lagi kemudian istrimu melahirkan dua anak untukmu. Lantas, bagaimana dengan anakku?"
Leon terdiam mendengar pertanyaan Rachel yang menurutnya sangat tidak masuk di akal.
"Kau tidak ingin menjadi istriku?" Tanyanya kesal.
"Hai, kenapa marah? Aku hanya ingin meminta kepastian! Masalah tadi malam, aku juga tidak tahu kenapa aku sampai seperti itu. Menurutmu, apa kita sedang dalam permainan?"
Sekali lagi Leon tidak menjawab, pemikiran mereka sama hanya saja Leon malas untuk buka suara.
"Belajar mencintaiku, maka aku akan mencintaimu." Ucap Leon kemudian pria ini beranjak pergi.
Rachel menghela nafas panjang, kenapa hidupnya tiba-tiba saja rumit seperti ini.
__ADS_1