Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 84


__ADS_3

"Sayang, boleh aku bertanya sesuatu?"


"Apa?"


"Apa benar kau membunuh Darwin?" Tanya Amara yang penasaran.


"Tahu dari mana?''


"Leon berkata padaku tadi pagi." Jawab Amara.


"Aku tidak membunuhnya, aku hanya memotong lidah dan beberapa jarinya saja." Sean memperjelas.


Amara menelan saliva-nya kasar saat mendengar hal tersebut.


"Kenapa kau memotong lidahnya?"


"Karena dia meludahi aku!" Jawab Sean begitu santai. "Apa kau tidak suka?"


"Kenapa hanya memotong lidahnya? Kenapa tidak mencabut nyawanya sekalian?"


Sean mengangkat kedua alisnya lalu pria ini menatap Amara.


"Kau mau dia mati?" Tanya Sean menyelidik.


"Tidak, biarkan dia menderita. Jauh lebih menderita dari pada yang aku rasakan. Lalu, bagaimana dengan Selena. Harus kita apakan dia?"


"Terserah dengan istriku, maunya diapakan?"


"Nanti, akan aku pikirkan!" Jawab Amara.


Sebenarnya Amara merasa puas karena ia bisa melihat orang yang pernah menyiksa dirinya bisa hidup menderita sekarang.

__ADS_1


Sean memandang Amara penuh tanda tanya. Pria ini sangat yakin jika Amara sedang memikirkan sesuatu yang sudah pasti akan membuatnya pusing kepala lagi.


"Kapan rencana kita menikahkan Leon dan Rachel?" Tanya Sean membuyarkan lamunan istrinya.


"Kapan-kapan kalau ada waktu, aku lelah. Aku ingin istirahat sekarang!" Jawab Ana kemudian ia berlalu pergi.


Sean mengekor dibelakang istrinya, sudah biasa seperti ini.


"Tuan...!" Panggil Pak Pet menghentikan langkah Sean.


"Iya. Ada apa, pak Pet?"


"Anu tuan...!" Pak Pet ragu.


"Anu apa?"


"Itu, saya mau bicara sama tuan. Boleh...?"


"Bicaralah!"


"Begini tuan. Ah, saya jadi malu." Ucap Pak Pet semakin membuat Sean bingung.


"Cepatlah pak Pet!"


"Anu tuan, itu loh... anu...!!"


"Anu apa? anu-mu minta dipotong?"


Seketika pak Pet memegang burungnya. "Jangan tuan. Kalau dipotong, nanti nggak bisa malam pertama dong!"


"Kalau begitu cepat katakan. Jangan seperti anak kecil..!" Sean mulai kesal.

__ADS_1


"Tuan, apa boleh saya menikahi Suster Belina?"


Sean melebarkan kedua matanya, pancingan Sean akhirnya dimakan juga.


"Jangan bercanda!"


"Saya serius tuan. Boleh ya, tuan. Lumayanlah dapat perawan tua." Ucap Pak Pet setengah tertawa.


"Tidak masalah, kapan pak Pet akan menikahi Suster Belina? apa dia sudah setuju?"


"Setelah saya berhasil merayu, akhirnya dia setuju, tuan. Bagaimana, apa saya hebat?"


"Ah, biasa saja. Cepatlah menikah. Tapi ingat, tetap setia padaku dan jangan pernah berkhianat." Ucap Sean mengingatkan.


"Tentu saja tuan. Terimakasih tuan, saya pergi dulu."


Pak Pet keluar dengan wajah girang penuh kebahagiaan. Baru sekarang Sean melihat wajah-wajah bahagia seperti itu. Pria ini pun kembali menyusul Amara, menceritakan apa tentang Pak Pet yang minta izin untuk menikah.


"Sayang, andai aku menikah lagi bagaimana? Biar kamu ada temannya!"


"Nggak masalah. Itu artinya aku ada kesempatan ganti suami yang jauh lebih baik dan setia. Tidak apa-apa hidup sederhana, yang penting tidak diduakan." Jawab Amara dengan santainya.


Nyali Sean mendadak ciut, "hanya bercanda!" Serunya.


"Bercandamu tidak lucu. Kita balik saja, bagaimana jika aku menikah lagi, mencari suami kedua biar ada teman yang akan membantumu. Kamu kerja dan dia menemani aku di rumah."


Panas hati Sean mendengarnya, pria ini menatap nyalang pada istrinya yang seolah menantang dirinya.


"Berani menduakan aku, akan kukuliti dirimu!" Ancam Sean yang tidak terima.


"Bercanda katamu, maunya mengerjai orang lain. Di kerjain balik tidak terima. Dasar SEAN!!"

__ADS_1


__ADS_2