
Dan benar saja, berita kehamilan Amara kembali tersebar keseluruhan mansion ini. Tidak ada yang mengetahui kebenaran dari hal ini selain Sean dan James yang ingin mengerjai Leon dan Rachel.
"Rachel, mulai sekarang kau yang harus menjaga istriku sendirian karena Laura sudah tidak lagi bekerja. Gajimu, naik dua kali lipat!" Ujar Sean memberitahu.
"Baik, tuan. Terimakasih!" Ucap Rachel yang pasrah.
Amara tersenyum-Senyum sendiri sedangkan Sean hanya melirik Leon.
"Anak baru berumur enam bulan, bisa-bisanya hamil lagi. Suaminya pasti kelaparan setiap malam." Singgung Leon tanpa menyebutkan nama.
"Setidaknya di umurku yang segini aku sudah memiliki anak. Di bandingkan dirimu, jangankan anak, istri saja tidak punya. Pacar pun tidak punya, memalukan!" Balas Sean yang tidak mau kalah. "Ayo pergi....!" Ajak Sean pada Leon.
Sean pamit pergi ke markas, hanya ia dan Leon yang pergi karena sejak melahirkan, Amara tidak pernah lagi pergi ke sana.
"Ternyata dia masih hidup juga!" Ucap Sean saat melihat Darwin, saudara tiri Amara yang sudah menjualnya kepada Sean.
"Bajingan...!" Umpat pria bertubuh kurus tinggal tulang. "Lepaskan aku dan adikku. Pembunuh!"
"Kau mengatai aku pembunuh?" Tanya Sean setengah tertawa. "Andai aku membunuhmu siang ini, bagaimana?"
__ADS_1
Cuih.... tiba-tiba saja Darwin meludah tepat mengenai tangan Sean. Detik itu juga mata pria ini menyala seperti kobaran api yang siap membakar segalanya.
"Keluarkan dia...!" Titah Sean pada anak buahnya.
Saat itu juga mereka mengeluarkan Darwin dari jeruji besi yang selama ini mengurung dirinya.
Plaaaak.... bug.... Sean langsung memukul wajah Darwin lalu menendangnya.
"Beri aku pisau!" Pinta Sean.
Berbergerak sangat cepat, salah satu anak buah Sean memberikan sebuah pisau belati kepada pria ini.
Jika sudah begini, mereka pasti tahu apa yang akan terjadi selanjutnya.
"Buka mulut bajingan ini...!" Titah Sean dengan raut wajah dingin dan menyeramkan.
Dua orang anak buah Sean membuka paksa mulut Darwin sedangkan Leon dan James hanya menonton sambil melipat kedua tangan di dada.
Tiba-tiba saja.... setttsssss.... aaaaargh..... jerit Darwin dengan suara yang tidak begitu keras saat Sean dengan kejamnya memotong lidah pria ini.
__ADS_1
Darah segar mengalir dari dalam mulut Darwin yang membuat Sean merasa sedikit puas.
"Hajar bajingan ini sampai dia tidak berdaya setelah itu buang ke hutan!" Titah Sean kemudian berlalu pergi untuk mencuci tangan.
Di kurungan yang berbeda, saat ini Selena hanya bisa menutup mata dan kedua telinganya agar iya tidak melihat sang kakak yang di siksa secara keji ini
"Kenapa kau tidak membunuh dia saja?" Tanya Leon yang merasa heran.
"Masa kecil Amara sangat tersiksa karena ulah mereka. Jadi, aku hanya ingin melihat mereka tersiksa lebih sakit lagi.
"Ternyata kau sangat mencintai Amara." Ucap Leon.
"Dia istriku, wajar jika aku melakukan hal apa pun untuk dia. Menikah sana, biar kau tahu maknanya mencintai."
Leon memutar bola matanya malas, lebih baik pria ini pergi melihat-lihat tawanan dari pada harus mengobrol tidak jelas dengan Sean.
"Hai, Dipo. Apa dua bajingan ini tawanan baru?" Tanya Leon setengah berteriak.
"Iya tuan. Mereka penipu yang berusaha menipu di salah satu bar milik tuan Sean." Jawab Dipo.
__ADS_1
"Jangan bunuh mereka!" Seru Sean memperingati.