
"Kenapa seperti cacing kepanasan?" Tanya Amara pada suaminya.
"Sudah lama sekali rasanya aku tidak mengebor mu sampai kau loyo." Jawab Sean yang lesu.
"Hem, sama." Sahut Amara lalu ia memeluk suaminya.
"Yang biasanya setiap malam sekarang jadi seminggu tiga kali. Lama-lama bisa stres aku memikirkannya." Ucap Sean sambil mengusap perut istrinya yang sudah membuncit.
"Sayang, apa kabar nyawa paman mu itu?" Tanya Amara penasaran.
"Ada, masih hidup. Aku ingin melihat tindakan Remon." Jawab Sean.
"Sayang, tiba-tiba saja aku ingin makan pizza dengan toping mayones, keju dan daging yang banyak." Ucap Amara sambil membayangkan.
"Sebenarnya membahas masalah ranjang, sebentar membahas masalah pamanku, sekarang makanan. Bicara dengan mu, sungguh menguji kesabaran ku." Ucap Sean sedikit kesal tapi pria ini masih mau mengiyakan.
"Aku ingin kau yang membuatnya." Pinta Amara membuat Sean terkejut. Seumur hidupnya mana pernah Sean memasak di dapur.
"Anak seperti apa yang kau kandung ini hem? Nakal sekali," ucap Sean benar-benar geram.
__ADS_1
"Maksud ku begini, aku ingin kau mengumpulkan semua anak buah mu lalu kita berkemah di depan mansion sambil membuat Pizza." Kata Amara dengan ngidam gilanya.
"Tapi sayang, sekarang sudah malam."
"Baru pukul tujuh malam, katakan iya atau jatah mu menunggangi aku akan aku potong menjadi seminggu dua kali." Ancam Amara.
Sean mendengus kesal, meskipun marah pria ini masih mau mengikuti permintaan istrinya yang tidak masuk di akal.
Hanya sekali perintah melalui pesan di group, semua anak buah Sean termasuk koki di rumah sudah berkumpul di depan. Daren dan pak Pet merasa heran, tidak seperti biasanya Sean mengumpulkan mereka semua.
"Aku ingin kalian membangun tenda di halaman mansion dan memasak pizza dengan toping penuh Mayones, Keju dan daging. Cepat!" Titah Sean membuat semua anak buahnya kebingungan.
"Istriku mengidam pak, cepatlah jika tidak jatah ku akan di potong!" Teriak Sean yang benar-benar kesal sekarang. Semua orang mulai panik dan bergegas menuruti perintah Sean.
Amara yang melihat dari dalam terus tertawa, puas sekali ia mengerjai suaminya.
"Apa kau puas?" Tanya Sean pada istrinya.
"Belum puas jika aku belum memakan apa yang aku mau!" Jawab Amara benar-benar menguji kesabaran suaminya.
__ADS_1
Duduk memantau semua orang yang sibuk berkemah dan memasak pizza, Amara merasa lucu melihatnya sedangkan Sean hanya diam dengan wajah dinginnya.
"Apa lagi ini, Sean?" tanya Leon yang baru saja datang.
"Tanya saja pada Amara!" Jawab Sean.
Amara hanya mengangkat kedua bahunya, membuat Leon tak bisa berpikir jernih sekarang.
"Kenapa kau datang?" Tanya Sean penasaran.
"Paman mu mencoba bunuh diri sebelum kau membunuhnya," ucap Leon memberitahu.
"Temukan dia dengan Remon, aku ingin melihat reaksi Remon." Titah Sean.
"Remon adalah manusia paling masa bodoh dengan orang yang pernah menyakiti dia. Seharusnya kau tahu akan hal itu." Sahut Leon membuat Sean terdiam. "Oh ya, masalah Garvin, bajingan itu berani merusak salah satu bar milik mu."
"Biarkan saja, jangan terpancing karena aku yakin jika dia sedang memancing emosi kita."
"Kalau dia merusak milik mu, rusak balik milik dia. Tidak harus beradu fisik untuk membalas perbuatan mereka," ucap Amara seketika membuat Sean dan Leon terdiam.
__ADS_1