Istri Kedua Mafia

Istri Kedua Mafia
Chapter 59


__ADS_3

"Merayu lagi, lagi-lagi merayu!" Ucap Sean dalam hati.


Tentu saja Amara marah saat ia di anggap beban oleh suaminya sendiri. Duduk diam tanpa mengeluarkan suara membuat suasana di dalam mobil sedikit merinding.


"Sayang....!" Panggil Sean dengan nada menggoda.


Amara hanya diam saja tak bergeming.


"Jangan dengarkan Remon, kau tahu sendiri dia seperti apa?"


"Kalian sama saja!" Seru Amara yang tidak terima di anggap sebagai beban. "Jangan bicara padaku!" Ujarnya.


Amara memilih memejamkan matanya untuk menghindari obrolan bersama dengan suaminya. Perjalanan pulang yang sangat menyebalkan.


Sengaja Sean lewat di jalanan biasa, sedikit lebih lama dari pada jalan pintas. Tiba-tiba saja.....


Dor.... dor... dor....


Terdengar beberapa kali suara tembakan menghantam mobil Sean. Pria ini langsung menyuruh istrinya untuk menunduk ke bawah. Tiga ban mobilnya pecah tertembak bahkan mobil Sean nyaris menabrak pohon besar.


"Sayang, ada apa?" Tanya Amara yang panik.


"Kita telah di serang!" Jawab Sean dengan wajah tegang.

__ADS_1


Tidak masalah jika ia sendiri, tapi sekarang Sean sedang bersama dengan istrinya yang sedang hamil pula.


Sekali lagi, mobil Sean di tembak oleh beberapa orang yang entah bersembunyi di mana.


"Sialan!" Umpat Sean yang hendak keluar dari mobil tapi langsung di tahan oleh Amara. "Kenapa?" Tanyanya.


"Jangan keluar, aku takut kau mati." Ucapnya ketakutan.


"Tapi aku harus menyelesaikan mereka dulu." Ujar Sean.


Sedikit berdebat dengan istrinya karena Amara tidak mengizinkan Sean untuk keluar. Mereka bertahan di dalam mobil sampai bantuan datang.


Peluru mereka habis, pada akhirnya mereka keluar juga. Ada sekitar sepuluh orang, Sean juga tidak menghitung dan mereka saat ini menantang Sean untuk adu fisik.


Sambil menunggu anak buahnya datang, Sean berusaha merayu istrinya, tapi bukan anak buah Sean yang datang melainkan Remon dan James yang sangat kebetulan malam ini di undang Sean untuk datang ke mansion.


"Siapa kalian ini?" Tanya Remon saat keluar dari mobil. "Dari geng mana kalian?" Imbuhnya yang sama sekali tidak mengenali beberapa orang yang ada di depannya.


Tidak menjawab mereka hanya tertawa.


"Mereka geng baru yang bernama Mafiosi." Ujar Sean memberitahu Remon.


Remon yang baru mendengar langsung mengeyitkan dahinya.

__ADS_1


"Kau suka membuat masalah dengan banyak geng, Sean. Kau itu bajingan!" Ucap Remon.


"Hai, aku tidak memiliki masalah apa pun dengan geng mereka." Bantah Sean.


"Lantas, kenapa mereka menyerangmu?"


"Karena mereka ingin menghancurkan geng ku! Jika bukan karena Amara menahanku, sudah aku habisi mereka sejak tadi." Ucap Sean yang kesal. "Hai kalian....!" Seru Sean. "Mau apa kalian masuk kandangku?"


"Membunuhmu, apa lagi?" Jawab salah satu dari mereka.


"Katakan pada tuanmu, kalian tidak akan bisa membunuhku." Ucap Sean dengan sombong.


"Sayang....!" Panggil Amara dengan suara pelan. "Aku pendarahan," lirihnya dengan wajah pucat seketika membuat Sean panik setengah mati.


"Bawa pergi perempuan licik ini, biar aku yang menghadapi mereka." Ujar Remon yang sebenarnya panik tapi sebisa mungkin ia bersikap biasa saja.


"Ban mobilku pecah semua," ucap Sean yang mendadak bingung.


"Bawa mobilku!" Seru Remon.


Melihat Sean dan Remon yang begitu panik menjadi kesempatan bagi musuh untuk menyerang mereka. Remon dan James tidak tinggal diam, kedua pria ini mencoba mengahalau semua musuh agar Sean bisa membawa Amara pergi ke rumah sakit.


Sedikit perubahan dari Remon yang sejak kematian ayahnya ia menjadi berubah dan akhir-akhir ini lebih sering berkomunikasi dengan Sean.

__ADS_1


__ADS_2