Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 22. Porak Poranda


__ADS_3

Saat hati tersakiti, siapa yang paling bertanggung jawab?


Maka, jawabannya adalah "Diri Sendiri."


Saat hati kecewa, siapa yang paling bertanggung jawab?


Maka, jawabannya tetap sama. "Diri Sendiri."


Lalu, saat hati merasa kecewa siapa yang patut disalahkan?


Ck. Sayangnya, jawabannya tetap sama. "Diri Sendiri."


Diri sendirilah yang membukakan celah pada hati untuk menerima keberadaan orang lain.


Lantas, diri sendiri pulalah yang membuka hati agar terisi oleh orang lain.


Diri sendiri pulalah yang sudi menyecap luka dari seseorang yang dianggap spesial.


Maka, tutup akses untuk segala kecewa itu. Tutup rapat, jangan dibuka untuk siapapun.


Sialnya, hati tak bisa diatur kepada siapa dia harus berlabuh. Rasa yang tak kasat mata, tapi mampu menghabiskan seluruh energi yang dia punya.


Rasa tak kasat mata, yang mampu menguras seluruh perhatiannya.


Rasa tak kasat mata, yang mampu mengalirkan air sederas arus mengalir ke dua pipinya. Namun, herannya ... dari mana kedua matanya itu mendapatkan pasokan air sebanyak itu. Herannya, air mata itu tak pernah kering untuk mengalir.


Rasa tak kasat mata itu bernama cinta.


Mengapa dia harus merasakan cinta sedalam ini kepada lelaki yang sama sekali tak menaruh rasa untuknya. Ah, jangankan menitipkan hati, menuliskan namanya dalam ingatan saja. Rasanya enggan.


Satu hal yang harus dia ingat dari segala kesakitan ini, bahwa pernikahannya hanya sementara. Sementara.


Dia hanya menunggu waktu, kapan berakhirnya. Waktu saat dia akan ditendang dari kehidupan seorang Andre Pratama.


Namun, satu hal yang dia pikirkan. Sanggupkah dia bertahan sampai batasnya?


Haruskah dirinya pergi menjauh sebelum semuanya benar-benar terlambat?


Kepalanya bahkan mau pecah memikirkan masalah ini.


Setelah pertengkaran kala itu, Dewi memilih menghindara suaminya. Dia menyibukkan dengan pekerjaan dan kuliahnya.


Anggap saja suaminya itu adalah makhluk tak kasat mata.

__ADS_1


Namun, sialnya. Ada sebongkah daging yang meronta ... terus meronta.


Membisikkan kerinduan akan pelukan hangat yang lelaki itu berikan. Saat berpapasan, dia harus berusaha keras untuk tidak menghambur memeluknya.


Apakah kini kewarasan telah sempurna hilang dari dirinya? Tak adakah sedikit saja dia memiliki harga diri.


Kenapa kerinduan itu begitu menyiksa sampai dia sekarat


"Dewi, hari ini jatahmu bagiin nasi kotak di perempatan, kan?" Amika mengingatkan. Melihat sahabatnya sering termenung dengan tatapan kosong, membuatnya terusik.


Amika mengkhawatirkan kondisi Dewi. Akhir-akhir ini, gadis itu jarang makan. Sering melamun, lalu tiba-tiba nangis sendiri. Biasanya, Dewilah yang sellau menghiasi ruangan ini dengan senyumannya. Namun, beberapa hari ini. Dewi seperti orang tidak waras. Kerjaannya melamun saja.


Entah ada masalah apa, Amika sudah mencoba mengajaknya bicara. Namun Dewi selalu menolak. Tidak biasanya sahabatnya itu seperti ini, menyembunyikan masalahnya seorang diri.


Kan, benar saja. Dewi melamun lagi. "Dew ...!"


Panggilan itu, panggilan yang sering disebutkan oleh Andre padanya. Betapa Dewi merindukan panggilan itu. Air matanya mengalir, matanya tak lagi sanggup membendung nya untuk tumpah.


"Lu kenapa, ada yang salah. Dewi ...?"


Amika tampak khawatir, dia mengecek suhu badan Dewi.


"Aku enggak apa-apa. Hanya kelilipan." Segera Dewi menghapus air mata yang mengalir di pipi sampai kering.


"Kamu ngomong apa tadi?" tanya Dewi.


Dewi mengangguk, lalu berdiri meninggalkan pekerjaannya. Lalu segera ke kamar mandi mencuci muka, merapikan penampilan yang tampak tidak terurus.


Kemudian, melangkah menuju kotak-kotak yang telah terbungkus plastik hitam besar. Ada dua bungkus besar di sana.


Memang sudah menjadi rutinitas mereka, setiap Jumat akan membagikan menu makan siang kepada para pedagang, maupun penarik becak yang ada di perempatan. Tidak dilewatkan pula, para pemulung dan siapa pun yang dirasa membutuhkan makan siang tersebut.


Maka, Dewi dan dua karyawan laki-laki lainnya segera menuju perempatan jalan.


Panas yang terik tidak menyurutkan langkah mereka untuk berpanas-panasan di pinggir jalan. Dengan senyum semringah, Dewi membagikan nasi tersebut, yang diikuti dua karyawan lainnya membawa bungkusan plastik besar di belakangnya.


"Udah selesai. Habis, kan?" Dewi menoleh pada Andi dan Reno.


Kedua lelaki itu mengangguk bersamaan.


"Ya udah, kalian duduk di sini dulu. Aku belikan minum dulu, ya ...." Dewi bangkit dari duduk. Kemudian berjalan menuju warung kecil di pinggir jalan.


Setelah membeli dua botol air mineral, Dewi segera kembali kepada dua karyawannya yang masih duduk di bawah pohon besar, di trotoar.

__ADS_1


"Kalian mau makan apa?" tanya Dewi lagi kepada mereka.


Tampaknya mereka malah hanya mengedikkan bahu, saling berpandangan bingung.


"Ya sudah, kalian pilih saja menu makan sendiri ya. Ini uangnya." Dewi menyodorkan dua lembar uang seratus ribuan.


"Banyak banget, Bu?" Andi menatap bingung pada lembaran kertas yang diberikan bos nya.


"Ambil aja, kalian pasti capek. Kan?" Dewi tersenyum, dan mengangguk.


"Makasih." Dua lelaki itu menjawab bersamaan. Kemudian mereka berdiri, saat hendak melangkahkan kaki. Reno menoleh.


"Bu Dewi enggak sekalian makan, biar kami belikan." Dewi menggeleng.


"Oh, baik. Permisi." Setelah mengatakan itu, dua lelaki tersebut menyebrangi jalan. Kebetulan lampu merah.


Lantas, tidak menunggu waktu lama punggung keduanya telah mengulang ditelan keramaian.


Dewi masih setia duduk di bawah pohon itu. Entah kapan terkahir kali dia makan nasi. Rasanya tidak lagi berselera hanya dengan mengingatnya.


Pandangan Dewi lurus ke depan, memperhatikan kedua kaki yang digoyangkan.


Entahlah, rasanya lebih asyik duduk di sini daripada di manapun. Di sini, matanya sibuk menghitung kendaraan yang lewat. Memperhatikan para pejalan kaki, atau siapa saja yang ditemuinya.


Sampai waktu rasanya cepat berlalu. Beda rasanya dengan dia yang harus menunggu berakhirnya waktu di tempat kerja atau di rumah.


Dewi memerhatikan tangannya, lalu memijit kedua kakinya. Rasanya seminggu ini, dia begitu lelah. Setelah sekian lama tidak lagi berlatih, wanita itu mencoba kembali keberuntungan untuk menyusutkan berat badannya.


Ya, Dewi mencoba diet. Dengan berbagai cara, dia akan mengembalikan bentuk tubuhnya.


Sekarang, saat dia merasakan tertekan. Dewi mencoba untuk tidak melarikan diri pada makanan. Dia akan berlari mengelilingi lapangan, atau menuju tempatnya berlatih.


"Seminggu bukanlah apa-apa, dibanding dengan bertahun lamanya aku menyiksa diri dalam rasa tidak percaya diri karena keberatan badan." Dewi bergumam pelan, saat merasakan pegal di beberapa bagian tubuhnya.


Ya, seharusnya Dewi tidak langsung memporsir tenaga untuk berlatih. Karena tubuhnya pasti akan kaget setelah sekian lama tidak digunakan untuk latihan.


Rasa kecewa yang mendalam lah, yang membuat Dewi tidak memedulikan keadaan tubuhnya.


Ya, tidak hanya hatinya yang sakit. Dewi benar-benar merasakan semua anggota tubuhnya merasakan sakit.


Namun, dia tetap harus bertahan bukan?


Karena dirinya begitu berharga untuk terus tersakiti. Maka, biarlah Dewi memilih jalan yang terbaik untuk dirinya sendiri.

__ADS_1


"Aku bisa." Dewi menyemangati diri sendiri, lantas berjalan meninggalkan tempatnya duduk.


Dewi menuju lapangan, berlari mengelilingi lapangan luas itu. Menghilangkan segala sakit yang dia derita. Hingga Dewi jatuh pingsan, karena tubuhnya tak lagi mampu memikul beban yang dia tanggung sendirian.


__ADS_2