Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 61


__ADS_3

Kurang dari satu jam, Andre telah sampai di kediaman Anggita. Sesuai alamat yang diberikan Arman kepadanya. Sebelum ia memarikirkan kendaraan roda duanya, lelaki itu mencoba untuk menghubungi Anggita. Namun, tidak ada jawaban.


Rumah megah itu juga tampak lengang. Tidak ada suara atau pun orang yang bisa ditemui. Ke mana perginya penghuni rumahnya? Mungkinkah Anggita telah dibawa ke rumah sakit? Mengenyahkan pikiran-pikiran di kepalanya, Andre pun turun. Memanggil-manggil siapa saja yang ada di dalam sana.


Lantas, Andre menghubungi nomor Robi. Namun, tetap saja lelaki itu tidak menjawab panggilannya. Entah karena sengaja atau ... entahlah, Andre juga tidak habis pikir.


Sekali lagi, Andre mencoba untuk memanggil orang yang mungkin masih ada di rumah itu. saat dirinya menyerah dan akan melangkah pulang. Tiba-tiba ada yang berlari tergopoh-gopoh.


“Iya, ada apa?” tanya wanita paruh baya itu.


“Anggitanya ada?” tanya Andre tanpa ingin berbasa-basi.


“Nyonya tidak ada di rumah,” jawab wanita itu pelan.


“Kalau Robi?” Andre mengernyit bingung.


“Tuan juga sedang pergi.”


“Apa Anggita sudah dibawa ke rumah sakit?” Andre melihat layar ponselnya, nama Robi berpendar di layar itu.


“Halo. Lo di mana?” tanya Andre begitu tangannya meletakkan benda pipih itu ke telinga.


“Gua lagi di luar kota. Apa urusan lo sama gua?” ketus lelaki di seberang sana.


Andre berdecak kesal. “Ya sudah.” Ia mengakhiri panggilan lalu memasukkan benda pipih itu ke saku celana.


Pandangan Andre kini terpusat kepada wanita di balik pagar itu. “Apa Anfggita sydah dibawa ke rumah sakit?” tanyanya pelan.

__ADS_1


Wanita itu mengangguk berulang kali. “Sudah ... sudah. Tadi dibawa sopir, Tuan.”


“Ya sudah kalau gitu. Saya permisi.” Andre hendak membalikkan tubuh saat wanita paruh baya itu memanggilnya.


“Tuan. Kasihan Nyonya, dia lahiran sendirian tidak ada yang menemani.” Wanita tua itu berkata dengan bibir bergetar.


“Iya. Aku akan menghubungi suaminya. Terima kasih, Bik.” Andre mengangguk pelan lalu melangkah cepat menaiki motornya. Klakson ia bunyikan sekali sebagai tanda berpamitan kepada wanita tua yang masih memandangnya itu.


Di bawah pohon rindang, Andre menepikan kendaraan roda duanya. Satu nama yang kini menguasai benaknya. Dewi.


“Halo, Dew. Kamu lagi apa?” tanya Andre begitu panggilannya mendapat jawaban dari wanita di seberang sana. “Aku rindu.”


Wanita itu terkekeh pelan. “Gimana Anggita?” tanya Dewi dengan nada khawatir.


Andre tersenyum senang, tidak menyangka jika Dewi akan berperilaku baik kepada mantan kekasihnya. Ah, bukankah Dewi memang memiliki sifat yang baik. Sejak kapan ia membuka mata dan melihat secara langsung.


“Kak, halo.” Panggilan dari suara di seberang sana menyadarkan lamunan Andre.


“Gi-gimana keadaan Anggita? Kakak di mana sekarang?” tanya Dewi dengan sura bergetar gugup.


Hening. Tidak ada suara dari keduanya. Hanya terdengar deru kendaraan yang lalu lalang. Dewi menanti jawaban Andre dengan harap-harap cemas. Sedangkan Andre sendiri mengatupkan mulutnya rapat. Bingung sekaligus tidak percaya jika istrinya tersebut ternyata perhatian kepada Anggita. Padahal, beberapa waktu lalu mereka berselisih paham karena wanita itu.


Tidak juga mendapatkan jawaban dari Andre, Dewi pun memanggil lelaki yang masih mengatupkan kedua bibirnya tersebut.


“Kak. Apa yang terjadi? Anggita baik-baik saja,kan?” Pertanyaan dengan nada khawatir dari Dewi mengembalikan kesadaran Andre.


Andre melihat layar ponselnya, melihat nama ‘istriku’ di sana. “I-iya, Sayang. Anggita tidak ada di rumah, sudah dibawa ke rumah sakit. Aku bingung harus gimana?” Andre melepaskan helm, mengacak rambutnya kasar. Pikirannya benar-benar kalut.

__ADS_1


“Syukurlah kalau sudah dibawa ke rumah sakit. Semoga segera tertangani dan tertolong. Kakak gimana, mau langsung ke rumah sakit? Kalau Kakak sangat khawatir dengan keadaannya, enggak apa-apa, kok, langsung ke rumah sakit saja.” Ucapan Dewi malah semakin membuat pikiran Andre kacau. Bukan itu sebenarnya yang ia pikirkan.


Andre bingung dalam mengambil sikap, langsung ke rumah sakit untuk memastikan kondisi Anggita atau pulang dulu ke rumah menemui istrinya.


Mau bagaimana pun juga, Andre sangat memikirkan perasaan Dewi sekarang. Namun, ia juga ingin memastikan kondisi Anggita. Apakah wanita itu sudah melahirkan?


Andre berdeham sebentar. Setelah sejenak berada dalam kemelut pilihan, akhirnya ia memutuskan untuk menghubungi Robi sekali lagi. Memastikan jika lelaki yang pernah menjadi sahabatnya itu tahu kondisi Anggita yang sebenarnya.


“Begini saja, aku mau telepon Robi dulu ya. Nanti aku kabari lagi. Kamu di sana tunggu saja kabarku dengan santai, jangan berpikir yang macam-macam,” putus Andre kemudian. Setelah mendapat persetujuan dari Dewi, ia pun memutuskan sambungan lalu segera menggulir nomor Robi. Menghubungi lelaki itu.


Andre bernapas lega ketika pada panggilan kedua Robi mau menjawabnya.


“Bro, lu di mana?” tanya Andre berusaha bersikap santai. Saat ini prioritasnya adalah keselamatan nyawa dua orang bukan berdebat panjang yang tiada ujungnya.


“Gua di rumah sakit. Nemenin Anggita. Ada apa? Mau nemenin istri gua juga. Urus aja istri lu sendiri. Udah gua tutup teleponnya. Sibuk.” Andre baru saja membuka mulut untuk membalas ucapan Robi saat sambungan itu terputus.


Tidak bisa dipungkiri, dalam dadanya seperti ada beban yang baru saja terlepas. Plong. Ia bisa kembali ke rumah dengan tenang. Sesaat, tangan Andre terulur meraba dada kirinya. Tidak ada debaran aneh di sana. Biasa saja. Mungkinkah? Ah, Andre menepis pikiran itu. Biarkan kali ini semua berjalan apa adanya. Yang terpenting adalah ia bisa menjaga Dewi dan bayi dalam kandungannya dan berjanji akan menemai istrinya itu saat lahiran. Ia akan menjadi lelaki siaga.


Dengan perasaan tidak sabar. Andre segera memakai helmnya kembali, lalu menghidupkan mesin kendaraan melajukannya dengan kecepatan sedang. ia juga harus memikirkan keselamatannya sampai ke rumah. Jika terjadi apa-apa pada dirinya, tentulah Dewi akan sangat mengkhawatirkannya.


“Dewi, tunggu aku di rumah, Sayang,” ujar Andre dengan senyum merekah.


Sesampainya di rumah, Dewi ternyata sudah menunggunya di kursi teras. Andre tidak tahu saja, begitu sulit bagi Dewi untuk mengenyahkan pikiran yang macam-macam itu. Setelah semua kejadian yang telah terlewati. Saat dirinya harus menahan cemburu yang bergemuruh dalam dada ketika Andre menatap Anggita dengan tatapan yang tampak memuja. Ah, padahal Dewi telah meyakinkan diri bahwa lelaki itu benar-benar telah berubah dan tengah berusaha memperbaiki hubungan mereka. Mempertahankan pernikahan sesuai yang ia harapkan.


“Sudah lama menungguku?” Andre melangkah lebar mendekati sang istri.


Dewi mengangguk pelan, tetapi juga tidak ingin jujur jika telah menunggu kedatangan Andre dengan perasaan tak menentu.

__ADS_1


“Maafkan aku. Maafkan aku yang selalu membuatmu menunggu. Sekarang biarkan aku yang terus datang menghampirimu, mengejar dan mempertahankanmu.” Andre mencium kening Dewi lama.


Rasa hangat di wajah menjalar sampai ke hati, menciptakan kenyamanan dan desiran halus. Dewi jauth cinta lagi dan lagi entah untuk yang ke berapa kali dengan lelaki yang sama.


__ADS_2