
Kedua mata Andre menyorot tajam dengan rahang yang tampak menegang. Kedua tangannya pun terkepal di sisi tubuhnya.
Dewi tidak pernah melihat Andre semarah ini.
"Bima itu hanya teman, Kak," ujar Dewi pelan.
"Tetapi kata katanya sangat tidak enak didengar," balas Andre geram.
"Ya gimana, aku tidak bisa mengatur orang lain. Seperti aku yang tidak bisa mengatur apa yang suamiku lakukan kan?" Kali ini Dewi berkata tegas.
"Apa maksudmu? Aku sudah mencoba untuk berubah dan lebih bertanggung jawab selama ini. Apa semua yang aku lakukan tidak pernah terlihat oleh mu?" tanya Andre dengan tatapan yang berubah sendu.
"Entahlah. Aku juga membaca pesan di hp mu. Dan itu ... membuat aku sedikit terusik," sahut Dewi dengan mata memicing.
"Pesan apa? Dari siapa? Aku tidak pernah bermain main di belakangmu. Aku tidak pernah berkhianat." Andre masih bergeming di tempat. Tatapannya lurus ke depan menyiratkan kesungguhan akan apa yang ia katakan.
"Tidak pernah?" tanya Dewi tak percaya.
Andre pun menghela napas panjang lalu berkata pelan, " Baiklah, aku memang pernah menyakitimu dulu bersama Anggita. Tapi setelah aku sadar dan mengaku serta meminta maaf kepadamu aku tidak pernah lagi bermain api dengan siapa pun. Bukankah aku juga telah berjanji kepadamu?"
"Lalu pesan dari siapa itu?" tanya Dewi masih dengan ekspresi kesal.
Andre memberikan ponselnya kepada Dewi. "Pesan yang mana? tunjukkan kepadaku," ujarnya tegas.
Sejujurnya, Dewi ragu untuk mengambil ponsel dari tangan Andre. Namun, ia harus menunjukkan dan menanyakan apa yang pernah tertangkap olehnya, bukan?
Dewi mengambil ponsel itu, menghidupkan layarnya dan mengutak atik sebentar benda pipih tersebut. Prasangkanya tidak beralasan karena pesan yang dituju ternyata masih tersimpan di sana, belum dihapus Andre untuk menghilangkan jejak.
Dewi masih bisa membaca deretan huruf itu dengan jelas. Ia juga bisa membaca pesan - pesan yang lain, yang mungkin membuatnya penasaran juga. Namun, Dewi tak melakukan itu sebab prioritasnya kini hanya ingin mengklarifikasi chat dari seseorang yang telah membuatnya gundah.
"Nih, baca sendiri!" ujar Dewi sembari memberikan ponsel itu kepada pemiliknya.
Andre tampak berkonsentrasi membaca chat dari nomor yang belum tersimpan di kontaknya itu. Ia mengingat-ingat kiranya apa yang pernah dilakukannya pada seseorang tersebut.
"Oh, ini. Namanya Santi, kebetulan malam itu aku melihatnya saat mobilnya pecah ban. Terus ... ya karena tidak tega melihatnya sendirian dan ternyata dia sedang menuju rumah sakit. Jadi, aku antar sekalian ke tujuannya. Sedangkan mobilnya ditinggal setelah menghubungi bengkel." Andre tampak tenang menjelaskan rincian kejadian malam itu.
__ADS_1
"Tapi kamu enggak ada cerita apa apa sama aku, Kak," protes Dewi.
Andre menggaruk kepalanya yang tidak gatal lalu menyunggingkan senyum tipis. "Iya, waktu pulang dan ketemu kamu, aku lupa segala galanya," akunya sembari terkekeh pelan.
Dewi mendengkus. Ia tidak percaya dengan apa yang dikatakan suaminya itu. Namun, jika itu benar adanya sungguh bahagianya dirinya itu.
"Dasar tukang gombal," desis Dewi disertai senyum tipis.
Ah, sulit sekali kebal oleh rayuan lelaki itu. Sebenarnya ini cinta atau kebodohan? Dewi menggeleng berulang kali, menipis hayalan yang mulai merusak akal pikirnya.
"Aku serius," sahut Andre sungguh sungguh. Kedua manik itu menatap lekat ke arah Dewi. Seakan tidak ingin berkedip sejenak saja.
Dewi mengerjapkan mata berulang kali, menelisik ada sesuatu yang mungkin tersembunyi dari binar itu. Tidak. Andre tampak tulus dan sungguh sungguh akan ucapannya.
Lantas, pikiran wanita itu melayang pada hubungan pernikahan yang terjalin selama ini. Benar. Andre tidak pernah melakukan kesalahan dan cenderung terus berusaha memperbaiki keadaan. Hanya saja, pernikahan yang dijalani tanpa komunikasi yang baik tentu akan berdampak bagi hubungan mereka.
Seperti sekarang, Dewi yang enggan bertanya dan selalu memendam sendiri apa yang ia rasakan karena enggan mengutarakannya kepada Andre membuatnya menyimpan banyak prasangka. Seharusnya tidak demikian bukan?
Dewi juga menyadari jika dirinya enggan untuk membicarakan hal hal remeh temeh terlebih dahulu kepada Andre. Padahal, selama ini pula Andre telah berusaha untuk mengajaknya berbincang bincang. Hanya saja ... entahlah. Dewi pun tidak mengerti. Mengapa begitu sulit berbicara sekadar berbasa basi pada lelaki itu. Dirinya lebih senang menyimpan pemikiran pemikiran yang terus bergejolak di hatinya lalu membiarkan pikiran itu pergi begitu saja.
"Kalau kamu masih tidak percaya. Ayo kita temui Santi." Seperti tahu apa yang dipikirkan Dewi, Andre mencetuskan ide.
Entah bagaimana, Dewi malah menyulut perdebatan. Emosinya terpancing hanya dengan mendengar usulan Andre barusan.
"Terus bagaimana caraku agar menghilangkan kecurigaan kamu itu, Dewi?" tanya Andre frustrasi. lelaki itu menjambak rambut kasar.
"Entahlah. Aku tidak merasa curiga, hanya ingin tahu saja," timpal Dewi tak terima.
"Itu bukan ingin tahu, tapi curiga. Aku sudah berbicara apa adanya. Dan jika diingat ingat selama ini kita jarang mengobrol kan? kamu bahkan tidak pernah menempatkan diriku sebagai suami kamu. aku tidak kamu jadikan sandaran, Dewi."
"Aku hanya tidak ingin saat bersandar tiba tiba kamu pergi dan membuatku terjatuh."
"Bahkan ketika tubuhku merasakan pegal sekalipun. Percayalah, aku tidak akan pergi saat kamu bersandar padaku." Andre menggenggam kedua tangan Dewi secara erat.
Tiba tiba ponsel Dewi berdering, menampilkan nama Bima di layar.
__ADS_1
Andre menggeram kesal. "Lihat kan, lelaki itu menghubungi kamu lagi. Mau apa dia?"
"Entahlah. Kita tidak akan tahu jika tidak diangkat." Dewi melepaskan genggaman tangan Andre lalu menjawab panggilan itu.
"Halo, Bima. Ada apa?" tanya Dewi.
"Hai, Dewi. Apa aku mengganggu?"
Dewi melirik sebentar ke arah suaminya, tampak jelas raut tak suka dari Andre. "Tidak juga. ada apa?"
"Aku mau tanya. Apa kamu mau ikut ke acara reuni yang akan diadakan bulan depan?"
"Hm. Nanti aku kabari lagi ya, soalnya mau lihat kondisi dan kesibukan juga. Makasih udah dikabari."
"Oh iya, sama sama. Kalau gitu aku tutup ya."
"Iya."
Setelah panggilan diputus, tiba-tiba saja Andre menyerangnya dengan sedikit kasar.
"Kak!" pekik Dewi.
"Kamu itu milikku, Dew. Milikku," desis Andre.
"Aku enggak suka ya, jika Kakak selalu menggunakan hak itu untuk memaksaku. Permasalahan kita belum selesai." Dewi berujar setelah ada jeda di antara mereka.
"Maafkan aku. Hanya saja ... ah, begini rasanya cemburu. Sangat-sangat menyiksa," keluh Andre seraya merengek.
Andre mengenaskan diri ke ranjang, menutup wajah dengan satu tangan seraya memejamkan mata menahan gejolak yang menggelegak di kepala dan dadanya.
"Mau kah kamu berjanji kepadaku, " ujar Andre begitu emosinya tenang.
"Apa?" Dewi yang duduk di tepi ranjang menoleh kepada Andre.
"Tolong, katakan apa saja yang mengganggu pikiranmu. Jangan disimpan sendiri. Jika kamu marah, katakan padaku. Jika kamu tidak suka katakan kepadaku. Kita menikah sudah lama dan aku ingin semakin menjalin hubungan yang baik sama kamu, Dew. Lagi pula, kasian Adrian jika hubungan kita tidak baik baik saja."
__ADS_1
"Kalau begitu aku juga meminta komitmen kepadamu, Kak. Kasih kabar ke aku saat kakak pergi ke mana pun dan dengan siapa pun, ngapain juga. pokoknya semuanya."
"Tentu."