Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 45. Bertemu


__ADS_3

Sesuai kesepakatan, Dewi meminta sang mama menemaninya ke mal. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah toko perlengkapan bayi.


Melihat pernak - pernik di dalam toko, menyulut semangat Dewi untuk berbelanja.


"Ma, cantik, enggak?" tanya Dewi sembari menunjukkan baju kecil berwarna pink.


"Cantik." Sang mama mendekati, lalu memperhatikan putrinya. Mengamati pakaian kecil dengan renda-renda yang berada di genggaman Dewi. "Kalau cucu Mama cowok gimana?" tanyanya sembari terkekeh.


Dewi sontak tertawa, lantas tangannya meraba perut yang mulai membuncit.


Dewi pun meringis menyadari kekonyolannya. Ia sendiri belum tahu tentang jenis kelamin sang calon bayi.


"Iya ... ya. Masak anak ganteng dikasih baju cewek." Dewi terbahak, lalu meletakkan baju tersebut kembali ke gantungan.


"Jadi, yang mana, Ma? Aku bingung," ujar Dewi. Jari telunjuknya mengetuk - ngetik dagu. Matanya berkeliling mencari pakaian yang mungkin saja cocok untuk calon bayinya.


"Cari yang celana - celana aja. Yang dingin sama yang modelnya bisa dipakai untuk bayi cewek atau cowok. Nanti kalau udah lahir, baru kita belanja lagi sesuai jenis kelaminnya. Kita borong."


Seolah ada sebuah bola lampu yang bersinar di atas kepala Dewi menerangi pikirannya yang tadi sempat buntu.


"Ah iya. Kalau gitu aku cari, deh." Dewi melangkah, meninggalkan sang mama yang masih terpaku di tempatnya berdiri.


Dewi dengan perasaan gembira memilih model baju sesuai saran mama. Namun, ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Rasanya ada yang kosong di sana. Ada apa?

__ADS_1


Sejenak, Dewi tercenung. Memikirkan hal apakah yang mengganggunya saat ini. Namun, sampai beberapa menit berlalu ia tak juga menemukan apa yang mengganjal di hati. Berusaha abai akan perasaan diri, Ia pun kembali berkutat mencari sesuatu yang bisa menyenangkan perasaannya.


Saat sedang sibuk memilih, tiba - tiba matanya menatap pemandangan pada sepasang suami istri yang sedang memilih pakaian bayi. Sama seperti dirinya.


Bedanya, wanita hamil itu ditemani suaminya. Memilih pakaian terbaik untuk sang buah hati mereka.


Sesekali, sang suami tampak mengelus perut istrinya yang telah buncit. Dewi memperkirakan usia kandungan wanita itu sekitar delapan bulanan, atau malah sudah sembilan bulan.


Di lain kesempatan, sang suami akan menciumi kepala sang istrinya. Kemudahan bercanda bersama, saling bertukar senyum.


Ya, akhirnya Dewi tahu. Hal apa yang membuat hatinya mendadak kosong.


Dewi belanja perlengkapan bayi sendirian. Tanpa di temani Andre, sang suami. Walaupun ada sang mama, tentulah rasanya akan berbeda jika ia belanja bersama ayah dari bayi yang dikandungnya.


Dengan gerakan cepat, Dewi menghapus jejak basah di pipi. Jangan sampai kecengengannya dilihat oleh Mama.


"Udah selesai, belum?" tanya Mama mendekat. Sebab sedari tadi belum menampakkan diri membawa pakaian yang telah dipilih.


"Eh, apa, Ma?" Dewi tergagap merasa telah dipergoki sang mama.


"Udah dapat belum pakaiannya?"


"Belum, bingung soalnya. Kita makan dulu aja ya, Ma. Dewi lapar." Dewi menggandeng lengan sang mama, mengajak wanita itu keluar dari toko perlengkapan bayi menuju restoran di mal tersebut.

__ADS_1


Saat dalam perjalanan, langkah kaki Dewi berhenti mendadak. Di hadapannya ada seseorang yang telah lama tak dijumpainya.


Andre sedang sibuk meladeni pelanggan. Lelaki itu membuka bazar minuman di mal itu.


Dewi melangkah mendekat, ikut antre seperti pembeli yang lain.


Padahal, sang mama telah mencegah. Namun, Dewi tetap melakukannya.


Hingga, antrean itu habis dan giliran Dewi yang dilayani. Andre terkejut bukan kepalang mendapati Dewi berdiri di hadapannya, sayangnya mereka kini tersekat oleh meja tinggi.


Seperti hubungan mereka yang tersekat tembok yang tinggi.


Andre membisu. Ia tetap melayani Dewi sebagaimana mestinya pembeli yang meminta dilayani.


Namun, saat Dewi memberikan uang kepada Andre. Lelaki itu menolak.


"Untuk anakku. Minuman ini untuk anakku. Sudah aku bayar. Silakan," ucap Andre dengan suara bergetar.


"Bagaimana dengan ibunya?" tanya Dewi dengan mata berkaca - kaca.


"Apakah ibunya mau memaafkan aku?" tanya Andre dengan binar penuh harap.


Dewi diam, mulutnya seolah terkunci rapat. Ingin sekali ia berteriak lantang, mengucapkan rindu yang tiada habisnya untuk lelaki itu.

__ADS_1


"Kak, sudah belum. Kami mau beli juga?" teguran pengunjung lain membuyarkan percakapan dua manusia yang dirundung rindu, tetapi terpisah oleh ego yang tiada berkesudahan.


__ADS_2