
Serasa ada yang mencubit hati Andre mendengar penolakan istrinya.
Sesaat Andre bergeming, menimbang apa yang harus dilakukannya setelah ini.
Tidak ada, pikirannya kosong. Hanya dipenuhi oleh Dewi seorang.
Lantas, ia pun memberanikan diri mengelus pucuk kepala Dewi. Menghantarkan perasaan yang sedari tadi seolah mencekik lehernya.
Betapa ia sangat mengkhawatirkan Dewi. Sampai seperti orang gila mencari keberadaan istrinya tersebut.
Tangan kanan Andre memegang dada, merasakan detak jantung yang kian berdebar hebat.
Perasaan apa ini?
'Cintakah? Kenapa aku bisa segila ini memikirkannya?' bisik hatinya.
"Dew, maafkan aku ... aku hanya ... hanya sangat khawatir dengan keadaanmu. Aku seperti orang gila mencarimu ke mana-mana, Dew," ucap Andre penuh permohonan.
Dewi bisa merasakan jika ucapan Andre adalah ketulusan. Hatinya pun tiba-tiba menghangat. Namun, tidak untuk kali ini.
Dewi sekuat tenaga mengeraskan hatinya. Sebentar saja. Ia ingin tahu bagaimana perasaan lelaki itu untuknya.
"Pergilah! Aku tidak mau Kakak di sini. Aku ingin sendiri," ucap Dewi tegas.
Dewi membuka mata. Tampak jelas raut penyesalan di wajah suaminya.
'Tolong, kali ini saja,' tegas hatinya menguatkan.
"Tidak ada yang perlu diselesaikan antara aku dengan dia, Dew. Yang ada antara kita. Kamu salah paham," bujuk Andre.
Dewi berusaha duduk. Ia menepis tangan Andre yang berusaha membantunya.
"Apa maksud Kakak salah paham. Aku selama ini diam, bukan berarti kalian bisa seenaknya saja sama aku. Kalau Kakak mau kembali sama dia, silakan. Ceraikan aku," ucap Dewi dengan bibir bergetar.
Sekuat tenaga ia berusaha menahan air matanya yang telah menggenang di pelupuk mata.
"Kenapa kamu bicara begitu? Aku tidak akan menceraikan kamu," tegas Andre.
"Heh." Dewi tersenyum miring. Hatinya tercabik-cabik mendengar apa yang dikatakan Andre barusan. "Tidak mau menceraikanku, tapi mau menikahi Anggita begitu? Sialan kamu, Kak!"
Dewi memukul-mukul dada Andre yang berusaha merengkuh tubuhnya.
Andre diam saja mendapatkan perlakuan Dewi padanya. Matanya memanas, melihat kesedihan istrinya.
"Maaf," bisik Andre.
__ADS_1
Dewi menangis sesunggukan, tangannya masih memukuli Andre sampai tak lagi bertenaga.
Andre memeluk tubuh Dewi, berulang kali mengucapkan maaf padanya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Anggita. Sejak dia menghilang beberapa waktu lalu, sampai ... sampai dia datang menemuiku di kantor." Andre mencoba menjelaskan pada Dewi.
"Kalian bahkan berpelukan sangat erat sekali. Seperti sepasang kekasih yang saling merindukan. Lebih baik kita berpisah, Kak." Dewi mengurai pelukan Andre. Kemudian mengusap wajahnya yang bersimbah air mata.
"Aku sudah berusaha menerima apa pun yang telah terjadi di antara kalian. Tapi, aku tidak bisa diduakan. Kau enggak mau." Dewi menggeleng.
"Aku tidak akan menduakanmu Dewi. Hanya kamu istriku. Aku sangat menyesal karena pernah berencana menceraikanku waktu itu. Tapi sekarang aku sangat mencintaimu. Sangat, Dew. Aku bisa gila tanpamu. Rasanya ... rasanya seperti ada yang kosong dalam hatiku. Kumohon maafkan aku. Biarkan aku memperbaiki semuanya dari awal."
"Anggita hamil, Kak. Anakmu kan?"
"Bukan. Hanya denganmu aku pernah melakukannya. Tidak pernah pada siapa pun. Percayalah."
"Anggita sendiri yang bilang, kalau dia hamil."
"Apa dia mengatakan dengan jelas jika anak itu adalah anakku?"
Mata Andre menatap dalam pada sorot mata Dewi. Ia tahu, istrinya itu tak akan mampu berbohong.
Mata Dewi membulat kaget, mulutnya menganga.
Kalau saja, mereka sedang tidak dalam keadaan yang kacau seperti ini. Sudah tentulah Andre menerkam habis wajah imut menggemaskan itu.
Dewi menggeleng lemah, lalu tertunduk dalam.
Andre bernapas lega melihat respons kejujuran dari Dewi.
"Lalu, apa yang membuatmu ingin berpisah denganku?" tanya Andre penasaran.
Pasalnya, ia sangat paham betul bagaimana seorang Dewi mencintai Andre begitu dalam.
Jika tidak ada alasan yang berarti tidaklah mungkin Dewi berpikiran untuk berpisah dengannya. Bahkan, istrinya itu sanggup menerima pernikahan yang notabene hanya karena kalah taruhan saja.
"Anggita yang memintanya, karena dia ingin bayinya memiliki ayah."
Andre mengembuskan napas panjang. Ia benar-benar sangat lelah.
"Dan kamu menyerah begitu saja?" tanya Andre tak percaya.
"Lalu aku harus apa? Melihat kalian berpelukan seperti itu, membuatku tahu diri di mana posisiku sekarang," ketus Dewi.
"Apa kamu cemburu?" goda Andre. Ia sangat ingin Dewi mengakui perasaan cemburunya.
__ADS_1
"Tidak. Aku akan cepat menemukan penggantimu. Aku jamin itu," balas Dewi yakin. "Aku akan berpelukan dan bergandengan tangan dengan lelaki lain. Bukan hanya kamu saja yang bisa. Aku juga ...."
Andre menarik paksa kepala Dewi, lalu merampas napas Dewi secara paksa.
Dewi berusaha memberontak. Namun, Andre semakin beringas menaklukkannya. Sampai Dewi akhirnya pasrah, hingga Andre pun melakukannya dengan penuh kelembutan.
"Jangan pernah ucapkan kata itu. Mengerti. Atau kamu akan tanggung akibatnya," tegas Andre. Ibu jarinya mengusap bibir Dewi yang membengkak.
Napas Dewi tersengal, lalu meraup udara sebanyak mungkin mengisi paru-paru. Hangat napas Andre menerpa wajahnya.
'Aku membencimu, Kak. Sangat. Aku benci karena tubuhku selalu merespons setiap sentuhan yang kamu berikan,' sesal Dewi dalam hati.
"Kita pulang, ya ...." Kali ini Andre berkata lembut.
Dewi menggeleng. "Aku ingin di sini. Sehari saja. Atau sampai Kakak mengerti seberapa pentingnya aku untuk hidup Kakak," tolak Dewi.
"Kamu sangat penting bagi hidupku, Dew. Aku sangat membutuhkanmu. Kita pulang yaa ...." Andre berucap dengan memohon.
Dewi tetap menggeleng. "Jika Kakak menganggapku sangat penting. Tentu Kakak akan ingat aku saat berduaan dengan wanita lain. Setidaknya akan ingat akan status pernikahan kita."
"Apa kamu belum bisa memaafkan aku. Kemarin hanya bentuk simpati, Dew. Tidak lebih. Percaya padaku."
Dewi tetap menggeleng. "Pulanglah!"
"Baiklah." Andre berdiri. Sebelum meninggalkan ranjang, ia mengecup kening Dewi. Lama.
***
"Lu beneran mau di sini dulu?" tanya Amika bingung. Mengingat kondisi Dewi yang tengah hamil. Amika khawatir dan tentulah sahabatnya itu membutuhkan suami di sisinya.
"Boleh, ya?" tanya Dewi memohon.
"Iya, boleh. Kalau ada apa-apa langsung bilang. Ingat, ada janin di perut itu."
Tidak berapa lama Arman datang. Merasa heran karena ada motor Andre di depan. Namun, orangnya entah ke mana.
Arman kira Andre ada di dalam. Ternyata tidak ada. Sampai ia pulang, tidak juga menemukan sosok sahabatnya itu.
Padahal, ingin sekali Arman memberi pelajaran kepada Andre karena telah menyia-nyiakan Dewi.
"Udah, sabar. Biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri," ujar Amika menenangkan kekasihnya. Sembari mengelus lengan Arman.
"Iya. Harusnya begitu. Memang seharusnya kita memikirkan acara pernikahan kita saja. Tapi aku mau menghajarnya sekali saja." Arman masih tersulut emosi.
Mendengar penjelasan Amika tadi tentang Andre membuatnya emosi. Satu tinjuan melayang rasanya wajar untuk Andre.
__ADS_1
Namun, sampai Arman mau pulang. Andre tak jua menampakkan diri