Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 58


__ADS_3

Dewi pun akhirnya keluar kamar. mendengar nama Amika, tentu saja ia tidak bisa menolak untuk tidak keluar menemui sahabat terbaiknya itu.


"lho, kok, ku di sini?" tanya Dewi saat melihat Amika tengah duduk berdua dengan Arman.


Amika menoleh, lalu berdiri dan menyambut kedatangan Dewi. ia tersenyum lega karena melihat keadaan wanita hamil itu baik - baik saja.


"Tidak ada sesuatu yang terjadi, kan? lu baik - baik aja?" cecar Amika dengan pertanyaan. Kedua tangannya meraih bahu Dewi. Matanya menelusuri setiap inci tubuh wanita di hadapannya.


Dewi tersenyum, lalu menggeleng pelan. Ia bersyukur dipertemukan dengan wanita sebaik Amika. Sahabat terbaiknya itu selalu ada jika dibutuhkan.


Amika juga selalu siap mendengarkan semua keluh kesahnya. Mengeluarkan seluruh tenaga di kala Dewi membutuhkan dan mencurahkan segenap perhatian di kala Dewi merasa sendirian.


"lu ngapain di sini?" tanya Dewi pelan. Tatapannya lantas tertuju kepada lelaki yang berdiri di belakang Amika.


Arman tersenyum ikut lega melihat keadaan Dewi baik - baik saja. Arman juga menyayangi Dewi seperti Amika menyayangi wanita itu.


“Gua khawatir sama elu, makanya ikut ke sini.” Amika merangkul lengan Dewi lalu mengajaknya duduk di kursi meja makan. Namun Dewi masih bergeming, berdiri didekat kursi tanpa berniat duduk di sana.


“Tuh, lihat, suami lu udah siapin makanan spesial,” ujar Amika seraya tersenyum lebar. Lantas melirik ke arah Arman yang dibaas anggukan oleh lelaki itu.


Mulut Dewi ternganga tak percaya meihat apa yang ada di hadapan. Berbagai macam menu makan makanan terhidang di atas meja. Kemudian, ia pun melihat ke arah Andre yang masih berdiri mematung tidak jauh darinya.


“Ndre,” panggil Arman guna menyadarkan Andre.


Kedua mata Andre mengerjap-ngerjap, lalu bibirnya menyunggingkan senyum tipis. Menyadari jika kini giirannya yang harus mendekat, ia pun melangkah ke arah Dewi yang masih menatapnya.


“Kita makan ya,” ujar Andre seraya menangkup kedua pipi Dewi. Ia tersenyum tipis, lantas tanpa aba-aba dan sepertinya tidak juga malu dilihat kedua temannya itu, Andre mengecup singkat bibir Dewi yang masih sedikit terbuka.


“Aku sengaja nyiapin semua ini—“


“Kakak merayuku?”


Andre terkekeh pelan, lalu memeluk Dewi erat. “Bisa dibiang begitu, semoga kamu suka dengan rayuanku,” bisiknya tepat di telinga Dewi.


Keduanya sama-sama menguum senyum. Yang tidak Andre tahu, ada buncah bahagia di hati Dewi meihat upaya yang diakukan Andre untuk menyenangkan hatinya.


“Maafkan aku,” bisik Andre lembut lalu mengurai pelukan mereka.


Andre menggeser kursi lantas meminta Dewi agar segera duduk. Menyiapkan piring untuk istrinya itu, melayaninya dengan seulas senyum yang terus bertahan di bibir.

__ADS_1


“Ehm.” Arman berdeham pelan. “Hm, sepertinya kami langsung pulang ya,” pamitnya.


“Lho, kenapa?” tanya Amika bingung. Bukannya mereka akan menikmati hidangan itu, bahkan dirinya belum mencicipi masakan tersebut.


“Ikut makan sekalian, dong, Kak. Kenapa malah mau pulang?” Dewi menimpali, matanya memandang Amika dan Arman secara bergantian.


“Aku akan mengajakmu ke suatu tempat,” lirih Arman.


“Ciee ... ehm, ehm,” ledek Dewi pada akhirnya. Ia mengibaskan tangan ke udara untuk menggoda Amika yang tersenyum malu.


“Apaan sih?” Amika menepuk lengan Arman pelan..


“Lagian, ngapain kita di sini. Malah mengganggu acara romantisan orang aja, mending buat acara sendiri lah,” ujar Arman dengan tatapan menggoda.


“Sudah sana, pergi aja kalian,” usir Andre.


“Yeee, tadi aja kelimpungan nyariin istrinya. Udah ketemu, kita diusir,” ketus Amika. Sedetik kemudian keempat orang itu pun tergelak bersama.


“Udah tahu jalan keluarnya, ‘kan? Keluar sendiri ya. Aku sibuk,” balas Andre.


“Iya ... iya. Tenang aja. Kami kan seperti kacang yang kulitnya dilupakan,” sahut Arman menyindir.


Amika dan Arman pun melangkah keluar. Namun, belum jauh ia meninggalkan sepasang suami istri itu, Andre memanggil.


“Bro! Thanks ya!” seru Andre.


Arman menghentikan langkah lalu melambaikan tangan di udara, tanpa menoleh. Lantas ia pun melanjutkan langkahnya kembali. Kali ini benar-benar meninggalkan sepasang suami istri yang sedang ingin berduaan itu.


Andre dan Dewi makan dalam diam. Ah, lebih tepatnya, Dewi sendiri yang menikmati makan malam itu. Sedangkan Andre hanya menatap dalam diam seraya menopang dagu dengan tangannya. Rasanya, di hadapanya itu adalah pemandangan yang sangat indah, ia tak ingin melewatkan pemandangan tersebut walau sedetik pun.


“Kenapa ngelihatin aku kayak gitu? Kakak enggak makan?” dewi menghentikan suapannya lalu menatap lelaki di hadapan dengan tatapan heran.


Bukannya langsung menjawab, Andre malah menautkan kedua tangannya di atas meja. Menumpu pada dagunya. Ia tersenyum hangat dengan tatapan yang terus melekat kepada Dewi.


“Kak, ada apa, sih?” Dewi mulai merasa jengah ditatap sedemikian rupa oleh Andre.


“Kamu cantik kalau lagi lahap begitu,” puji Andre seraya mengulum senyum.


“Gombal terooosss,” balas Dewi dengan wajah merah merona.

__ADS_1


“Tapi suka kan,” balas Andre seraya menaik turunkan kedua alisnya.


“Ish.” Dewi mencebikkan bibir. Namun,tidak bisa dipungkiri, hatinya sangat senang mendapat perlakuan manis dari Andre. Kalau pun lelaki itu akan terus mengumbar gombal pun, Dewi pasti akan senang.


“Dew.” Andre mengulurkan tangan memberi menggenggang tangan wanita di hadapannya, lalu mengelus punggung tangan itu dengan lembut.


Dewi bergumam pelan menanggapi Andre.


“Apa pun yang terjadi kelak, tolong percayalah padaku ya,” ucap Andre serius. Matanya menatap lekat pada manik hitam di hadapannya.


“Memangnya apa yang akan terjadi kelak, Kak?” tanya Dewi tak mengerti dengan ucapan Andre.


“Tidak akan terjadi apa-apa selama kamu percaya kepadaku. Kamu mau kan?”


Dewi berpikir sejanak. Adakah yang disembunyikan oleh suaminya. Kenapa tiba-tiba ia mengatakan hal tersebut? Atau memang selama ini, ia tidak cukup percaya kepada suaminya tersebut.


Namun, melihat keseriusan di kedua manik hitam itu, Dewi seperti terhipnotis. Ia mengangguk tanpa kata, mengiakan apa pun yang dikatakan Andre kepadanya. Dalam hati Dewi berharap agar semua yang dikatakan Andre adalah kebenaran bahwa ia hanya harus percaya. Percaya kepada suaminya itu.


Andre tersenyum senang. Setelah mengecup punggung tangan Dewi, ia pun menyuap nasi ke mulutnya sendiri. Rasa bahagia membuat perutnya terasa lapar. Lantas, keduanya pun makan dalam diam dengan sesekali sata mereka saling melirik.


Mendapati Andre yang membalas lirikannya, Dewi pun tertunduk malu. Hingga makanan di piring selesai, perut terasa kenyang keduanya menghabiskan waktu dengan saling melirik.


***


Pagi yang cerah secerah hati Dewi setelah mendapatkan perlakuan manis dari Andre. Pagi ini, di temani asisten rumah tangganya, Dewi menyiapkan sarapan pagi. Setelah nasi goreng terhidang di meja beserta secangkir teh panas, Dewi melangkah menuju kamar berniat untuk membangunkan Andre.


Akan tetapi, langkah Dewi terhenti kala mendengar suara Andre dari dalam kamar yang membuat kupingnya panas.


“Tentu saja aku tidak bisa. Kehidupan kita telah berbeda. Dan aku sudah tidak mau berhubungan dengan kamu lagi.”


Dewi menempelkan telinga di pintu kamar, menguping pembicaraan itu.


“Bicara dengan siapa dia?” gumam Dewi pelan.


“Istriku juga hamil.”


“Bukan urusanku lagi. Dewi yang jadi tanggung jawabku.”


“Apaan sih?” Sejenak Dewi ragu harus membuka pintu itu atau tetap bertahan mencuri dengar.

__ADS_1


__ADS_2