Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 55


__ADS_3

Andre gelisah. Berulang kali ia mencari posisi yang pas untuk nya berbaring. Tetap saja, semua posisi tidak ada yang dapat membuatnya nyaman. Tidak ada.


Bagaimana dirinya bisa nyaman, jika tubuh jangkungnya harus tidur di kursi panjang.


Setelah bersusah payah memindahkan kursi dari ruang tamu ke kamar, Andre harus menekuk kakinya agar muat berbaring di sana.


Di ranjang mereka, Dewi telah terlelap. Mengabaikan kesulitan yang Andre alami.


Jika saja bukan karena Dewi berniat tidur dengan Bik Inah malam ini. Sudah tentulah Andre tidak akan mau berbaring di kursi yang menyiksa itu.


"Aku mau tidur dengan Bik Inah," ucap Dewi seraya memeluk bantal. Langkahnya telah sampai di pintu kamar saat Andre sang suami tengah kembali.


"Jangan," cegah Andre cepat. Bagaimana bisa dirinya membiarkan Dewi yang hamil besar tidur di kamar sempit itu.


Sudah dipastikan kasur di kamar Bik Inah tidak akan muat untuk tidur berdua.


"Tidurlah di sini, biar aku tidur di lantai." Andre berkata selembut mungkin. Berharap bisa meluluhkan hati Dewi yang sedang diterkam kebekuan.


"Baiklah kalau kamu memaksa," ketus Dewi kemudian berbalik menuju ranjang.


Merebahkan diri di sana, setelah menemukan posisi yang nyaman. Dewi pun terlelap tanpa ada suara lagi.


Tidak juga Dewi berniat untuk bertanya dengan apa Andre akan tidur di lantai. Beralaskan selimutkah? Atau malah tidak memakai alas sama sekali. Sepertinya, Dewi masih mempertahankan suasana hatinya yang merajuk.


Andre menghela napas panjang. Pasrah. Itulah yang bisa ia lakukan.


Memangnya, harus bagaimana lagi. Menghadapi emosi wanita hamil memang sangat menguras tenaganya. Lebih baik dirinya segera tidur.


Akan tetapi, mimpinya hanya sekadar mimpi belaka. Sebab, tubuh lelahnya tak jua mampu mengantarkan matanya menjemput kantuk. Ia masih terjaga dan rasanya ingin sekali memeluk wanita yang tengah berbaring miring di ranjang itu.


"Kesalahpahaman benar - benar membuatku apes. Kenapa juga kemarin melihat dua manusia itu sampai mengabaikan istriku sendiri." Andre mengacak rambut frustrasi. Ia sangat gusar.


Sampai pada akhirnya, rasa itu tak lagi mampu Andre tahan. Ia beranjak dari kursi panjang itu, berjalan pelan mengendap - endap menuju ranjang.


Awalnya, Andre hanya coba - coba dengan menatap wajah lelap istrinya mungkin saja bisa mengundang kantuk yang tak kunjung datang. Sayangnya, usaha tersebut malah memancing keinginan yang lebih.

__ADS_1


Andre mendekatkan wajah, mengecup pelan kening Dewi dengan perasaan penuh sayang. Melihat Dewi yang tidak berkutik menerima perlakuannya membuat Andre meminta lebih.


Entah sejak kapan Andre menyadari jika kini segala apa yang ada pada Dewi telah berhasil membuatnya kecanduan.


Senyum Dewi, harum tubuhnya sampai sentuhannya. Benar - benar membuat Andre gila jika tidak mendapatkan nya.


Sebuah ide terlintas di benaknya. Lantas, Andre pun bangkit mengambil ponselnya yang tergelatak di kursi panjang itu.


Tidak peduli dengan jarum yang menunjuk ke waktu tengah malam, Andre mencari nama seseorang yang mungkin bisa membantunya.


"Halo," sapa Andre penuh semangat.


"Woi, Bro. Lu gila apa? jam berapa ini? gangguin orang aja." Seruan suara dari seberang sana memekakkan telinga.


Andre menutup telinga kirinya dan menjauhkan ponsel di tangan, setelah di rasa kekesalan orang itu telah mereda barulah dipasangnya benda pipih itu ke telinganya kembali.


"Gua butuh bantuan. Penting nih." Andre bernapas lega karena Arman tidak menutup panggilan.


"Bantuan apaan?" Arman mendengkus sebal, tetapi tidak urung bertanya kepada Andre.


Tawa Arman pun menyembur seketika. "Makanya, Bro. Jangan main - main sama perempuan. Baru aja digituin udah kelimpungan. Dasar Cemen lu," ejeknya.


"Sialan," kesal Andre. Bukannya segera mendapatkan solusi untuk masalahnya, sahabatnya itu malah mengejek dirinya habis - habisan.


"Tolongin gua dong, Bro. Bukannya malah diledekin. Lihat aja nanti kalau lu sama Amika ada masalah gua ejek juga lu," omel Andre kesal.


"Heh. Gua enggak akan mengingat - ingat mantan, Bro. Mantan itu pantasnya dibuang ke laut. Bukan malah disimpan dalam ingatan. Enggak pantes." Ucapan Arman memang ada benarnya.


Namun, tetap saja Andre merasa tidak suka jika dinasihati saat ini. Yang ia butuhkan sekarang adalah solusi bukan ucapan saja.


"Iya - iya. Gua kapok. Lagian, kemarin enggak sengaja aja ketemu. Lu kan udah tahu ceritanya gimana," ujar Andre berusaha membela diri. Lebih tepatnya, bukanlah pembelaan melainkan penjelasan.


"Heleh. Enggak sengaja kok sampai lupa lagi jalan sama istri yang lagi hamil anak lu," ketus Arman yang semakin membuat Andre gusar karena terus - terusan dipojokkan dan disalahkan.


"Iya - iya. terus harus gimana dong?" tanya Andre dengan nada menuntut. Ia ingin masalah ini cepat selesai agar bis bernapas lega dan memikirkan yang lain.

__ADS_1


Masalah ini benar - benar menyita waktu dan pikiran Andre.


"Lu harus bisa meyakinkan Dewi kalau lu cinta mati sama dia. Enggak ada lagi mantan di otak lu. dia sudah dibuang ke tempatnya," jelas Arman santai.


"Sudah gua lakuin. Tetap aja enggak mempan," sahut Andre frustrasi.


"Tunggu dulu, dengerin gua," sela Arman agar Andr tidak menyela perkataan nya.


"Sorry ... sorry."


"Setelah itu, lu ajak Dewi makan malam berdua aja di restoran atau di cafe. atau di depan rumah deh yang lebih murah. dalam rumah juga enggak masalah. yang penting harus spesial dan romantis," jelas Arman dengan semangat.


"Spesialnya lu harus masak sendiri. Masak makanan kesukaan Dewi. Jangan lupa tempat harus romantis, desain secantik mungkin dan berikan bunga untuk dia. gua jamin Dewi bakalan langsung maafin lu deh "


"lu yakin?"


"seribu persen."


obrolan pun berlanjut sampai dini hari. Untung saja esok harinya Andre bisa cuti dan tugasnya digantikan yang lain.


Andre tersenyum puas, tidak sabar menunggu hari esok dengan segala rencana yang ada di kepalanya.


mencatat menu makanan yang akan di masak dan mencari referensi dekorasi tempat yang romantis.


Selama Andre mengerjakan semua keperluannya, Dewi akan diizinkan pergi ke tokonya dan Arman juga harus menghubungi Amika untuk melancarkan rencananya.


Tanpa disadari Andre, Dewi tersenyum di ranjangnya mendengar percakapan suaminya.


Bagaimana Dewi tidak terjaga jika suara Andre begitu nyaring mengisi kamar mereka.


Dewi pun tidak sabar menunggu apa yang akan terjadi esok hari. Jika boleh jujur, dirinya hanya ingin mengetes kesungguhan Andre dalam merayunya. Apakah Andre akan mengabaikannya jika ia ngambek atau malah mencoba melakukan hal - hal luar biasa. Seperti yang tengah Andre rencanakan.


Dewi mengelus perut buncitnya dengan senyum terkembang. Dan membiarkan dekapan tangan dari belakang punggungnya.


Dewi pura - pura masih tertidur lelap agar Andre leluasa mendekapnya dari belakang.

__ADS_1


__ADS_2