
Hai, semoga kalian masih ingat dengan cerita ini. 🤭🤭🤭
***
Benar adanya, Andre telah berubah. Ia memberikan segenap perhatian kepada Dewi. Begitulah yang wanita itu rasakan.
Di sela kesibukannya bekerja, Andre akan menyempatkan diri menghubungi istrinya walau sekadar lewat pesan singkat.
'Sayang, sudah makan belum?'
'Sudah mandi belum?'
Hingga beberapa menit kemudian tak jua mendapat balasan dari Dewi. Andre pun mencoba menghubungi istrinya tersebut. Panggilan pertama, kedua, tiga samapi pada panggilan kelima. Barulah Dewi menjawab panggilan itu.
"Kamu dari mana saja. Dew?" cecar Andre tidak sabar. Tanpa salam dan tanpa sapaan. pikirannya kini telah diliputi rasa khawatir, ingin rasanya dirinya segera pulang dan memastikan kondisi sang istri. akan tetapi, tentu saja itu tidak;lah mungkin apalagi banyak pelanggan yang mengunjungi stand mereka.
Andre semakin geram, pasalnya bukan mendapat jawaban dari Dewi malah terdengar kekehan pelan dari seberang sana.
"aku sedang serius, Dew. tidak sedang main - main," tegas Andre dengan nada kesal.
"Iya, maaf. Tadi keasikan buat kue sama bik inah sampai tidak ingat kalau ponsel aku letakkan di kamar," balas Dewi dengan suara riang.
Andre mendesah gusar. membayangkan raut ceria istrinya di rumah saat ini tentu saja berhasil memantik rasa rindunya.
"Kamu membuatku khawatir, tahu tidak?" dengkusnya sebal.
"Benarkah?" ledek Dewi. "Apa aku perlu ke sana untuk menenangkan rasa khawatirmu?" tanyanya lagi.
Andre mengulas senyum di bibir. andai saja Dewi tahu, jika lelaki itu tengah membayangkan wajah imutnya dengan pipi tembam.
"Tidak perlu. Mendengar suaramu saja sudah cukup menenangkan," ungkap Ander jujur.
Sedetik kemudian terdengar dehaman keras dari seseorang di belakangnya disertai ledekan penuh godaan.
"Jangan percaya, Dewi. Andre ngegombal," seru Arman.
"Dasar rese. pergi sana," usir Andre dengan mata mendelik garang.
__ADS_1
Arman tertawa senang melihat sahabatnya telah berbaikan dengan Dewi. Bagaimana pun, Arman menjadi orang pertama yang bersedih saat melihat hubungan sepasang suami istri itu merenggang.
"Kak Arman, ya?" tanya Dewi dengan senyum terkulum mendengar godaan Arman tadi.
"Iya. rese emang lelaki satu itu," jawab Andre dengan intonasi yang masih terdengar kesal .
"Jadi, sejak kapan Kak Andre belajar ngegombal?" tanya Dewi polos. wajahnya kini memerah menahan malu.
"Itu bukan gombalan, Dew. itu ungkapan jujur dariku. jangan dengarkan Arman. dia itu menyesatkan," sela Andre.
"Benarkah?" tanya Dewi lagi meyakinkan diri. sejujurnya ia sangat bahagia mendengar gombalan yang dilontarkan Andre kepadanya. apakah itu bisa dijadaikan tanda jika suaminya tersebut telah memiliki rasa yang lebih dan tulus padanya. maka, biarkan waktu yang akan menjawab semuanya.
"Tentu saja. aku sayang kalian," ujar andre tulus.
Setelah mematikan sambungan, Andre kembali fokus pada pekerjaannya. wajahnya tampak berseri-seri membayangkan ekspresi malu-malu yang ditampilkan Dewi.
Saat di rumah nanti Andre berjanji jika dirinya akan menggoda wanita itu. lalu memandangi raut wajah yang memerah karena malu tersebut dengan puas.
Andre tersenyum membayangkan keasyikannya di rumah nanti.
Benar saja, sesampainya di rumah Dewi telah menunggunya di ruang tamu. wanita itu telah mengenakan pakaian terbaiknya, memoles wajah dengan make up tipis dan sudah mandi tentu saja.
Seulas senyum terbaik Dewi tampilkan menyambut kepulangan Andre.
Setelah mencium punggung tangan sang suami dengan takzim yang dibalas kecupan lembut nan lama di kening, Dewi memeluk Andre dengan posesif, menghirup aroma keringat yang bercampur parfum itu dengan dalam. rasanya sangat menenangkan dan membuat candu.
"Apa ini bawaan bayi, hm?" tanya Andre pelan dengan tangan mengelus puncak kepala Dewi dengan sayang.
"Mungkin," jawab Dewi malu-malu.
"Kalau begitu, kamu harus hamil sepanjang waktu.," balas Andre terkekeh.
"Apa?" Dewi mengurai pelukan dan mendelik dengan wajah merajuk.
"Iya, tapi tanpa harus merasakan mual dan muntah seperti sebelumnya," sahut Andre.
"Mana bisa begitu. aku ini hamil anak manusia, bukan anak alien," celetuk Dewi yang membuat Andre tertawa terbahak.
__ADS_1
Lantas keduanya pun berjalan dengan tangan yang masih saling berangkulan menuju kamar mereka. istana kecil yang menjadi saksi betapa kini mereka berdua saling merindukan. sampai - sampai tak mampu menahan gejolak rindu yang telah teredam di dada seharian ini.
Mengabaikan ketukan di pintu kamar dari bik inah yang mengingatkan keduanya untuk makan.
Andre dan Dewi keluar dari kamar dengan wajah segar dan rambut ... basah. duduk di kursi makan lalu Dewi pun segera mengambilkan nasi untuk Andre makan. tidak lupa lauk dan sayurnya. Sedangkan bik inah memilih masuk kamar, ia tidak ingin mengganggu kedua majikannya tersebut.
Kini, pujian - pujian pada hal - hal kecil lebih mudah Andre berikan. mengenai apa saja, masakan yang enak, wangi tubuh istrinya atau sekadar mengomentari wajah Dewi yang semakin hari semakin terlihat cantik.
Andre pun akan sangat senang mendapati wajah istrinya bersemu merah dengan senyum malu - malu. kenapa tidak dari dulu dirinya menyadari betapa menariknya Dewi?
"Oh iya, aku ambilkan kue tadi yang dibuat, ya?" Dewi berdiri lalu berjalan ke dapur tanpa menunggu jawaban Andre.
"Ini dia, brownis pisang," ucap Dewi penuh semangat sembari meletakkan kue buatannya tersebut ke atas meja.
Dewi semakin bersemangat saat mendapati Andre yang menatapnya dengan penuh minat, lantas mencuil brownis tersebut dengan jarinya.
"Bukan gitu makannya, Kak," tegus Dewi dengan suara terkekeh pelan.
"Jadi gimana dong, aku sudah tidak sabar memakannya," sahut Andre.
siapa sangaa, jika Dewi berniat menyuapi ANdre.
"Aaa," ucap Dewi dengan menyodorkan kue tersebut di hadapan Andre.
Andre membuka mulut dengan binar bahagia. "Rasanya sangat nikmat. sepertinya ini pertama kalinya aku merasakan makanan senikmat ini," puji andre antusias.
"Mulai deh ngegombalnya," timpal Dewi malu - malu.
"Aku serius." Kini tatapan andre berubah hangat lantas tangannya menggenggam kedua tangan dewi dan menciumnya lama.
"kalau begitu, apakah aku boleh berkunjung ke toko," tanya dewi hati - hati. dirinya memang berniat merayu andre dengan kue tersebut.
"Jadi, ini sebagai ajang merayu ya?" tanya Andre dengan raut asam. namun, segera ia mengubah ekspresinya kembali datar agar sang istri tidak merasa kecewa.
"Hm, bisa dibilang begitu. aku sangat suntuk berada di rumah terus. ingin sekali kali mengunjungi toko dan mengobrol dengan amika," rayu dewi.
"Dia saja yang diminta untuk datang kemari, ya. aku yakin arman akan setuju. tokonya bisa dihandle karyawan dulu kan sebentar?" sepertinya andre memang tidak mudah diluluhkan.
__ADS_1