
Andre tampak ragu membicarakan masalah ini kepada Dewi. Namun, hal itu membuatnya tidak fokus saat bekerja.
Seharian, hal tersebut mengusiknya selama di kantor.
Setelah pulang dari periksa, setelah memastikan Dewi beristirahat dengan nyaman. Andre berangkat bekerja.
Sebenarnya, Andre telah mengajak Dewi pulang ke rumah mereka. Namun, istrinya tersebut masih enggan kembali dengan alasan ingin mengobrol dengan Amika.
Lantas, Andre pun memutuskan agar esok harinya mereka baru pulang ke rumah.
Dewi akhirnya setuju. Semalam lagi mereka menginap di rumah Amika itu sudah cukup.
"Dew ... mmm, Amika mana?" tanya Andre basa-basi. Mencoba meredam kegugupan yang ia rasakan.
"Keluar sama Kak Arman. Ada apa, Kak?" tanya Dewi bingung.
"Oh, itu. Enggak. Kamu gak pingin jalan ke luar juga, gitu?"
"Enggak deh. Di rumah aja. Kak Andre mau jalan ke luar ya? Gpp, kok kalau mau pergi."
"Bu ... bukan gitu. Enggak, aku mau di rumah aja sama ka-mu."
Andre duduk di bibir ranjang. Tubuhnya gelisah, ingin mengatakan sesuatu, tetapi bingung memulainya dari mana.
Sedangkan Dewi masih sibuk mengamati layar ponselnya. Entah apa yang sedang ia lihat. Andre berniat mencondongkan badan demi melihat apa dibaca Dewi, tetapi diurungkannya.
"Mmm, Dew," ucap Andre pelan.
"Ya?" Dewi mendongak. Menatap mata Andre yang tengah menatapnya lekat.
Sesaat hanya hening yang terjadi di antara keduanya. Mendadak tubuh Andre menegang, lidahnya kelu untuk mengatakan sesuatu yang telah disusunnya di kepala.
"Ada apa, Kak?" tanya Dewi. Keningnya berkerut melihat ekspresi wajah lelaki di hadapan yang tampak serius.
"Hmmm, itu ... anu." Suara Andre tercekat di tenggorokan. Tiba-tiba ia begitu kesulitan merangkai kata-kata. Lantas, Andre pun berdehem pelan. menetralkan gejolak dalam dada yang memburu. "Tadi, waktu kita periksa. Aku lihat Anggita di sana," lirihnya. "Bukan ... bukan maksudku begitu. Aku cuma mau cerita dia di sana sama siapa," lanjut Andre setelah melihat mata Dewi membeliak.
Andre meraih tangan Dewi, menggenggamnya erat. Ibu jarinya mengelus permukaan kulit tangan wanita itu.
Andre tahu, Dewi sedang tidak baik-baiks saja.
__ADS_1
Andre menarik pekan tangan Dewi, lalu mengecup punggung tangannya.
"Anggita di sana sama Robi. Aku curiga bahwa Robi-lah ayah dari bayi yang ada dalam perut Anggita." Andre menghela napas dalam, melirik sebentar pada wanita di hadapan. Ia tidak mengerti makna ekspresi istrinya tersebut. "Aku ingin terbuka denganmu, membicarakan apa pun," lanjutnya.
"Lalu?"
Andre mengulum senyum. Merasa puas mendengar respon dari Dewi.
"Robi itu teman aku. Kami terbiasa bertiga. Aku, Arman dan Robi selalu bersama. Aku tahu jika Robi pernah menaruh hati pada Anggita. Tapi, dia harus mundur karena ternyata wanita itu ... menyukaiku."
Dewi menunduk. Seperti ada yang meremas hatinya. Dadanya serasa sesak.
"Hei!" Andre meraih dagu Dewi dengan jari telunjuknya agar wanita itu mendongak, membalas tatapan matanya. "Sekarang itu semua hanya masa lalu. Kamu ... wanitaku, istriku, calon ibu dari anak-anakku. Aku hanya ingin jujur apa pun padamu. Tidak ada yang akan aku sembunyikan lagi darimu. Kamu ... percaya padaku 'kan?"
Sesaat Andre menahan napas menunggu respon Dewi. Lantas, ia pun bisa bernapas lega saat Dewi mengangguk dengan seulas senyum yang terkembang di bibir.
"Aku percaya padamu. Setidaknya, aku memberi kesempatan itu padamu, Kak," ucap Dewi.
"Terimakasih," bisik Andre.
Lelaki itu mendekatkan wajah. Semakin dekat, sampai helaan napas terasa saling menghangatkan. Ia semakin gemas mendapati wajah sang wanita yang tampak merona. Lantas, tangannya terulur membelai surai hitam itu, lalu beralih ke tengkuk wanitanya. Mendorongnya pelan, hingga wajah keduanya tak lagi berjarak.
Awalnya, tidak ada pergerakan di antara mereka. Andre meragu, lantas ia pun mengintip. Mendapati Dewi yang memejamkan mata, seolah memberikan kekuatan tersendiri bagi jiwanya yang bergejolak. Lantas, ia pun sedikit berani sampai kesunyian malam itu terdengar syahdu oleh suara kecupan.
Andre mengelus perut Dewi yang masih rata, lalu memberi kecupan-kecupan kecil di sana.
"Terimakasih," bisiknya.
"Untuk?" Dewi menahan kepala Andre agar membalas tatapannya.
"Untuk semua cinta yang kamu berikan. Terimakasih, karena mau bertahan dengan lelaki sepertiku. Terimakasih karena sudi menjaga dia dalam perutmu." Andre kembali menciumi perut Dewi, seolah makhluk kecil benar-benar bisa disentuhnya.
"Sama-sama," balas Dewi sembari mengelus kepala Andre.
"Sebenarnya, aku ingin kamu. Tapi ... takut kamu kelelahan," ucap Andre dengan tatapan sekelam malam. "Jadi ... mmm, kita tidur begini saja. Ya?" Andre bergerak memeluk tubuh Dewi dalam pelukan.
Dewi membalas pelukan suaminya, meletakkan kepala di dada bidang itu.
"Besok kita temui Anggita bersama ya?" tanya Andre dengan suara pelan.
__ADS_1
Dewi mengangguk sebagai jawaban. Walaupun sebenarnya ia ragu dengan apa yang akan terjadi esok hari. Namun, seperti tadi, ia berusaha percaya pada lelaki itu.
Lelaki yang namanya telah bersemayam lama di singgasana hatinya.
***
Andre berdiri dari kursinya saat mendapati sosok Anggita telah di depan mata. Tampak jelas tertangkap matanya, wajah kaget Anggita.
Melihat Anggita yang memundurkan langkah, dengan sigap Andre mencekal lengan wanita hamil itu.
"Apa kamu sengaja menjebakku?" tanya Anggita lirih. Matanya menatap sinis pada Dewi.
"Tentu saja tidak. Aku ingin kita menyelesaikan masalah ini," balas Andre.
Andre menarik tangan Anggita agar mau duduk di kursi yang telah ia pesan.
Dengan terpaksa, Anggita mengikuti Andre. Duduk berseberangan dengan Dewi.
"Hai, Kak," sapa Dewi basa-basi.
Anggita tidak membalas, ia tetap setia memasang wajah ketus.
Jika biasanya Andre akan luluh mendapatkan tatapan itu darinya. Kini, tampaknya tidak lagi. Sebab, setelah lelaki itu membantunya duduk, Andre langsung duduk di samping istrinya. Berbisik entah apa karena tidak terdengar oleh Angggita.
Sialnya, Dewi tersenyum mendengar bisikan lelaki di sebelahnya.
Sekuat tenaga Anggita menahan diri agar tidak mengamuk maupun berteriak. Menyaksikan kemesraan sepasang suami istri itu di depan mata. Ia masih tahu diri. Menjaga keanggunan dan keegoan yang masih berusaha ia pertahankan.
"Gombal, ih. Cepet mau bilang apa. Anggita udah nunggu tuh," bisik Dewi yang membuat gelak tawa di mulut Andre.
Dewi mencubit perut Andre dengan gemas. Merasa jika Andre sengaja mengumbar kemesraan mereka di depan Anggita.
"Aww. oke. oke."
Andre berdehem pelan. Kedua tangannya saling bertautan di meja. Pandangannya lurus ke depan menatap wanita yang duduk di seberangnya.
"Anggita, aku pernah lihat kamu cek kandungan bersama Robi," ucap Andre pelan. Dapat ia lihat dengan jelas raut keterkejutan di wajah Anggita.
"Ka-kapan?" tanya Anggita gugup.
__ADS_1
"Lupa harinya," jawab Andre santai. "Robi ayah dari anak yang kamu kandung 'kan?"
Anggita menahan napas mendengar pertanyaan Andre.