
Merasa terpojok dengan tatapan nanar yang diberikan Dewi. Andre menghela napas dalam, lalu mengeluarkannya secara perlahan dari mulut. Bersusah payah lelaki itu berusaha agar hembusan napasnya tidak terdengar bahkan oleh kedua telinganya sendiri.
"Dew, aku hanya ...." Andre kebingungan, satu tangannya terulur ke depan.
Ingin sekali rasanya memeluk wanita di hadapan nya yang tengah memasang wajah cemberut. Menggoda wanitanya lalu mengungkapkan kata - kata cinta seperti pasangan - pasangan normal lainnya. Akan tetapi, Andre harus sadar diri bahwa hubungan mereka saat ini tidak seharmonis itu.
Andre juga tidak ingin terburu - buru dalam mendekati Dewi. Ia tak ingin wanita itu beranggapan jika dirinya tidak sabaran dan cenderung tergesa - gesa.
"Maafkan aku, aku tidak bermaksud memaksamu," lirih Andre dengan perasaan kecewa.
Andre harus mengakui, jika akhir - akhir ini ia sering mengucapkan kata maaf dan penyesalan. Berulang - ulang. Entah Dewi akan merasa bosan atau tidak dengan dua kata sakti itu. Sejujurnya, Andre selalu merasa frustrasi berhadapan dengan wanita hamil yang tengah duduk di pinggir ranjang tersebut.
"Apa Kakak benar - benar berjanji dengan ucapan Kakak?" Pertanyaan Dewi sontak membuat tubuh Andre menegang tak mampu berkutik.
Pikiran Andre sibuk mencerna apa maksud perkataan Dewi barusan.
"Apa Kakak benar - benar berjanji tidak akan melakukan kesalahan yang sama?" tanya Dewi lagi penuh keraguan.
Andre masih terpaku di tempatnya. Bingung harus merespons apa pada pertanyaan itu. Sungguh, jika saja Dewi mengharapkan jawaban darinya, tentulah Andre akan menjawab iya secara suka hati. Namun, Andre sadar betul, jika pertanyaan yang diajukan Dewi adalah pertanyaan yang hanya untuk meyakinkan hati Dewi sendiri.
Ah, betapa Andre selama ini terlalu menyakiti Dewi. Sampai - sampai, Dewi sangat meragukan kesungguhannya.
"Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya dengan kesungguhanku, Dewi?" tanya Andre lemah.
Pada akhirnya, Andre tidak tahan jika tidak menanyakan pertanyaan tersebut.
Dewi menoleh, lalu tersenyum tipis. Tampak sekali kedukaan yang tersirat di binar matanya itu.
Andre menahan napas. Sungguh dirinya telah berubah menjadi sosok yang berbeda. Ini bukan Andre, ini bukanlah dirinya yang sebenarnya.
Dewi menggeleng pelan, lalu mengutas senyum tipis. Wanita itu membalas tatapan Andre padanya.
"Ayo, kita tinggal bersama, Kak," ucap Dewi pelan.
Mata Andre terbeliak tak percaya dengan kalimat yang baru saja didengarnya.
__ADS_1
"Maksud kamu?" tanya Andre. Tiba - tiba saja ia merasa menjadi tuli.
Melihat Dewi yang memalingkan wajah, Andre buru - buru meralat ucapannya.
"Kita pindah sekarang, ya ...." Andre berjalan mendekati Dewi lalu berjongkok di hadapan wanitanya.
Kedua tangan Andre menggenggam erat tangan Dewi di pangkuan. Mengecup pelan punggung tangan itu lalu mengucap terima kasih dengan tulus.
"Sekarang sudah malam, kita menginap saja malam ini. Besok pagi - pagi sekali, kita pergi," ucap Dewi lembut yang serta merta dibalas anggukan berkali - kali oleh Andre.
Dewi tertawa pelan, lalu berkata pelan, "Apa Kakak sebahagia itu?"
"Iya, tentu saja aku sangat bahagia. Sangat," balas Andre dengan kedua mata yang memanas.
Andre berdiri lalu merengkuh tubuh Andre dalam pelukannya. Setitik bening tidak mampu dicegah nya untuk mengalir. Buru - buru Andre menyeka kedua air matanya. Ia tidak ingin Dewi melihatnya menangis seperti ini, walaupun berupa tangisan kebahagiaan.
***
Di meja makan, anggota kelurga tidak ada yang ingin memulai obrolan. Tampaknya mereka tengah serius menikmati hidangan makan malam yang tersaji di meja.
Tidak banyak tanggapan dari Bambang dan istrinya. Lelaki paruh baya itu hanya berpesan bahwa putrinya harus bahagia. Ia menekankan jika kebahagian Dewi di atas segalanya. Sedangkan sang istri, hanya menangis entah dengan perasaan yang bagaimana.
Andre menatap kedua mertuanya dengan seksama. Menyadari jika berapa berharganya Dewi di keluarga ini. Tentu saja, Dewi adalah putri tunggal keluarga ini.
Hingga hanya ucapan maaf dan terima kasih yang mampu Andre ucapkan.
Usai makan malam, sepasang suami istri tersebut berbaring di ranjang dengan posisi saling berhadapan.
Tangan Andre terulur mengelus perut buncit istrinya. Meraba - raba di sana, merasakan pergerakannya dari dalam. Lalu, Dewi akan mendapati binar bahagia yang terpancar dari kedua mata Andre.
"Dia aktif sekali di dalam sana? Apa yang sedang dilakukannya?" tanya Andre tidak sabaran.
"Iya, dia aktif," balas Dewi dengan wajah berseri - seri. "Mungkin sedang bermain sepak bola," lanjut Dewi terkekeh.
"Ha? Bolanya dari mana? Masak perut kamu bisa dimasuki bola, sih?" ucap Andre tak percaya.
__ADS_1
Ekspresi Andre yang terlihat sangat menggemaskan di mata Dewi.
Dewi pun mencubit gemas pipi Andre dengan perasaan yang membuncah bahagia.
"Aw! Kok aku yang dicubit pipinya, Dew?"
Dewi semakin tergelak, tertawa hingga kedua matanya mengeluarkan air mata. Sepertinya ini pertama kalinya ia tertawa dengan perasaan bahagia seperti sekarang setelah sekian lama hatinya dirundung duka.
"Besok kita lihat anak kita yaa, Kak. Biar papanya ini tahu apa yang dilakukan si bayi dalam perut mamanya," ucap Dewi kemudian setelah tawanya mereda.
"Beneran bisa dilihat dia ngapain di dalam sana?" tanya Andre antusias.
Dewi mengangguk berulang kali. Kali ini tangisan bahagianya tidak bisa dibendung lagi, ia biarkan air matanya mengalir membasahi pipi sebagai tanda kebahagiaan yang tengah menguasai hatinya.
"Jangan menangis," ucap Andre lirih sembari menghapus jejak basah di kedua pipi Dewi.
Dewi menggeleng pelan. "Aku menangis bahagia," lirihnya dengan suara parau.
"Terima kasih ... Terima kasih telah memberiku kesempatan," ucap Andre pelan yang dibalas anggukan oleh Dewi.
Kemudian, Andre pun beringsut menggeser posisinya untuk maju ke depan mendekati Dewi. Ragu - ragu ia berucap pelan.
"Apa boleh ... apa boleh kalau aku menciummu?"
Dewi mengangguk dengan wajah merah menahan malu. Tidak menunggu waktu sedetik kemudian Andre mengecup bibir Dewi singkat.
Andre memundurkan wajah, menatap dan mengamati ekspresi Dewi yang masih memejamkan mata.
Andre kembali mengulang hal menyenangkan yang tadi hanya sejenak saja. Kini ia melakukan nya dengan perlakuan yang lebih lembut dan dalam. Seolah - olah tengah mengungkapkan segala rasa yang ia miliki.
Ya, harus diakui. Jika Andre tetap seorang lelaki dewasa yang normal. Yang awalnya hanya ingin menikmati bibir istrinya kini keinginannya semakin besar dan ia tak bisa mengendalikan dirinya untuk tidak meminta lebih.
Lelaki itu sangat bersyukur dan merasa menang sebab sang wanita tampaknya tidak berniat menolak, atau malah tak kuasa menolak.
Bagaimana Dewi bisa menolak keinginannya, sedangkan dirinya telah mengungkung tubuh seksi itu dengan posesif.
__ADS_1
Andre sekarang harus mengakui dengan senang hati, jika tubuh subur Dewi saat ini sangat terlihat seksi tentu saja sangat berbeda dengan tubuh wanita itu sebelum hamil.