
Kata Arman, berhubungan dengan istri bisa menyembuhkan penyakit.
Masih kata si Arman, obat sakitnya si lelaki itu yaa ... wanita.
Sial.
Andre baru membuktikannya sekarang. Ou, bukan. Lebih tepatnya ... ia baru saja mengakui jika perkataan sahabat semasa kuliahnya itu benar. Dan, rasa rasanya setiap perkataan Arman itu selalu benar.
Oke.
Andre mengakui kelahiran Arman dalam berubah tangga. Ia juga ingin menjadikan lelaki itu sebagai guru favorit nya di kemudian hari.
"Udah enggak panas lagi." Sentuhan lembut di dahinya menginterupsi pikirannya yang tengah mengakui kebenaran nasihat Arman.
"Iya. Aku udah sembuh. Kan udah bilang kalau udah sehat wal afiat," sahut Andre sembari terkekeh pelan.
"Iya ... iya, bayi besarku." Dewi mengacak rambut Andre yang memang sudah acak acakan. Wajah lelaki itu tampak lebih ceria dari beberapa jam lalu.
"Obatnya mujarab banget, sih. Bikin nagih ...." Andre berujar jahil.
"Iya, dokternya hebat," sahut Dewi polos.
"Mau lagi dong," pinta Andre dengan wajah mesumnya.
"Gimana gimana maksudnya? kan obatnya ada dosis dan jam nya ya, enggak bisa diminum kapan saja sesuka hati," tanya Dewi polos. Matanya mengerjap ngerjap menatap wajah Andre. Ia tidak mengerti ke mana arah pembicaraan ini.
"Enggak kok, obatnya bisa diminum kapan saja. Asalkan di tempat sepi." Setelah mengatakan itu, Andre langsung menghapus jarak di antara mereka. Belum puas dengan itu, lelaki tersebut bergerak memerangkap tubuh Dewi dalam dekapannya.
Saat binar di kedua mata itu mulai menggelap, tiba tiba harus terang benderang karena terdengar suara gedoran di pintu disertai seruan dari seseorang yang tentu saja sangat mereka kenal.
__ADS_1
"Mama! Papa!"
"Sepertinya, obatnya tidak bisa diminum kapan saja. Harus diminum di tempat sepi dan di jam jam sepi." Dewi mendorong dada Andre lalu terkekeh pelan. Ia merasa lucu dengan istilah yang digunakan Andre tadi. Dan merasa lucu saat melihat wajah suaminya itu berubah masam.
"Saat si kecil tidur dan dipastikan tidak mengganggu," keluh Andre.
Dewi tergelak lalu berjalan cepat menuju pintu kamar, sebab suara seseorang di sana semakin terdengar kencang dan menjadi jadi. Bisa bisa para pelayan akan datang dan kebingungan melihat Adrian yang meraung raung di depan pintu kamar kedua orang tuanya. Dewi masih sangat malu jika terpergok tengah melakukan sesuatu.
Dewi merupakan rambut dan penampilan nya sebelum memutar kunci pintu kamarnya. Begitu pintu dibuka, Adrian langsung berlari menuju ranjang. Bocah itu melompat lompat di atas ranjang yang sudah kosong tersebut, sebab Andre sudah tidak ada di sana.
Dewi pikir, jika suaminya tersebut masuk ke kamar mandi saat dirinya beranjak membukakan pintu kamar tadi.
Benar saja, beberapa menit kemudian ... Andre keluar dari kamar mandi dengan rambut basah. Wajah lelaki itu tampak lebih segar tak semuram tadi. Tentu saja, mana berani Andre menunjukkan wajah muramnya di hadapan sang jagoan kecilnya itu.
"Hei, jagoannya Papa!" Andre berseru lalu melompat menangkap Adrian yang masih melompat lompat do atas ranjang. Selanjutnya, terdengar suara gelak tawa dari keduanya. Andre menggelitik perut Adrian dengan gemas.
"Ma," panggil Adrian pada sang mama yang duduk di kursi rias memperhatikan mereka, "Papa sudah sehat, ya?" tanyanya kemudian dengan binar penuh harap.
"Hm," gumam Dewi sembari mengangguk pelan. Senyumnya terbit untuk membuktikan kebenaran atas apa yang dilihat sang anak.
"Yeyeyeye, papa sudah sehat. bisa main bareng lagi." Kontan saja Adrian berseru riang. Ia pun kembali melonjak lonjak di atas ranjang.
Dewi dan Andre saling berpandangan dengan senyum penuh makna. Betapa kesehatan keduanya sangat berharga bagi si makhluk kecil itu. Jika salah satu dari mereka ada yang sakit, maka malaikat kecil mereka pun akan bersedih. Dan saat sehat maka Adrian pun akan merasa bahagia.
"Adrian mau ke mana, Sayang?" tanya Andre sembari meraih lengan Adrian. Menariknya pelan agar duduk di pangkuannya kembali.
"Boleh ke mana aja, Pa?" tanya Adrian polos. Mata beningnya mengerjap ngerjap pelan menunggu dengan sabar jawaban sang papa.
"Hm, ke mana ya?" Andre meletakkan jari di dagunya lalu menolehkan kepalanya ke kiri dan ke kanan, seolah tengah memikirkan dengan serius sebuah tempat yang akan mereka kunjungi. "Gimana kalau kita mama saja?" ujarnya kemudian memberikan usulan.
__ADS_1
Lantas, kedua lelaki beda usia itu pun menoleh kepada satu satunya wanita yang berada di kamar itu. Menatap dengan binar yang sama. Dewi yakin, jika kelak wajah Adrian dewasa akan sama persis seperti Andre sekarang. Dan, Dewi tidak sabar menunggu waktu itu.
"Kalau ke mall aja gimana? Sudah lama Adrian enggak belanja mainan. Dan ... kita bisa nonton bareng di sana. Lalu makan makan, setelah itu Adrian bisa main di sana. Setelah dari sana ...."
"Yeee! Ayo, Ma. Adrian mau ... Adrian mau." Kedua tangan Adrian terangkat ke atas dengan penuh semangat. Lantas kepalanya menoleh ke arah Andre, "Papa setuju, kan, dengan usulan mama. Usulannya keren lho, Pa," ujarnya kepada sang papa.
"Kalau usulan mama keren, kita harus kasih hadiah ke mama dong." Andre menurunkan Adrian lalu mendekat pada sang istri. Mencium pipi wanita itu diikuti oleh Adrian. Kemudian kedua lelaki itu memeluk Dewi dengan perasaan sayang yang membuncah.
Tidak ingin membuang buang waktu, Adrian langsung mengajak kedua orang tuany menjalankan rencana mereka.
Selama di mobil, Adrian bernyanyi riang lalu sesekali bercerita apa saja, kegiatan sekolah, menceritakan teman temannya maupun menceritakan gurunya. Pelajaran di sekolah pun tak luput menjadi bahan kisahnya selama perjalanan menuju tempat tujuan.
Sebelum turun dari mobil, Dewi banyak memberikan pesan kepada anak semata wayangnya itu. Mulai dari jangan lari lari di mall, jangan lepas dari pegangan kedua orang tuanya sampai harus meminta izin dulu jika ingin apa apa. Rupanya wejangan itu tidak hanya diberikan kepada Adrian, Andre pun mendapatkan giliran.
"Jangan dibiarkan Adrian main sendirian, ya, Pa. Jangan sampai lepas dari pengawasan. dan ... jangan sampai ...."
"Iya, Sayang. Iya. Aku enggak akan meninggalkan Adrian sendirian. Mataku akan selalu tertuju kepada Adrian. Enggak akan ke mana mana," sela Andre lalu mecubit gemas pipi wanita yang duduk di sampingnya.
Lantas, Dewi pun turun lebih dahulu lalu ia membuka pintu belakang menuntun Adrian agar turun mengikutinya.
Seperti dugaan Dewi, Adrian berlari ke sana kemari layaknya anak yang baru lepas dari kandang. Ia menjerit jerit memanggil bocah itu agar tidak jauh jauh dari sang papa.
Andre tampak mengejar sang anak lalu dengan sigap menggendong Adrian.
Dewi bernapas lega. Kemudian ia membawa dua lelaki itu ke tempat jual mainan. Menyuruh Adrian memilih sendiri mainan apa yang disukainya.
Sampai saat Andre menerima telepon dan melepaskan gandengan tangan Adrian. Saat ia kembali fokus pada Adrian, matanya sibuk mencari keberadaan bocah itu karena luput dari pengawasannya.
"Ke mana, Adrian?" gumam Andre. Ia menatap ragu ke arah Dewi yang tengah berdiri menghadap rak berisi beraneka pesawat beserta ukurannya.
__ADS_1