
Hari mungkin telah berganti, tetapi suasana hati belum jua berseri.
Sejak kejadian itu, hatinya gundah. Dewi selalu murung.
Begitu sulit baginya untuk tersenyum.
Bahkan kini, ia harus meninggalkan rumah mereka untuk kembali pulang ke rumah di mana ia dibesarkan.
Beribu tanya yang dilontarkan orang tuanya hanya dijawab dengan gelengan dan senyuman.
Dewi sadar, ia seharusnya tidak berada di sini. Sebab, bukannya mendapatkan solusi malah membuat semakin keruh permasalahan yang ia hadapi.
Rumah tangganya di ujung tanduk. Itulah yang terus ia pikirkan.
Mungkinkah pilihan itu yang harus ia putuskan? Sedangkan untuk kembali pada suaminya, seolah tidak mungkin.
Hatinya terlalu terluka. Itu bukan lagi tentang ego seorang wanita, tetapi tentang harga diri seorang istri dan nilai sebuah ikatan pernikahan di mata Andre dalam penilaian Dewi.
Bagaimana mungkin, seorang suami begitu terang-terangan membela wanita lain di hadapan istrinya. Bahkan jelas-jelas sedang mengandung buah cinta mereka?
Ah, tampaknya dalam rahim Dewi bukanlah buah cinta. Namun, ketidak sengajaan yang dilakukan seorang suami kepada istrinya.
Atau, jangan-jangan Andre terpaksa menerim kehamilannya.
"Ya Tuhan! Aku bisa gila!" erang Dewi sembari menjambak rambutnya frustrasi.
Berhari-hari yang ia lakukan hanyalah menangis dan menangis.
Ponsel sengaja dinonaktifkan agar tidak menerima panggilan dari Andre - suaminya. Pun tidak menerima panggilan jika lelaki itu menghubunginya melalui telepon rumah.
Setiap hari Andre datang, sampai di depan pintu kamar. Mengetuk pintu sampai rasa lelah menghampiri lelaki itu.
Namun, Dewi tetap bergeming. Mengabaikan setiap seruan-seruan yang terdengar. Menutup telinga dengan bantal, agar suara itu tersamarkan.
Nyatanya, hatinya masih begitu rapuh. Begitu mengiba.
Rasa rindu itu telah menggunung serasa ingin meledak, menguarkan lahar panas yang siap membakar orang-orang yang akan menghancurkan rumah tangganya.
Namun, jiwanya begitu rapuh. Hatinya begitu sakit setiap kali membayangkan apa yang telah terjadi.
Sering kali, Dewi mengutuk hormon kehamilan yang membuatnya rapuh.
Sering pula ia mengutuk besarnya rasa yang ia punya untuk seorang lelaki bernama Andre.
Begitu banyak kecewa yang telah tertoreh di hatinya. Dewi merasa tidak sanggup lagi menghadapi ini.
__ADS_1
Ia menyerah, ingin sendiri ... sampai waktu yang entah sampai kapan. Seperti perasaan yang entah kapan bisa terbunuh dalam relung jiwanya.
"Dew ... Dewi ... please! Buka pintunya, Dew. Kita harus bicara!" seru Andre di depan pintu kamar. Tangannya belum terasa lelah mengetuk pintu tersebut.
Dewi tetap diam. Mulutnya terkatup rapat. Lagipula, suaranya tercekat di tenggorokan. Hanya air mata yang mengalir sebagai tanda betapa terlukanya dirinya.
"Please, Dew! Aku ... aku kangen kamu, kangen anak kita." Suara Andre berubah serak. Bahunya terguncang, matanya memerah. Ketukan itu mulai melemah, bukan karena kekuatan raganya yang perlahan terkikis, melainkan kerapuhan hatinya yang mulai merajam jiwa.
Andre tidak pernah terpikir tentang apa yang telah ia lakukan.
Tidak pula mengerti apa yang membuat Dewi seperti ini?
Tiba-tiba minta pulang, ponsel tidak aktif. Lebih parah lagi, istrinya itu tidak bisa ditemui.
Berhari-hari ia merenung, kesalahan apa yang mendasari Dewi menghukumnya seperti ini?
Rasanya, pertemuan yang mereka lakukan kala itu tidak ada masalah sedikit pun.
Ia juga tidak terlalu berlebihan menanggapi Anggita.
Mendadak pikirannya buntu. Namun, hati kecilnya berkata jika ada sesuatu yang membuat Dewi seperti ini.
Tapi apa?
"Dew, please! Bilang sama aku, apa yang harus aku lakukan, Dew ...." Air mata itu kini luruh , tak mampu lagi dibendung.
Ia ingin sekali melihat wajah Dewi. Ingin ... sekali.
Sampai-sampai, dadanya seakan siap meledak sangking sesaknya. Napasnya memburu, sebab dada itu serasa semakin menyempit.
"Ya Tuhan, Dewi! Kenapa rasanya sesakit ini? Bahkan lebih sakit dari pada saat aku kehilangan Anggita. Tolong, Dewi." Andre pasrah.
Kini, ia telah bersimpuh di depan pintu kamar. Bahunya terguncang hebat dengan air mata yang berderai.
Perlahan, terdengar langkah mendekatinya dari belakang. Andre segera mengusap wajah, menghapus jejak basah di kedua pipi yang pasti masih menyisakan bekas.
"Andre, pulanglah. Papa tidak tahu apa yang terjadi dengan kalian. Tapi Papa yakin, Dewi pasti sedang sangat terluka."
Pak Bambang menepuk-nepuk pundak Andre. Memberi dukungan agar menantunya tidak rapuh.
Walau bagaimanapun, sebagai orang tua Bambang merasa kasihan melihat biduk rumah tangga anaknya yang seakan telah goyah.
Lantas, ingatannya tertuju pada masa saat Dewi mengalami depresi karena tidak boleh lagi berlatih.
Sejujurnya, Bambang sangat khawatir melihat keadaan putrinya. Namun, apa yang harus ia lakukan sekarang.
__ADS_1
Melindungi anaknya tentu saja. Namun, tetap berusaha bersikap adil antara anak dan menantunya.
Tentu saja Bambang tidak ingin jika rumah tangga yang dibangun mendadak hancur begitu saja.
Bambang berjongkok di hadapan Andre.
"Papa ingat bagaimana dulu Dewi pernah begini. Berhari-hari tidak keluar kamar, tidak menyapa kami orang tuanya. Hanya menangis saja di kamar. Karena merasa putus asa saat Mama melarangnya latihan."
"Begitulah Dewi, jika hatinya sangat tersakiti. Dia akan mengurung diri, tidak menemui siapa pun. Sebenarnya apa yang terjadi?"
Andre menggeleng lemah. "Saya sendiri masih mencari tahu, Pa," lirihnya. "Dewi sepertinya belum mau bertemu saya. Tapi saya sangat khawatir memikirkan keadaannya."
"Bersabarlah! Tugasmu mencari tahu apa yang terjadi. Bisa jadi itu salahmu, ataupun kesalahannya. Yang jelas, kalian harus sama-sama saling memahami. Dan pikirkan kembali niat kalian menikah itu apa?"
Perkataan Pak Bambang sontak membuat Andre berjingkat.
Mengingat jika awal pernikahan ini adalah kesalahannya. Mempermainkan pernikahan demi sebuah taruhan.
Dulu, Andre tidak pernah berpikir bagaimana dampak dari kelakuannya.
Nyatanya, sekecil apapun keputusan yang diambil pasti memerlukan sebuah konsekuensi.
Sekecil apapun, sesepele apapun itu.
Kini, Andre mulai sadar. Apa yang terjadi saat ini pasti karena kesalahannya.
Tiba-tiba ia teringat mungkin perhatiannya yang diberikan pada Anggita disalah artikan oleh Dewi.
Andre mengerang frustrasi.
Sepeninggal papa mertuanya, ia kembali menggedor-gedor pintu.
"Dewi, kalau kamu enggak mau buka pintu kamar ini. Aku akan dobrak. Atau kalau kamu masih bersikeras juga, aku pastikan hanya jasadku yang terakhir kali akan kamu lihat!" jerit Andre kemudian disertai ancaman.
Andre bernapas lega, saat handel pintu kamar mulai bergerak.
Rasanya begitu lama menunggu pintu kamar itu terbuka lebar menampilkan sosok yang amat dirindukan.
Andre menahan napas, saat pintu itu akhirnya benar-benar terbuka.
Dewi berdiri di sana, dengan wajah pucat, mata bengkak dan deraian air mata.
Tidak perlu menunggu lama. Andre langsung menarik tubuh lemah itu dalam pelukannya.
"Aku benar-benar bisa mati berdiri memikirkanmu, Dew. Merindukanmu," ucap Andre dengan suara bergetar.
__ADS_1
Kemudian, suasana menjadi hening.
Nyatanya, Dewi tidak membalas pelukan Andre.