Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 82


__ADS_3

Dewi mengulum senyum menyadari raut kecemburuan di mata suaminya. Ia meraih tangan Andre untuk digenggam. Namun, lelaki itu malah menolaknya. Dewi tahu betul, Andre enggan membalas tatapannya. Suaminya itu menatap ke segala arah, asal tidak ke arahnya.


"Apa ... Kakak sedang cemburu sekarang?" tanya Dewi sembari memiringkan kepala.


"Enggak. Siapa juga yang cemburu," ketus Andre. Ia memalingkan wajah menyembunyikan kekesalannya.


Andre terkesiap kaget saat tangan Dewi menyentuh pipinya, mengarahkan wajahnya agar menghadap wanita itu. Dewi tersenyum simpul lalu mencium pucuk hidungnya.


"Kakak tahu ...." Dewi sengaja menjeda ucapannya, menunggu respons dari suaminya itu.


"Apa?" Andre bertanya dengan suara yang lebih lembut, tak seketus tadi.


"Aku sering bertanya-tanya. Bagaimana rasanya dicemburui pasangan sendiri." Lantas, Dewi pun terkekeh pelan, "ternyata rasanya sangat membahagiakan sekaligus melegakan."


Andre mengernyit bingung. Namun bagi Dewi, ekspresinya itu terlihat menggemaskan.


Dewi tertawa pelan lalu mencium pipi Andre. Katakanlah kali ini ia sangat agresif kepada suaminya itu, mencuri curi ciuman lelaki itu.


"Kakak tahu kan, kalau cintanya aku cuma kamu aja." Kalimat itu sukses menciptakan semu merah di pipi Andre. Lelaki itu merona. Seingatnya, ini adalah kali pertama ia mendapatkan ucapan manis dari Dewi.


"Sejak kapan kamu bisa ngegombal begitu?" tanya Andre heran.


"Ye ... daripada ngegombalin orang," sahut Dewi menggoda.


"Awas aja kalau berani," protes Andre begitu saja.


Dewi seketika tertawa lalu memeluk Andre dengan erat. Lantas, tangannya terulur untuk menyentuh kening suaminya itu.


"Enggak panas lagi. Berarti gombalanku berhasil menurunkan panasnya," ujarnya enteng.


"Jadi, gimana dengan Bima Bima itu?" tanya Andre tak tahan.


"Ya Enggak gimana gimana. Dia cuma menyampaikan kalimat bela sungkawa terus juga bilang kalau Enggak bisa datang. Udah, itu aja," jelas Dewi santai.

__ADS_1


"Tapi kenapa dia harus menghubungi hanya karena ingin berbicara itu?" Sepertinya Andre masih belum puas dengan penjelasan Dewi.


"Aku menerima telepon dari siapa saja, Kak. Bukan hanya dari Bima yang mengucapkan bela sungkawa. Berapa banyak orang yang harusnya Kakak cemburui. Bukan hanya Bima seorang." Dewi menggenggam tangan suaminya, membawanya untuk menyentuh pipinya.


"Dan ternyata, suamiku ini kalau cemburu manis banget." Dewi mengelus punggung tangan Andre di pipinya. "Apa Kakak masih butuh bukti kalau cuma ada nama Andre Pratama di dalam sini? Kenapa sekarang aku jadi wanita begini ya?"


"Begini gimana?"


"Kayak wanita yang bener bener takut kehilangan lelakinya. Padahal dia ada di sini, di hadapanku."


"Aku cinta kamu," ujar Andre pelan. Tatapan matanya begitu sayu. Dia masih tampak sangat lemah.


"Aku tahu. Kakak juga tahu kan kalau aku cinta sama kakak. percaya sama aku ya?"


Andre mengangguk lalu mengulum senyum. Ia menarik kepala Dewi untuk diletakkan di dadanya. Lalu kedua tangannya melingkar erat merangkul tubuh wanita yang dicintainya itu. Tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka kecuali kematian. Andre meyakinkan dalam hati.


Keduanya tidur dalam tubuh yang saling memeluk. Malam harinya, Dewi terjaga untuk memeriksa keadaan suaminya. Ia mengembuskan napas lega karena suhu tubuh Andre sudah kembali normal. Kemudian ia berniat untuk pergi ke kamar kecil. Namun pergerakannya terhenti oleh rengkuhan yang semakin erat.


"Mau ke mana?" tanya Andre dengan suara serak. Kelopak matanya masih terpejam erat.


"Jangan lama lama," balas Andre lagi.


"Iya ...." Dewi kemudian beranjak turun dari ranjang dan melangkah menuju kamar mandi. Selesainya dari kamar mandi, Dewi keluar kamar untuk melihat kondisi Adrian.


Di kamarnya, Adrian tidur dengan memeluk guling. Dewi mendekat, membenahi selimut Adrian yang terlepas lalu mencium kening bocah itu. Setelah mengelus kepala anak lelaki itu, Dewi pun kembali ke kamarnya.


Di kamar, rupanya Andre tengah terjaga. Lelaki itu duduk dengan bersandar pada kepala ranjang. Matanya menatap lekat ke arah Dewi yang menutup pintu kamar.


"Kok, bangun, Kak?" tanya Dewi lalu melangkah pelan menuju ranjang. "Butuh sesuatu?" Dewi duduk di pinggir ranjang dengan tangan terulur mengelus pipi Andre.


"Aku bangun karena kamu enggak ada di samping aku," balas Andre. Tangannya meraih tangan Dewi di pipinya menuntun wanita itu agar mendekat kepadanya.


Dewi tersenyum lalu merangkak naik ke atas ranjang. Duduk di samping Andre dan meletakkan kepala di bahu lelaki itu.

__ADS_1


"Tadi, kan, aku ke kamar mandi ...."


"Katanya cuma sebentar, tapi ternyata lama. Terus ... kenapa malah masuk dari sana. Kamar mandi kita di dalam kamar juga ada."


"Ih, suami siapa sih ini, kok, nggemesin gini." Dewi menggerakkan kepalanya di bahu lelaki itu lalu mencium sekilas rahang Andre. "Aku tadi ke kamar tidur Adrian sebentar. Memeriksa keadaan anak kita, Kak," lanjut Dewi menjelaskan.


"Apa yang terjadi?" Andre menunduk, menatap wajah Dewi yang mendongak. "Apa tidur Adrian tidak tenang?" tanyanya lagi dengan perasaan khawatir.


Dewi menggeleng. Lantas berkata lembut, "Enggak. Adrian tidur nyenyak. Aku hany membenahi selimutnya dan mencium keningnya. Setelah itu ke sini lagi."


"Syukurlah. Aku merasa khawatir kepadanya. Mengingat ucapannya tadi membuatku merasa tidak enak dengannya. Mulai sekarang, kita harus memperbaiki diri untuk menjadi orang tua yang lebih baik lagi." Andre mengelus kepala Dewi. "Maafkan aku jika belum menjadi suami yang baik ...."


Dewi tersenyum lalu mencium punggung tangan Andre dengan tazim. Mungkin efek dari sakitnya membuat Andre berpikir dan berkata yang terlalu berat, lelaki itu juga sedikit lebih sensitif.


"Kita sama sama terus memperbaiki diri ya," ujar Dewi yang dibalas anggukan dari Andre.


Keduanya pun larut dalam keharuan dan ucapan syukur karena masih diberi kesempatan untuk bisa bersama sama.


Keesokan harinya, keadaan Andre sudah jauh lebih baik. Namun, sifat manjanya masih belum berkurang. Saat Dewi memintanya mandi, Andre malah meminta agar istrinya itu memandikannya.


"Aku enggak mau mandi kalau Enggak dimandiin," kata lelaki itu.


"Ya ampun. Adrian saja sudah pintar mandi sendiri dan enggak mau dimandiin. Ini papanya malah kebalikan minta dimandiin," keluh Dewi tetapi tetap melepaskan kaus yang melekat di tubuh suaminya.


"Setelah mandi sarapan lalu minum obat. Oke," tidak Dewi kemudian. Andre pun mengangguk dengan wajah semringah.


"Untung saja Adrian udah berangkat ke sekolah. Kalau belum, Kakak bakalan jadi bahan olok olok si jagoan. Hahahaha."


"Kalau Adrian belum berangkat, aku enggak akan berani minta dimandiin, Dew," sahut Andre.


Lantas dengan sekali entakan, Dewi telah berpindah di gendongan Andre.


"Aw. Kak, lepaskan. Kakak masih sakit," protes Dewi dengan wajah merona.

__ADS_1


"Aku sudah sehat wal afiat, Dew," balas Andre sembari melangkah lebar menuju kamar mandi. Ia sudah tidak sabar mandi bersama bersama wanita itu.


__ADS_2