Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 27. Dingin


__ADS_3

Cinta itu ... rasa kasat mata yang mampu membuat seseorang menjadi kuat. Kuat menerima terpaan hidup, hujan badai dan kegelisahan hati. Cinta juga yang membuat seseorang bertahan dengan rasa sakit yang terus menerus mendera hati.


Namun, cinta pun mampu melumpuhkan jiwa. Membuat raga melemah tak berdaya. Membuat selera tak lagi bersisa.


Jika Dewi bisa memilih, sudah tentulah dia ingin setegar karang menerima segala terpaan badai. Sayangnya, raganya lambat laun seakan melemah meminta haknya agar jiwanya tersadar, bahwa cinta yang tak jelas tentu akan meluluhlantakkan pertahanannya.


Lihatlah, wanita ayu itu masih tergugu menangis. Rasa penyesalan kini menelusup, menyesal karena telah berkata dengan nada tinggi kepada suaminya. Sungguh, itu bukanlah dirinya.


Mengapa cintanya malah membuatnya berbeda? Cintanya mematikan sifat aslinya.


Ada apa dengan dirinya sendiri?


Dewi benar-benar tak mengerti.


Lantas, kini dia meraung memukul kepalanya yang penuh oleh Andre. Lelaki itu telah berhasil merampas kewarasannya.


Ketukan di pintu tak dihiraukan. Dewi membiarkan panggilan itu semakin kencang yang disertai gedoran kasar.


"Dew ... Dew .... Buka!!?"


Dewi menutup telinga, menggeleng keras mengenyahkan bayangan Andre di kepala.


Nyatanya, hal yang dilakukan tidaklah berhasil.


Pintu kamar mandi terbuka lebar, Andre berlari tergopoh. Napasnya ngos-ngosan, mendobrak pintu tersebut. Tak dipedulikannya akibat ulahnya.


"Dew ... jangan begini." Andre kehilangan akal, bagaimana caranya membujuk Dewi.


Andre mengusap wajah kasar, lalu memegang bahu Dewi yang masih terkulai lemah di lantai kamar mandi. Tubuh wanita itu dingin, keadaannya sangat kacau sekaligus mengerikan.


Andre menitikkan air mata, melihat hasil dari kelakuannya.


Kelakuan hatinya yang tak jelas condong pada siapa. Dewi atau Anggita?


Dua nama itu sangat merusak kehidupannya akhir-akhir ini. Tak bisakah, keduanya dia miliki bersama-sama?


'Ya Ampun! Andre, kenapa jadi tamak begini?' gerutunya kesal.


"Dew, ayo!"


Dewi tetap bergeming, tidak merespon perintah Andre.


"Dewi, jangan begini. Aku takut melihatmu begini, aku khawatir. Sangat. tolong, Dew!" Kali ini, Andre benar-benar menangis.


Dia tidak tahu kapan terakhir kali menangis, atau pernahkah dia menangisi seorang wanita selain ibunya? Dia sendiri tidak ingat. Yang jelas, saat ini dia menangis. Sesunggukan.


Dewi mendongak, menatap mata merah itu dengan tanpa binar. Tatapannya kosong, dia ingin mencari ketulusan di sana. Namun, semakin dia mencari semakin tersayat hatinya kini.


"Pergilah. Tinggalkan aku sendiri." Dewi berkata lirih, seakan perkataan itu hanya terdengar di telinganya sendiri.


"Aku suamimu. Ikuti perintahku." Andre membalas lemah.


Dia sadar, hanya ini cara yang paling ampuh membujuk Dewi.


Apakah ini sebuah bujukan, tentu saja tidak. Ini adalah perintah yang harus dituruti.


Dewi tersenyum sinis, lalu membuang muka ke arah lain.


"Ayo! Kamu kedinginan."


Mau tak mau, Dewi menuruti perintah suaminya. Dia mengulurkan tangan menyambut uluran tangan Andre. Berdiri dengan tubuh menggigil kedinginan.


Andre dengan sigap mengambil handuk yang tercantol di gantungan pintu kamar mandi, lantas langsung menutupi tubuh Dewi dengan handuk tersebut.


Andre dengan telaten membuka pakaian yang dikenakan istrinya, melilitkan handuk di badan. Dia senang, tampaknya Dewi tak berniat menolak perlakuannya. Atau, bisa jadi wanita itu lemah tak berdaya untuk sekadar menepis tangannya.


Sesampainya di kamar, Andre membantu Dewi ke kasur. Menyelimuti tubuh itu dengan selimut.


Andre sangat mengkhawatirkan keadaan Dewi yang semakin menggigil. Tanpa pikir panjang, dia pun segera masuk ke dalam selimut. Tak lupa melepas pakaian yang melekat di badannya. Memeluk erat tubuh Dewi, menggososk-gosok punggung polos itu.

__ADS_1


Mereka saling berpelukan dalam selimut.


***


Dewi menggeliat pelan, matanya mengerjap-ngerjap. Saat menyadari wajahnya begitu dekat dengan Andre, seketika itu pula di terbelalak kaget.


"Kak Andre ...." Dewi mengumpulkan kesadarannya yang sempet terserak. Mengingat apa yang telah terjadi di antara mereka. Seingatnya, dia sedang kesal dengan Andre yang tak jua memberi sikap pasti pada hubungan pernikahan mereka.


Lelaki itu menikah dengannya, melakukan hubungan layaknya hubungan suami istri, tapi hatinya masih terpaut dengan Anggita sang mantan.


Dewi sangat kecewa, tapi juga merasa putus asa dengan perasaannya sendiri. Lantas menangis ... meraung di kamar mandi dalam keadaan basah kuyup.


Sialnya, bukannya Dewi meratapi nasibnya sendiri. Dia malah menyesal telah berkata kasar dengan Andre, suaminya yang jelas-jelas sangat tidak bertanggung jawab dengan cintanya.


Dan, akhirnya mereka berdua terjebak dalam selimut ini. Yang paling sial lagi adalah mereka berpelukan tanpa pembatas sedikit pun yang melekat di tubuhnya.


"Kamu sudah bangun?" Andre masih menatap dalam kepada Dewi.


Sedari tadi, Andre tidak dapat memejamkan mata. Sebenarnya, dia merasa pegal harus merelakan lengannya untuk dijadikan bantal. Namun, rasa khawatir yang mendalam atas keadaan Dewi menyingkirkan rasa pegal tersebut.


Andre terus memandangi wajah Dewi yang tertidur, matanya terpejam erat dengan bibir biru.


Andre menelisik wajah itu, lantas dia pun bernapas lega saat mendapati wajah Dewi tak sepucat tadi.


Andre memajukan wajahnya, menghapus jarak di antara mereka. Mengecup bibir itu sekilas, untuk memastikan jika si empunya telah baik-baik saja.


Lagi, Andre bernapas lega. Saat lidahnya menyecap rasa manis dari bibir Dewi.


"Syukurlah, kamu enggak apa-apa. Aku khawatir sekali." Andre mengelus pucuk kepala Dewi. "Ya sudah, aku siapkan makan kita ya ... lapar sekali." Andre menyibak selimut, lalu berdiri.


Sertamerta Dewi menjerit kaget, lalu dengan sigap menutup wajahnya dengan kedua tangan.


Andre benar-benar menyebalkan, bisa-bisanya dia lupa jika tidak berpakaian.


"Eehh ... lupa. Kamu ah, udah sering lihat juga. Pakai acara malu." Andre mengelus tengkuknya, lalu segera menyambar pakaian yang berserak di lantai. Memakainya cepat. "Sudah."


Dewi menurunkan kedua tangannya. Lalu melotot galak ke arah Andre.


"Jadi, maunya diapakan kalau gak cuma ditonton doang." 'Ah, kamu udah enggak marah rupanya.' Andre mengulum senyum.


"Ya ampun! Kak Andre benar-benar menyebalkan," ketus Dewi. Lantas dia pun memalingkan wajah, tidak ingin melihat Andre yang menarik turunkan alisnya menggoda.


"Hahahaha." Andre tertawa lepas melihat reaksi Dewi


Kemudian berlalu meninggalkan Dewi menuju dapur. Dia sangat lapar.


"Dasar." Dewi bersungut sebal, lalu berdiri menuju lemari mengambil pakaian dan segera berpakaian.


Setelah berpakaian, Dewi pun segera menyusul Andre di dapur.


Tampak Andre tengah menghangatkan makanan yang Dewi masak.


Dengan sigap, Dewi pun membantu Andre yang menyiapkan makanan mereka.


Mereka makan dengan lahap, rasa lapar telah melupakan segalanya.


Usai makan, Dewi segera membereskan peralatan makan mereka. Kali ini, Andre yang membantu. Mereka menyuci piring berdua. Duduk bersisian.


"Geser, Kakak mau cuci tangan." Andre terus menggoda Dewi.


"Ih, Kakak." Dewi bergeser. Tangannya masih penuh dengan busa sabun. Merasakan gatal di dekat mata, dia pun segera menggaruknya. "Awww."


"Kenapa, Dew?"


"Pedih."


"Stop! Sini ...." Andre dengan sigap menarik tangan Dewi untuk di cuci. "Jangan di kucek. Sini Kakak lihat." Andre menangkup kedua pipi Dewi.


Dewi memejamkan mata.

__ADS_1


Bukannya memeriksa, Andre malah mencium kedua mata Dewi lalu turun ke bibir. ********** pelan.


"Udah?"


"Kakak, modus ... ih."


Andre mengelus senyum puas.


"Dew, kamu tampak kurusan, ya? Tadi makannya juga dikit banget. Kenapa?"


"Oh, itu. Enggak apa-apa, Kak. Lagi enggak selera makan aja," jawab Dewi cuek. Tangannya masih sibuk mencuci lalu menyusunnya.


"Kamu sakit, atau ...?"


Dewi menghentikan aktivitasnya, melihat ke arah Andre yang menatapnya dalam.


"Atau ...?" Dahi Dewi berkerut, bingung dengan ucapan Andre yang belum selesai.


"Atau, kamu udah periksa ke dokter belum?" Andre ragu mengatakannya. Bagaimana jika ternyata bukan? Lalu bagaimana jika ternyata benar dugaannya?


"Udah, kemarin kan aku di rawat."


"Maaf soal itu, seharusnya aku menemanimu di rumah sakit. Aku janji setelah ini, akan mencurahkan seluruh perhatianku padamu. Tak ada yang lain." Iya, Andre telah yakin dengan keputusan nya.


Dia berjanji akan berubah, menjadi suami yang baik tidak ada salahnya kan.


"Kakak, yakin?" Dewi percaya dengan apa yang didengar.


Lebih tepatnya, Dewi tidak percaya diri dengan sikap Andre dan janji lelaki itu. Bagaimana bisa, secepat itu Andre berubah. Apa yang terjadi?


Dewi yakin jika ada yang disembunyikan Andre dari dirinya. Tapi apa?


"Kakak yakin tentu saja. Aku suami mu, kamu istriku tanggung jawabku. Aku enggak mau mempermainkan pernikahan kita. Tidak perduli lagi dengan isi perjanjian itu. Di antara kita tidak ada perjanjian apapun. Kita akan menjadi pasangan suami istri selamanya, tidak akan terpisahkan."


Dewi bergeming, tubuhnya seakan melayang jauh ke angkasa. Tidak berpihak di bumi. Dia takjub sekaligus belum percaya dengan apa yang telah didengarnya dari mulut Andre tentang pernikahan mereka.


"Bagaimana dengan Anggita?" tanyanya ragu. Suara Dewi melemah, seolah berbisik untuk dirinya sendiri.


"Tidak ada siapa pun lagi di antara kita. Hanya ada Andre dan Dewi. Percaya padaku."


Dewi mengangguk.


"Kamu masih mau memberiku kesempatan, kan?"


Dewi mengangguk lagi. Lidahnya kini Kelu untuk sekadar bertanya atau pun menyela.


"Terimakasih, sayang." Andre mendekat, memeluk tubuh Dewi erat.


Tidak menunggu waktu lama, wanita itu telah membalas pelukan suaminya.


Dewi berharap ini adalah nyata, semua perkataan janji dan perlakuan Andre adalah nyata


"Kak ...." Dewi mendongak, menatap wajah Andre.


"Hmmm." Andre bergumam pekan. Lalu mencium pucuk kepala Dewi lama.


"Ini nyata, kan?" 'Apakah cintaku telah berbalas?'


"Ini nyata, Sayang. Inilah kenyataan nya. Aku ingin bersamamu, selamanya." Andre kembali meyakinkan


Rasanya, hati Andre tenang, tentram dan damai sekarang. Ya ... dengan memeluk Dewi lah dia merasakan kedamaian itu.


"Terimakasih." Dewi berbisik di dada bidang itu. Menenggelamkan kepalanya lebih dalam, menghirup aroma tubuh Andre yang telah menjadi candu baginya


Ini adalah awal baru kehidupan mereka. Bagi Dewi, dengan terus begini saja itu sudah cukup. dia tidak menginginkan yang lain lagi.


Cukup dirinya berada dalam pelukan Andre, selamanya.


"Kakak janji enggak akan melepaskan genggaman tanganku?"

__ADS_1


"Janji, Sayang. Kakak janji tidak akan menyakitimu lagi. Kita akan melalui semua ini bersama. Selamanya."


"Selamanya."


__ADS_2