Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 59


__ADS_3

Malam itu, Andre tidur dengan perasaan bahagia. Rupanya, rasa itu lebih dari sekadar rasa simpati atau kasihan saja. Namun, telah berkembang menjadi kuncup cinta. Ibarat kumbang madu yang akan mencari rasa manis di setiap kuncup bunga. Tidak pernah ada kata bosan bagi Andre kala menatap wajah istrinya. Semakin hari, lelaki itu semakin menyadari jika sosok Anggita telah tergantikan di hatinya.


Sering kali, Andre merasa bahwa ini terlalu cepat. Perasaan yang tumbuh di hatinya begitu menggebu-gebu. Benar adanya, cinta itu akan tumbuh seiring waktu yang terus bersama-sama. Itulah yang ia alami.


Andre menggeleng pelan, merasa konyol dengan dirinya sendiri, tetapi seulas senyum tak ingin pergi dari wajahnya. Ia terus saja tersenyum mengingat malam romantis yang baru saja mereka lewati. Raut malu-malu Dewi menjadi energi tersendiri bagi dirinya.


Andre menggeliat pelan, tangannya meraba-raba sisi kanannya mencari seseorang di sampingnya. Saat tangannya tak menemukan apa pun, mata Andre mengerjap terbuka. Kemudian terbelalak kaget ketika mendapati si ranjangnya kosong. Ke mana perginya Dewi pagi-pagi begini, pikir lelaki itu bingung. Ia pun beranjak duduk, mengusap wajahnya secara kasar agar kesadarannya segera terkumpul.


Andre menurunkan kakinya ke lantai lalu berdiri, melangkah tergesa menuju kamar mandi. rasa rindunya telah bercokol di dalam dada, ia ingin segera melihat wajah istrinya.


Usai membersihkan diri, Andre pun segera keluar lalu berjalan cepat menuju lemari pakaian. Mengenakan kaus polos berwarna putih dengan bawahan memakai celana pendek selutut. Gerakannya mengeringkan rambut dengan handuk terhenti ketika terdengar bunyi nada dering dari ponselnya di atas nakas.


Sebenarnya dari tadi malam layar benda pipih itu berpendar berulang kali menampilkan panggilan dari nomor asing. Namun, Andre masih sangat hafal dengan nomor tersebut. Mungkin nama kontaknya telah dihapus beberap bulan lalu. Akan tetapi, intensitas komunikasi keduanya di masa lalu membuatnya menghafal nomor itu di luar kepala. Ah, rupanya kenangan yang telah terjadi di antara mereka tidak bisa dihapuskan begitu saja.


Andre menghela napas panjang, mengangkat benda pipih itu ke udara lalu meletakkannya kembali ke atas nakas. Hatinya berperang, di sisi lain ia ingin menjawab panggilan itu. Namun, di sisi lain ia menolak. Wanita itu bukan urusannya, bukan pula menjadi tanggung jawabnya. Otanya terus berpikir keras agar hatinya menolak..


Sekali panggilan berbunyi lalu berhenti sendiri rupanya belum cukup. Nada itu kembali berdering seperti meronta-ronta agar segera dijawab.


Lagi-lagi Andre menghela napas panjang. Tidak lama kemudian nada dering itu mati berganti notifikasi pesan yang bertubi-tubi masuk ke ponselnya.


Andre duduk di pinggir ranjang, membuka pesan yang beruntun masuk di benda pipih itu.


[Ndre, tolong angkat teleponnya.]


[Ndre, aku butuh kamu]


[Ndre, bisa kita bertemu sebentar saja.]

__ADS_1


Andre berpikir sejenak, apa yang harus ia lakukan dengan pesan itu. Membalasnya atau mengabaikannya begitu saja. Bagaimana jika ternyata wanita itu benar-benar membutuhkan pertolongan?


Sedetik kemudian, tanpa sengaja Andre menggeser ikon berwarna hijau. Mau tak mau, panggilan itu terjawab olehnya.


“Halo, Ndre! Tolong aku,” ujar suara di seberang sana terdengar dengan isak tangis.


Ada apa sebenarnya, pikir Andre. Namun, ia tetap bergeming tidak langsung memberikan tanggapan pada suara itu.


“Ndre, kamu masih di sana kan. Aku sedang hamil dan butuh pertolongan.” Lagi suara itu kini terdengar seperti sedang merintih kesakitan.


“Aku tidak bisa.” Akhirnya Andre membalas dengan suara dingin. terselip rasa khawatir di dadanya, tetapi segera ia tepis. Lantas meyakinkan diri bahwa Anggita bukanlah urusannya.


“Tidak bisakah kamu menolongku. Aku sedang butuh pertolongan, rintih wanita itu lagi.


“Tentu saja aku tidak bisa. Kehidupan kita telah berbeda. Dan aku sudah tidak mau berhubungan dengan kamu lagi.”


“Istriku juga hamil.” Andre menakan nada suaranya pada kata hamil. Mengingatkan wanita itu bahwa ia juga telah memiliki seorang istri yang tengah hamil.


“Aku hanya butuh pertolonganmu ....”


“Bukan urusanku lagi. Dewi yang jadi tanggung jawabku.”


Andre hendak menutup panggilan sepihak, tetapi diurungkan saat mendengar jeritan dari seberang sana.


“Darah! Darah! Aku berdarah!”


Andre bergeming, tubuhnya mematung kaku seakan terpaku di bumi. Ia bisa merasakan bagaimana degup jantungnya berdebar kencang. Apa mungkin Anggita akan melahirkan? Ke mana Robi? Pikirannya mendadak berkecamuk. Rasa khawatir itu semakain besar bercokol dalam dadanya.

__ADS_1


Kepalan pun kini di penuhi oleh bayangan-bayangan aneh. Bagaimana jika Anggita kenapa-kenapa? Sedangkan wanita itu tengah sendirian di rumah. Tidak ada siapa pun. Ya Tuhan! Apa yang harus dilakukan.


Jika di rumah ia akan merasa tenang karena Dewi ditemanai Bik Inah, bagaimana dengan Anggita? Tiba-tiba rasa penyesalan itu menghantuinya, kenapa ia membiarkan Anggita menelponnya berkali-kali tanpa berniat menjawab. Kalaupun bukan karena cinta, ia bisa menolong wanita itu atas dasar kemanusian, kan. Ya, rasa kemanusiaan.


Seketika, Andre bangkit. Setelah mengganti celana pendeknya dengan celana jins panjang, ia pun segera menyambar jaket di gantungan baju. Lalu bergegas keluar kamar untuk segera meluncur menemui Anggita, memberikan pertolongan kepada wanita itu atas dasar kemanusiaan.


Andre kaget melihat Dewi yang telah berada di depan pintu kamarnya. Sejak kapan istrinya itu berdiri di sana? Apakah Dewi mendengar percakapannya di telepon tadi?


“Ada apa?” tanya Dewi bingung. Namun, sedetik kemudian kecawa yang lagi-lagi ia rasakan saat Andre mencium keningnya singkat lalu pergi meninggalkannya tanpa memberikan alasan dan ke mana arah tujuannya.


Menekan perasaan sakit di dada, Dewi berjalan cepat menyusul langkah lebar Andre. Sesampainya di teras depan, rupanya lelaki itu telah duduk di atas motor pun telah mengenakan helmnya siap berangkat pergi.


“Kak!” seru Dewi dengan napas ngos-ngosan.


“Kak!” seru Dewi lagi saat mendapati Andre tak menoleh ke arahnya.ia berjalan mendekati motor yang sepertinya tengah dipanaskan sebelum bersiap membalah jalanan.


Andre menoleh. Membuka kaca penutup wajahnya. “Ya?”


“Mau ke mana? Kakak belum sarapan?” Dewi tersenyum tipis menyembunyikan gemuruh di dada yang entah oleh sebab apa. Mungkin karena telah mencuri dengar percakapan suaminya tadi. Menerka-nnerka jika telepon itu dari mantan kekasih Andre.


“Nanti saja. Aku buru-buru. Hati-hati di rumah.” Tanpa menoleh lagi, Andre malajukan kendaraan roda duanya yang sebenarnya ingin ia jual demi bisa mencukupi tabungannya untuk membeli rumah.


Andre menambah kecepatannya. Ia ingin cepat sampai ke tempat tujuan, jeritan Anggita yang terdengar lewat suara telepon tadi terus terngiang di telinganya.


Andre tahu, bagaimana raut kecewa Dewi tadi melepas kepergiannya yang terburu-buru. Ia berjanji akan menjelaskan semuanya nanti setelah kembali dari menolong Anggita karena rasa kemanusiaan.


‘Ya. Hanya karena rasa kemanusiaan,’ batin Andre meyakinkan diri.

__ADS_1


__ADS_2