
"Ini, anak kita?" tanya Andre dengan bibir bergetar. Tangannya terulur mengelus perut yang mulai terlihat buncit itu.
Kepalanya mendongak menatap wajah Dewi di hadapan. Sesaat, mereka hanya saling tatap. Menyelami perasaan masing - masing. Perasaan yang bertakhta di singgasana hati. Perasaan yang ingin diluapkan dan dimenangkan.
Dewi mengangguk. Lagi - lagi, air matanya mengalir seperti kucuran air kran, tiada pernah mau berhenti. Entah mengapa?
Dewi sendiri bingung, air matanya tidak pernah ada kata kering saat menyangkut soal Andre.
Saat ini, mereka sedang duduk di bangku taman dekat mal berada.
Berbagai macam permainan untuk anak - anak ada di sana. Keramaian taman tampaknya tidak cukup mampu untuk mengusik keseriusan dua orang itu. Mereka masih berbicara serius dengan tatapan sedalam samudera, tidak terusik sedikit pun dengan keadaan sekitar.
Nada pesan berbunyi, Dewi cepat - cepat merogoh tasnya mengambil ponsel di sana.
'Nanti minta antar suamimu pulang.'
Pesan singkat dari sang mama sontak saja membuat mata Dewi membeliak kaget, sekaligus malu.
Berarti mamanya tahu jika dirinya bertemu dengan Andre di sana. Sialnya, saat dalam keadaan seperti itu, Dewi malah lupa jika ke mal bersama sang mama.
Benar saja, bersama Andre memang sanggup melupakan Dewi pada apa pun. Apa pun.
"Kenapa?" tanya Andre khawatir saat Dewi menampakkan raut gelisah.
"Eng-enggak," jawab Dewi gugup.
__ADS_1
Andre mengerti dengan kegelisahan Andre. Lantas, ia pun menggenggam erat tangan Dewi. Erat ... dan semakin erat. Seakan ingin menghantarkan kehangatan sekaligus rasa aman kepada wanita di hadapan.
"Aku di sini akan menjagamu. Aku tahu terlalu banyak rasa sakit yang telah aku berikan kepadamu. Tapi, beri satu kali lagi kesempatan untukku, akan aku buktikan kesungguhanku," ucap Andre penuh kesungguhan.
Dewi bergeming, bingung harus melakukan apa. Tidak tahu pula harus menjawab apa dengan pernyataan Andre barusan.
"Oke. Jangan membuatmu berpikir keras. Cukup kami diam saja, dan aku akan membuktikan semuanya. Semua ucapanku," ujar Andre tulus.
Dewi mengulas senyum, lalu mengangguk pelan.
"Ngomong - ngomong, berapa usia anak kita di dalam sini?" tanya Andre dengan tatapan fokus ke perut Dewi.
"Enam bulan. Tiga bulan lagi menunggunya," jawab Dewi dengan mata berbinar.
Andre memandang takjub pada binar yang dipancarkan mata itu. Setelah sekian lama tidak bisa menikmatinya, kini ia bisa melihatnya kembali.
Andai saja bisa digantikan. Detik ini juga, Andre ingin menukar kebahagiaan yang pernah ia rasakan dengan sebuah senyum yang tercipta dari wajah Dewi di hadapan.
"Dewi," panggil Andre ragu.
"Ya?" Mendadak, debaran di dada Dewi menjadi tidak beraturan. Ia menunggu dengan cemas apa yang akan Andre katakan.
"Hmm, apa ...." Andre mengelus tengkuknya sendiri, merasa canggung dengan apa yang ingin ia utarakan. "Apa, kita bisa bersama lagi? Aku janji akan memperlakukanmu dengan baik. Walaupun penghasilanku saat ini pas - pasan dan tinggal di kontrakan kecil," lanjutnya pelan.
"Aku ...." Sejenak Dewi ragu pada apa yang hendak ia katakan.
__ADS_1
Dewi menoleh, membalas tatapan Andre yang tampak sendu penuh penyesalan. Kemudian hening, Dewi mencari tahu adakah kebohongan yang tersirat di sana. Nihil. Ia hanya melihat penyesalan dan kesedihan. Berbeda dengan beberapa bulan lalu.
Andre yang sekarang tampak sekarat. Baik hati maupun raganya, lelaki itu tampak tak berdaya.
Dewi menghela napas panjang. Lalu menegakkan punggung, apa pun yang terjadi ia harus mengatakan keputusannya.
"Kak, aku telah memaafkan kamu. Sekuat apa pun hatiku ingin membencimu, aku tidak akan pernah sanggup. Apalagi, ada darahmu yang mengalir dalam bayi di perutku ini," monolog Dewi.
Andre mendengarkan dengan seksama. Tidak ingin melewatkan sepatah kata pun dari kalimat yang diucapkan Dewi.
"Hanya saja, untuk kembali tinggal bersama. Aku belum siap. Belum siap dengan hatiku sendiri. Aku takut ...."
"Apa kamu tidak lagi percaya padaku?" tanya Andre menuntut.
"Entahlah. Mungkin aku hanya butuh waktu untuk kita. Kakak bisa melihata anak kita kapan saja. Tapi, untuk tinggal bersama aku belum sanggup. Maafkan aku. Kuharap kamu mengerti dengan keputusanku. Atau, jika Kakak tidak berkenan, Kak Andre bisa menceraikanku. Permintaanku masih berlaku."
Andre melongok. Serasa ada yang meremas hatinya. Sakit. Sungguh. Bahkan tidak terkira rasanya.
"Tolong, jangan katakan itu. Baiklah ... baiklah ... aku ikuti apa pun keinginanmu. Tapi jangan meminta cerai," ujar Andre dengan suara bergetar.
"Baiklah. Terimakasih. Aku minta sesuatu boleh?"
"Boleh asal jangan minta cerai," ketus Andre.
Dewi tertawa sejenak. Lalu berucap pelan, "antarkan aku pulang, ya."
__ADS_1
"Dengan senang hati tuan putri. Tunggu ya, aku mau izin dulu ke dalam."