Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 44. Kesedihan


__ADS_3

Bagaimanapun keadaan diri, waktu terus berjalan. Bumi berputar sesuai rotasinya. Malam dan siang tetap berganti sesuai tugasnya. Kehidupan dan kematian tetap berjalan sesulit apapun manusia melaluinya.


Dewi berangsur membaik, emosinya mulai terjaga, tidak terus menangis seperti sebelumnya.


Pagi ini Dewi telah mandi, duduk di bangku taman samping. Tempat ia dan Andre berbincang siang itu, membicarakan tentang keputusan dan masa depan.


Tangannya terulur mengelus perutnya yang masih rata, sejujurnya ia sudah tak sabar menunggu perutnya membuncit seperti balon. Sebait senyum terukir di wajah pucatnya.


Satu pekan ini Dewi tidak lagi mual dan muntah di pagi hari, bukannya hilang, tetapi rasa itu berganti di malam hari.


Setelah makan malam Dewi akan rutin mengeluarkan semua isi perutnya, lalu barulah ia bisa tidur. Saat malam telah larut, ia akan terjaga karena kelaparan. Biasanya sang mama akan menyiapkan roti di nakas, jadi tak perlu ke dapur untuk sekadar makan.


Yaa, semuanya tentu saja akan terus berjalan dan berubah. Namun, sayangnya perasaan yang ia miliki untuk Andre tidak pernah berubah. Terlebih setelah perbincangan mereka siang itu, bukannya rasa itu terkikis malah semakin mengakar kuat di sanubari.


Sejujurnya, Dewi telah kehabisan akal mencari cara mengikis rindu yang semakin menggebu dalam dada. Ingin ia babat habis rasa itu dalam dadanya, tetapi siapa sangka malah semakin tumbuh subur menyesakkan dada.


"Noni, disuruh Nyonya sarapan." Ucapan pembantu membuyarkan pikirannya.


Dewi menoleh lalu mengangguk pelan. Tidak lupa memberikan senyum semanis mungkin, agar sang pembantu tidak menyadari kegalauan hatinya.


Dewi kemudian mengikuti instruksi mama, duduk di kursi. Di atas meja telah terhidang berbagai macam menu sarapan.


Dewi menyendok nasi goreng. Melahapnya, rasa lapar sudah menguasai dirinya. Setelah menghabiskan nasi di piring dilanjutkan dengan minum susu segelas, lalu roti yang diolesi selai kacang.


Dewi berpikir jika hanya di pagi dan siang hatilah ia bisa makan dengan lahap. Sebab jika di malam hari isi perutnya akan keluar semua. Maka, ia pun tidak akan menyia-nyiakan kesempatan di siang hari untuk makan apa saja yang bisa diterima si calon bayi.


"Apa yang terjadi dengan kalian, Dewi?" Pertanyaan Pak Bambang menghentikan kunyahannya.


Sejenak Dewi hanya melongok mendengarkan apa yang Pak Bambang katakan. Menyadari ke mana arah perbincangan ini, ia pun segera melahap roti di tangan.

__ADS_1


"Andre kemarin mengajukan surat pengunduran diri. Awalnya papa tidak setuju. Kinerjanya bagus di kantor, harusnya dia akan naik jabatan. Malah memilih keluar," jelas Pak Bambang.


Dewi berpikir jika Andre membuktikan ucapannya, keluar dari kantor orang tuanya. Namun, setelah ini di mana Andre bekerja. Tentu tidak mudah mendapatkan pekerjaan saat ini.


Setitik penyesalan menggelayut di hati Dewi. Namun, segera ia tepis. Ini sudah menjadi konsekuensi Andre dan sudah menjadi janji lelaki itu. Bukankah seharusnya seorang lelaki menepati janjinya?


"Dia ada menghubungi kamu, enggak?" Pertanyaan Pak Bambang memecahkan kepingan wajah Andre di ingatan.


Dewi mendongak, membalas tatapan sang papa yang penuh selidik.


Lantas, Dewi pun menggeleng lemah. Sudah beberapa hari ini dirinya tidak mendengar kabar tentang Andre maupun melihat wajah lelaki itu.


"Kalian enggak sedang ada masalah, 'kan?" Pertanyaan Pak Bambang sontak membuat Dewi kehabisan kata-kata. Lidahnya serasa begitu kaku untuk sekadar menjawab ucapan sang papa. "Dewi," panggil Bambang kepada putrinya.


"Eng-gak, kok, Pa. Kami baik-baik saja," lirih Dewi.


"Kenapa Papa merasa kalian sedang ada dalam masalah. Berumah tangga itu, bukan perjalanan sehari dua hari, tapi berhari-hari, bertahun-tahun, bila perlu sekali seumur hidup. Pernikahan itu bukan sebuah permainan anak-anak yang bisa bubar seenaknya saja, dan bisa bermain kapan saja. enggak bisa."


"Dalam pernikahan juga pasti ada masalah yang akan sering dihadapi, anggap itu sebagai ujian. Yang penting, suami kamu tidak menyakiti kamu secara dalam. Tidak juga melakukan kekerasan fisik, semuanya bisa ditolerir. Kalian juga, 'kan bertemu setelah besar. Bukan ketemu dan kenal dari bayi, jadi banyak hal yang harus disesuaikan. Kebiasaan, sifat, karakter, masa lalu, masa depan pun kalian bisa berbeda dalam hal yang ingin dicapai."


"Pa, kalau seorang suami tidak menghargai istrinya. Bagaimana?" tanya Dewi.


"Tidak menghargai dalam hal apa?"


"Ya, membela wanita lain di hadapan istrinya. Memandang wanita lain penuh cinta dan melupakan keberadaan istrinya."


"Kamu yakin dengan cara pandang kamu. Bukan semata-mata penilaian sepihak. Lihat, ada penyesalan enggak pada diri suaminya itu? Jika ada mungkin saja dia sedang khilaf. Kadang masa lalu itu tidak mudah dilupakan, tidak pula bisa dihilangkan. Sebagai istri, bagaimana caranya menjadi penyembah, menjadi obat bagi suaminya yang sakit."


"Tapi, itu sangatlah menyakitkan. Bertahan bertahun-tahun dengan perasaan yang tidak dianggap. Seorang istri juga manusia biasa yang punya hati, punya perasaan yang harus dijaga. Mau sampai kapan istri bertahan dalam penantian?" tanya Dewi dengan emosi yang meluap-luap.

__ADS_1


Bambang tersenyum, sedangkan istrinya beranjak mendekati anak semata wayang mereka. Duduk di samping Dewi lalu mengelus punggung wanita yang tampak rapuh.


Sampai kapan pun, Dewi tetaplah Dewi. Si gadis manis yang selalu mereka sayangi.


"Sekarang lebih baik kamu pikirkan, mana yang lebih sakit ... berjauhan dengan suami atau berdekatan dengan suami?"


"Berjauhan itu jadi rindu. Dan, rasanya sangat menyiksa. Kadang Dewi berpikir jika dia lebih bahagia bersama wanita lain, biarkan Dewi mundur saja. Biarkan Dewi sendiri yang akan mengurus anak kami. Tapi ...."


"Jika kamu berjauhan dengannya bisa merasakan sakit. Percayalah, suamimu pun begitu keadaannya."


"Tapi Dewi enggak yakin, Pa. Setelah semua yang telah terjadi, dia tetap saja tidak berubah."


"Bukan tidak berubah, Sayang. Tapi belum ... kamu ingat dia ke sini berhari-hari menunggumu walaupun diabaikan. Dan sekarang, perjanjian apa yang kalian buat sampai kalian menyengsarakan diri sendiri begini?"


"Kasih kesempatan Andre memperbaiki semuanya, ya?" Sang Mama ikut bicara.


Dewi mengangguk. "Ya, mungkin masih ada kesempatan sekali lagi. Akan Dewi pikirkan Ma, Pa. Terima kasih." Dewi tersenyum dan merasa lega karena bisa menceritakan dan mendapatkan solusi bagi masalah rumah tangganya.


Bagaimanapun, orang tua tetaplah menjadi rumah terbaik. Menjadi guru terbaik bagi dirinya mencari solusi terbaik.


"Sama-sama, Sayang. Sekarang, kamu mau ke mana? Belanja atau makan di luar. Mama siap menemani tuan putri kesayangan Mama," ucap Mama lembut.


Dewi merasakan kehangatan di tangan uang mengalir ke hatinya.


"Belanja sambil makan di luar, bisa, Ma?" tanyanya antusias.


"Tentu. Kita habiskan uang papamu." Mereka pun tertawa bersama. Keluarga mereka utuh, dalam buka dan duka.


Di tempat yang berbeda Andre tengah berjuang mencari pekerjaan yang layak

__ADS_1


Saat ini ia tengah bekerja di kantor tempat Arman bekerja.


__ADS_2