
Keesokan harinya, pagi-pagi sekali Dewi telah mematut diri di depan cermin, memoles wajahnya dengan make-up tipis. Biar terlihat segar, katanya.
Dewi sangat bersemangat hari ini, Subuh tadi ia telah menyiapkan sarapan berlanjut membuat adonan kue. Walaupun telah dilarang oleh Bik Inah, tampaknya Dewi tidak peduli. Ia ingin memberikan yang terbaik dari dirinya.
“Oke, cukup.” Usai merias wajah, Dewi menyemprotkan minyak wangi ke tubuh, lalu memilih tas yang ingin dibawa setelah dipadu padankan dengan pakaian dan sepatu yang ia kenakan.
“Siap!” seru Dewi riang. Akan tetapi, senyum yang terkembang di bibirnya seketika surut saat mendapati kenyataan bahwa suaminya masih terlelap di ranjang mereka.
Dewi berjalan mendekat, lalu mengguncang tubuh yang masih bergelung dalam selimut itu dengan keras.
“Kak, bangun!” seru Dewi.
Andre bergeming, seakan guncangan itu tiada artinya sama sekali membuat Dewi sebal. Ia pun menarik selimut yang menutupi badan suaminya itu, menariknya paksa
“Kak, bangun, dong. Udah siang ini.” Suara Dewi berubah menjadi gerutuan yang hanya dibalas dengungan oleh Andre.
“Katanya mau pergi.” Dewi kini menepuk-nepuk bahu suaminya.
“Lima menit lagi,” balas Andre dengan suara serak. Matanya masih terpejam rapat, enggan dibuka.
“Ya udah, lima menit lagi ya.” Dewi hendak beranjak dari sisi ranjang, tetapi tangannya malah dicekal Andre. “Aku mau keluar,” geramnya dengan suara tertahan.
“Ssttt.” Andre berdesis lalu menarik tangan Dewi agar lebih dekat kepadanya.
Terpaksa Dewi duduk di pinggir ranjang. Sedangkan Andre langsung beringsut menggeser badannya dan meletakkan kepala di pangkuan Dewi, kedua tangan melingkar erat di pinggang. Seakan tidak peduli jika terhalang oleh perut buncit sang istri.
Tangan Dewi pun sontak mengelus kepala Andre dengan sayang. “Lima menit lagi ya bayi besarku,” ujar Dewi geli.
__ADS_1
Andre tersenyum senang mendapatkan perlakuan manis dari wanitanya itu. Lima menit sakan satu detik baginya. Ia pikir, mungkin saja Dewi akan mengundur waktu agar dirinya bangun. Rupanya, wanita itu benar-benar membangunkannya.
“Bisa nambah enggak waktunya?” tanya Andre malas.
“Enak aja. Aku udah siap begini, kok, mau mundur terus waktunya. Ayo bangun, Kak!” Dewi mengomel, tetapi tangannya tidak lepas dari mengelus kepala Andre. Kalau begitu, bagaimana lelaki itu bisa bangun?
Andre mengerjapkan mata, memaksa kedua bola matanya agar terbuka. Ia tidak bisa menepis bahwa elusan tangan Dewi di kepalanya semakin melenakan ditambah wangi parfum yang menenangkannya. Andre mendongak membalas tatapan Dewi kepadanya. Mereka saling berpandangan hingga beberapa detik lamanya, tiada kata, hanya isyarat yang berbicara lewat tatapan mata.
Kemudian, Andre pun tersenyum tipis. Tangannya terulur mengelus pipi Dewi. Tidak bisa dipungkiri, jika Dewi tampak seperti dewi yang turun dari kahyangan. Ah, biarkan saja jika Andre berlebihan memuji sang istri.
“Cantik,” gumam Andre pelan. Lalu berbisik ke perut buncit wanitanya, “Mama cantik banget, kan, Sayang.” Lantas, ia pun mengecup perut buncit itu berulang kali dengan tangan mengelus.
“Gombal, ih,” gerutu Dewi. Tidak bisa dicegah, ucapan Andre membuat pipinya bersemu merah. “Ayo, bangun, udah siang, nih.” Dewi kembali mengingatkan Andre untuk segera bangun agar tatapan lekat lelaki itu segera beralih. Ia benar-benar tidak tahan menerimanya.
Dengan malas, Andre pun akhirnya bangun lalu melangkah pelan ke kamar mandi. “Tungguin di sini, aku mandi dulu,” titahnya kepada Dewi yang langsung mendapatkan anggukan dari wanita hamil itu.
“Baju aja dielus-elus. Aku dianggurin,” rutuk Andre menggoda.
Dewi mendongak, mulutnya sedikit terbuka karena melongo melihat pemandangan di hadapan. Namun, seketika wajahnya berubah masam kala melihat lantai yang basah.
“Kak, lantainya basah. Kalau licin dan buat aku terpeleset gimana?” Dewi berdiri. Setelah meletakkan pakaian Andre di ranjang, ia pun bergegas untuk mengambil alat pengepel lantai. Pergerakannya terhenti kala Andre mencekal tangannya.
“Biar nanti aku aja yang ngeringin. Kamu cukup duduk,” ujar Andre lembut. Wajahnya yang semula menampilkan ekspresi jahil kini berubah sendu karena tidak memikirkan akibat dari tingkah lakunya.
Hilang sudah niat untuk menggoda sang istri, sekarang hanya rutukan tak jelas yang ia lontarkan dalam hati. Kenapa dirinya bisa seceroboh itu? Benar kata Dewi, kalau wanitanya itu terpeleset bagaimana?
Ah, Andre ... Andre, otakmu memang sering kali tidak waras sekarang.
__ADS_1
Setelah mengenakan kaus dengan cepat, tanpa mengenakan celana lebih dulu. Andre pun segera berjalan keluar kamar menuju dapur untuk mengamberl alat pel lantai. Di dapur ia bertemu Bik Inah yang pulang dari pasar.
“Lho, belum pergi, Den?” tanya Bik Inah bingung. Pasalnya juragannya itu berniat pergi pagi-pagi sekali semalam, tetapi malah belum berangkat.
“Belum, Bik. Sebentar lagi.” Andre mengulas senyum lalu mengambil alat yang dibutuhkannya.
“Lho, untuk apa, Den. Biar Bik Inah saja yang ngepel.” Wanita paruh baya itu sudah mengulurkan tangan hendak mengambil alat pel di tangan Andre, tetap ditolak oleh lelaki itu.
“Biar aku saja. Sudah ditunggin Dewi di kamar. Bibik lanjutkan saja pekerjaan Bibik ya ...” Andre pun melangkah lebar meninggalkan Bik Inah yang tampak keberatan atas tindakan yang ia lakukan.
Setelah mengepel lantai yang cukup membuatnya berkeringat, Andre pun ke kamar mandi mencucui wajah. Inginnya mengulang mandi, tetapi tidak jadi karena mendapatlkan tatapan tajam berupa peringatan oleh Dewi. Terpaksa ia menurut, cepat-cepat mengenakan celana sebelum wanita hamil keluar tanduk.
Sepasang suami istri itu pun sarapan dengan gerakan cepat. Kemudian pergi menggunakan taksi online yang dipesan Dewi.
“Lho, kita mau ke mana, Kak? Bukannya mau ke—“
“Ini tujuan utama kita, Sayang.” Andre manyahut cepat.
Akhirnya, Dewi hanya menurut tanpa banyak kata. Suasana di dalam mobil itu tampak hening, hanya kedua tangan sepasang suami istri itu yang saling menggenggam erat.
Dewi semakin dibuat bingung saat Andre mengajaknya memasuki sebuah rumah minimalis, tetapi tampak nyaman itu. Halaman depan yang luas dengan berbagai macam tanaman kesukaannya.
“Ini, rumah siapa?” tanya Dewi bingung.
“Kita masuk ke dalam ya. Lihat-lihat.” Andre merangkul pinggang Dewi dengan sesekali mengelus pelan.
Jika di dinding luar itu bercat abu-abu, maka di dinding dalam bagian ruang tamu bercat biru. Rumah itu masih kosong, tidak ada perabotan sama sekali. Dewi masuk ke ruangan satu per satu sampai ke arah dapur dan taman belakang dengan hati berdebar-debar. Ia menoleh ke arah Andre dengan harap-harap cemas.
__ADS_1
Andre mengangguk, membenarkan dugaan Dewi tentang rumah itu.