Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab 37. Janji


__ADS_3

Amika masuk ke kamar memeriksa keadaan Dewi yang kembali muntah-muntah.


"Ya ampun, Dew. Gimana dong? Keluar terus isi dalam perutmu itu?" ucap Amika khawatir.


Amika memapah Dewi ke luar kamar mandi. Gerakan mereka dikejutkan oleh kedatangan Andre yang tiba-tiba.


Andre memaksa Amika untuk melepaskan diri dari Dewi. Agar ia bisa menggantikan posisi wanita itu.


Dengan kesal, Amika mau juga melepas genggaman tangannya di bahu Dewi.


"Aku ambilkan air hangat," ujar Amika sembari berlalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Sekali sentakan, Dewi telah berada di antara kedua tangan Andre.


Sontak Dewi melingkarkan tangan ke leher Andre. Rasanya, tidak kuasa dirinya menolak dengan tubuh lemas begini. Pasrahlah jalan terbaik.


Andre meletakkan tubuh istrinya ke ranjang dengan sangat hati-hati.


Dengan jarak yang begitu dekat, Dewi leluasa mencium wangi tubuh Andre yang menyeruak di indera penciumannya. Herannya, seolah candu baginya. Wangi tubuh suaminya justru tidak membuatnya mual, malah menenangkan hati dan perutnya.


Dewi memejamkan mata, menghirup aroma itu dalam-dalam, memasukkannya ke dalam rongga dada. Lalu menyimpannya dalam relung terdalam. Seakan inilah waktu terakhir kali ia bisa mencium aroma tubuh Andre.


Menyadari jika Andre sengaja berlama-lama pada posisinya yang berada di atasnya. Bahkan lelaki itu seperti enggan melepas kedua tangannya di bawah tubuhnya.


Membuat Dewi seketika salah tingkah. Canggung dan malu kini menguasai hati. Lantas, ia pun berdehem pelan. Menggerakkan badannya untuk mengusir Andre dari atas tubuhnya, walaupun sebenarnya ia sendiri enggan untuk berpisah dengan lelaki itu.


'Kenapa tubuhku malah merespons seperti ini, sih?' rutuknya dalam hati. Dewi kesal.


Andre tersenyum tipis. Kemudian melepaskan kedua tangannya dari bawah tubuh istrinya.


Andre berdehem pelan menghilangkan kecanggungan yang terjadi di antara mereka.


"Kenapa kamu masih di sini, Kak?" tanya Dewi berusaha ketus. Sekuat tenaga ia memasang wajah jutek kepada suaminya.


"Aku khawatir sama kamu. Apalagi tadi mendengar kamu muntah. Kita ke rumah sakit, ya?" ucap Andre khawatir.


Andre tidak bisa menyembunyikan raut khawatir dari wajahnya.


Ucapannya terdengar tulus di telinga Dewi. Tanpa bisa dicegah, desiran halus itu kini ia rasakan kembali.


Dewi sempat berpikir, bisa jadi karena faktor hormon kehamilan yang sedang ia alami. Atau karena si janin bisa merasakan keberadaan ayah kandungnya.


Andre mengulurkan tangan, mengelus pucuk kepala Dewi lembut.

__ADS_1


"Entah bagaimana caranya aku meminta maaf darimu. Tapi, kumohon. Jangan membuatku khawatir begini." Andre meraih tangan Dewi, mengarahkan pada dada kirinya. "Rasakan detak jantungnya."


Sejenak, mereka saling hening. Andre tidak mengalihkan sedikitpun tatapannya dari wajah Dewi.


Entah mengapa, wajah pucat di hadapannya ini terlihat sangat cantik.


Tatapan mata mereka terputus saat terdengar suara Amika masuk.


"Dew, lu harus makan apa? Dari tadi makan keluar terus. Kasihan janin ... nya." Amika membekap mulut. Lupa jika masih ada Andre di kamar ini.


Apalagi saat melihat Andre berdiri, menghadap pada Amika yang terlihat panik.


"Gue ada urusan bentar ya. Ini air hangatnya," ucap Amika gugup.


"Amika, tunggu!" seru Andre.


Amika tidak menghiraukan perkataan Andre. Ia langsung berlari ke luar kamar.


"Apa maksud Amika dengan janin, Dew?" Andre bertanya dengan menuntut. Tidak memedulikan wajah cemas Dewi di hadapan.


Andre duduk, memegang kedua bahu Dewi yang menegang.


"Aku ... aku butuh air hangat, Kak," ujar Dewi salah tingkah.


"Sekarang, katakan padaku. Apa kamu hamil? Maksudku, apa ada anak aku di dalam sini?" Andre berdiri lutut di lantai. Tangannya mengelus perut Dewi.


Dadanya serasa sesak tidak karuan. Antara tidak percaya, kaget sekaligus bahagia. "Maksudku, apa kamu hamil anak kita?"


Berulang kali Andre bertanya. Meyakinkan diri atas tanya yang ia ucapkan.


"Katakan sesuatu, Dewi," ujar Andre tidak sabar. Pasalnya, sedari tadi Dewi hanya bergeming. Mulutnya terkatup rapat.


Bukan jawaban yang Dewi berikan, melainkan deraian air mata.


Ah, rasanya ia jengkel dengan diri sendiri. Banyak perubahan yang terjadi pada dirinya, terlebih ia sangat mudah menangis.


"Jadi benar kamu hamil? Hamil anak kita. Hamil anakku?" Tangisan Dewi diartikan sebagai kata "iya" bagi Andre.


Tanpa menunggu persetujuan atau apa pun dari Dewi. Andre langsung memeluk erat tubuh istrinya itu. Saat ini, ia tidak memedulikan apa pun.


Andre hanya merasa sangat bahagia. Sampai-sampai, dadanya seakan akan meledak sangking bahagianya.


"Terimakasih ... terimakasih. Aku janji akan menjagamu dan menjaga anak kita. Aku juga akan menyelesaikan masalahku dengan Anggita. Percayalah, tidak ada hubungan apa-apa di antara kami."

__ADS_1


Dewi membalas pelukan Andre. Lalu menenggelamkan wajahnya di dada bidang itu.


Saat ini, ia hanya ingin memberikan kesempatan itu sekali lagi. Setidaknya untuk anak yang tengah ia kandung, dan untuk menyelematkan hatinya. Dewi tidak peduli, sebanyak apa rasa sakit yang pernah ia rasakan.


Seolah, hari ini semua sirna. Hanya karena mendapatkan pelukan dan janji yang terdengar tulus dari Andre. Dewi merasakan kebahagian yang teramat sangat.


***


Di tempat yang berbeda, dua orang tengah bersitegang. Keduanya saling beradu pandang dengan kilat kemarahan.


"Sampai kapan kamu akan menyembunyikan kehamilanku itu dariku?!" tanya lelaki itu berang. Matanya memerah berkilat marah.


Kepalanya seakan hampir meledak karena menahan kemarahan yang telah menggelegak di ubun-ubun. Siap rumah mengalirkan lahar panas yang siap melahap siapa saja yang berada didekatnya. Termasuk wanita yang sangat dicintainya. Yang saat ini tengah mengandung benihnya.


"Aku enggak mau kamu yang menjadi ayah dari anak ini," ketus wanita itu.


Tatapannya masih tajam, siap membunuh siapa saja yang berani mendekat. Termasuk laki-laki yang berhasil menanamkan benih dalam perutnya.


"Aku bahkan sudah bersusah payah menggugurkannya. Sialnya, janin sialan ini sangat kuat bertahan," rutuknya kesal.


"Jangan coba-coba menggugurkan bayi itu. Aku akan bertanggungjawab," tegas lelaki itu.


"Aku enggak mau kamu yang jadi ayahnya, Robi. Apa kalimatku kurang jelas?"


"Lantas, siapa? Apa kamu mau di Andre sialan itu yang menjadi ayahnya. Kamu kira dia akan sukarela mengakui janin itu sebagai anaknya. Itu anakku, Anggita. Anakku."


"Sialan kamu, Robi! Kamu telah menjebak ku!" erang Anggita.


"Apa kamu lupa. Kamu sendiri yang meneleponku untuk datang menemuimu, saat kamu dicampakkan oleh kekasih pujaanmu yang pecundang itu," sinis Robi.


Anggita sesunggukan. Mengingat kegilaan yang pernah ia lakukan.


Ya, ia sendirilah yang meminta Robi datang menemuinya saat Andre meninggalkannya sendirian. Padahal mereka nyaris melakukan hubungan itu.


Nyatanya, Andre malah memilih pergi. Anggita menangis frustrasi malam itu. Lalu menghubungi Robi. Ia tahu, hanya Robilah yang selalu ada saat dibutuhkan.


Malam itu, Anggita sadar sepenuhnya pada apa yang telah ia lakukan yang membuatnya menyesal seumur hidupnya.


Rasanya, Anggita tidak pernah merasa sefrustrasi ini.


"Kamu dengar Anggita. Aku mencintaimu. Sangat. Jadi biarkan aku menjadi ayah anak kita," ucap Robi menenangkan.


Ia beringsut mendekati Anggita yang terguncang akibat menangis. Merengkuh tubuh itu dengan erat.

__ADS_1


__ADS_2