Istri Taruhan

Istri Taruhan
Bab. 54


__ADS_3

Sepertinya suasana hati Dewi belum juga membaik.


Sejak kejadian melihat mantannya Andre di parkiran rumah sakit kala itu, membuat suasana hati Dewi benar - benar ambyar.


Dewi sangat malas untuk sekadar bertegur sapa dengan Andre. Tidak hanya itu, Bik Inah pun turut mengalami dampak dari kemurungannya.


Bik Inah tentu saja kebingungan, selain karena turut bersedih melihat majikannya yang menampilkan raut murung. Ia juga bosan karena tidak memiliki teman mengobrol.


Tepat satu Minggu, rumah ini berubah senyap. Keceriaan yang ditampilkan Dewi sebagai penerang cahaya berubah drastis menjadi gelap gulita. Muram dan mencekam.


Bik Inah berinisiatif untuk membicarakan masalah ini kepada Andre. Namun, sepertinya Andre pun tak kunjung pulang. Beberapa hari ini juga lelaki itu selalu pulang larut. Entah ada apa gerangan, Bik Inah juga tidak mengerti.


Di tempat yang lain. Lelaki itu merasa kacau. Pekerjaannya membuat laporan penjualan tak kunjung selesai. Ditambah, program - program yang akan team mereka kerjakan di bulan yang akan datang.


Sebenarnya, ia tahu apa yang akan dikerjakan bulan depan. Apa target yang harus terlaksanakan sebab telah dibahas di bulan - bulan sebelumnya karena memang sudah menjadi agenda tahunan. Akan tetapi, tetap membutuhkan kematangan sebelum menghadapi bulan berikutnya sebab tidak akan pernah tahu tantangan apa yang akan terjadi apalagi kejadian - kejadian dadakan yang memerlukan inovasi.


Intinya, Andre sangat sibuk akhir - akhir ini. Jadwalnya yang memang padat sebab Andre telah berniat untuk bisa membeli rumah tahun ini. Minimal bisa mencicil. Tidak tega rasanya melihat Dewi kesempitan di rumah mereka yang sekarang. Apa lagi sebentar lagi akan bertambah anggota baru yang sangat dinanti - nantikan.


Pikiran lelaki itu kacau. Pekerjaannya kacau sekacau pikirannya.


"Man, gue izin dulu ya," ujar Andre di tengah kesibukannya menyiapkan pameran hari ini. "Perasaan gue enggak enak. Dewi dihubungi enggak jawab - jawab," lanjutnya dengan raut gelisah.


Sesekali tangan Andre menyugar rambutnya. Kepalanya terasa semakin berat seiring rasa gelisah yang menguasai.


"Lha, terus kerjaan gimana?" tanya Arman bingung. "Baru aja buka," lanjutnya mencoba bernegosiasi.


"Gua bentar aja, kok, entar bakalan balik lagi. Bareng sama yang lain dulu yaa." Andre mencoba membujuk.


Arman berdecak pelan, lalu mengusap wajahnya. Lantas, ia pun berjalan meninggalkan Andre yang masih termangu dengan wajah memohon.


"Ardi. Kamu gantiin kerjaan Andre sebentar yaa. Dia mau pulang sebentar," ucap Arman memberi perintah.


Lelaki yang dituju kontan menghentikan kesibukannya, mengangguk yakin. "Baik, Pak," ujarnya patuh.


Arman kembali menemui Andre dengan Ardi mengikuti di belakangnya.


"Udah. Pulanglah, kalau udah selesai cepat kembali yaa. Atau kalau ada apa - apa segera hubungi gue." Arman menepuk bahu Andre.

__ADS_1


Arman tahu, Andre sedang dalam masalah dengan Dewi. Akan tetapi, ia tidak ingin bertanya. Cukup memperhatikan dari jauh saja dan memastikan bisa membantu kedua sahabatnya tersebut jika dibutuhkan.


Ekspresi lega tercetak jelas di wajah Andre. Ia tersenyum lega. Setelah mengucapkan terima kasih, Andre pun segara melesat meninggalkan mall tempat mereka membuka stand bazar.


Kendaraan roda dua itu melaju kencang membelah jalanan ibu kota. Sesering mungkin ia membunyikan klakson untuk menghalau kendaraan lain yang di rasa menghalangi.


"Woi, gila lu ya," umpat seorang pengendara kepada Andre.


Andre terus saja melaju kencang, tidak terusik dengan umpatan yang keluar dari orang - orang.


Decitan rem terdengar begitu nyaring saat kendaraannya harus bertemu dengan lampu merah jalan.


Rasa - rasanya detik itu begitu lamban berjalan. Ingin sekali Andre melajukan kendaraannya tanpa harus peduli dengan lampu lalu lintas itu. Namun, itu tidak mungkin. Selain melanggar peraturan tentu saja bisa membahayakan pengguna jalan lain. Bukannya bertemu dengan Dewi, malah ia bakalan menjadi sasaran empuk yang pulang ke rumah sakit.


Andre menggeleng cepat. Mengusir pikiran buruk yang berkelebatan di kepala. Lantas, ia menghela napas panjang mengembuskannya perlahan sampai pikirannya terasa tenang.


Sesampainya di rumah, Andre buru - buru menepikan motornya. Lalu berlari masuk ke rumah.


Suasana begitu lengang, tidak tampak ada seseorang di dalamnya.


"Dewi! Bik Inah!" panggil Andre dengan gusar


"Dewi!" Andre menuju dapur.


Di dapur terdengar suara mesin yang terdengar bising.


Betapa terkejutnya Andre melihat Dewi tengah melakukan sesuatu. Wanita hamil itu berdiri dengan mixer di tangan.


Lega sekaligus merasa dipermainkan perasaan Andre sekarang.


Tanpa ingin membuang - buang waktu. Andre langsung memeluk Dewi dari belakang. Seketika itu juga, mesin adonan kue itu pun mati.


Tubuh Dewi terasa tegang menerima pelukan mendadak dari Andre.


Andre mencium aroma tubuh Dewi dengan dalam. Seakan telah lama tidak mencium aroma yang menenangkan ini.


"Kok sudah pulang?" tanya Dewi.

__ADS_1


Tubuh Dewi meremang saat merasakan endusan Andre di ceruk lehernya.


"Aku kangen kamu," desisnya pelan.


Senyum tipis terukir di wajah Dewi. Namun, tetap memasang ekspresi datar.


"Maaf," bisik Andre tepat di telinga Dewi. "Jangan marah lagi," lanjutnya mengiba.


Andre menyentuh bahu Dewi, membalikkan tubuh berperut buncit itu. Lalu mencium kening wanita itu dalam dan lama. Mencurahkan rasa rindu yang setiap hari semakin menjadi - jadi.


"Kenapa udah pulang?" tanya Dewi seolah tidak terusik dengan perlakuan Andre.


"Aku kangen kamu. Makanya pulang," ujar Andre.


"Kenapa juga kangen, ketemu tiap hari, 'kan?" ketus Dewi.


Dewi ingin beranjak pergi. Kedua tangannya berusaha menepis tangan Andre di bahunya. Namun, bukannya terlepas cengkeraman tangan itu malah semakin erat, tetapi tidak menyakitkan justru menciptakan desiran di hati keduanya.


Andre memeluk Dewi, walaupun terhalang dengan perut buncit itu. Lalu kepalanya turun dengan posisi membungkuk. Mencium perut Dewi dengan sayang, tangannya juga mengelus perut itu.


"Sayang, bilang ke Mama, dong. Udahan marahnya," ucap Andre lirih. Namun masih bisa terdengar jelas di telinga Dewi.


"Biarkan saja Papa terus sibuk dengan masa lalunya. Kita berdua saja, Nak," ketus Dewi.


Andre mendesah panjang. Benar kata Arman, wanita itu mudah memaafkan tetapi sulit melupakan. Sampai kapan pun akan terus diingat.


"Hati - hati dalam melakukan kesalahan. Wanita itu akan terus mengingatnya," ujar Arman kala itu.


"Aku enggak tahu lagi gimana caranya menjelaskannya kepadamu, Dew," erang Andre putus asa.


Andre menegakkan tubuh menatap Dewi dengan mata sendu penuh kekecewaan. Kecewa pada diri sendiri yang telah mengikis kepercayaan Dewi kepadanya.


"Baru begitu saja, kamu sudah putus asa," sahut Dewi dengan mata berkaca - kaca.


Andre yang melihat respons Dewi semakin frustrasi.


"Wanita hamil itu sensitif. Emosinya sering kali berubah - ubah. Besok begini, sekarang begitu, nanti sudah begini lagi. Yang sabar. Demi kebaikan ibu dan janin yang dikandungnya." Nasihat Pak Rudi atasan di kantor kini terngiang - ngiang.

__ADS_1


Lantas, Andre merasa sia - sia berpacaran selama ini. Pengalaman nya tidak membantu sama sekali dalam meluluhkan hati wanita halalnya.


__ADS_2