
"Aku mau cerita soal rencana kita yang ingin membangun usaha sendiri bersama Arman, Dewi." Andre berkata dengan hati hati. Saat ini, ia tengah duduk di atas ranjang dengan bersandar kepala ranjang itu. Menunggu Dewi yabg duduk di depan meja rias untuk menyelesaikan menggunakan perawatan wajah di malam hari.
"Jadi, gimana keputusannya?" tanya Dewi. Ia menoleh sebentar ke arah David lalu kembali menghadap cermin.
"Dia, sih, setuju aja. Kami juga sepakat bakalan ngajak kumpul bareng kita bertempat untuk membicarakan masalah ini sama sama. Gimana menurut kamu?" Andre membenahi posisi duduknya. Kini sepenuhnya Andre menghadap sang istri, kakinya menapak ke lantai kamar yang dingin.
"Oh." Dewi menepuk-nepuk wajahnya menggunakan kedua tangan. Di ranjang, Andre tampak meringis melihat istrinya itu. Banyak sekali ritual wanita sebelum tidur, bangun tidur sampai mau tidur lagi.
Dewi berdiri lalu melangkah mendekati ranjang. Ia duduk di sebelah Andre yang menatapnya tanpa kedip.
"Aku setuju, kok. Sama Amika udah membicarakan juga masalah ini. Kami berencana kalau di awal, kita kembangin usaha yang udah kami rintis aja dulu, untuk seterusnya ... baru deh, ke hal hal yang lain." Dewi berbicara dengan binar yang indah di kedua manik matanya. Jika bisa diibaratkan, biar itu seperti gemintang yang menerangi malam.
Andre baru sadar jika istrinya itu memiliki visual misi yang sangat jelas. Dewi juga memiliki kecerdasan yang patut diacungi jempol. Dalam hati ia berkata, para investor di perusahaan mertuanya itu pasti akan menyesal karena telah melepaskan wanita seperti di sampingnya itu.
Mungkin memang begitulah cara kerjanya. Harus siap memiliki banyak dekengan agar tetap bisa berkuasa dalam tambuk kepemimpinan. Jika tidak, maka nasib nahaslah yang akan menimpa, seperti yang terjadi pada istrinya. Dilengserkan.
Diam diam, Andre sangat mengagumi cara kerja papa mertuanya. Bagaimana laki laki gagah itu sangat berkuasa tetapi tidak terkesan sombong di masanya.
Bambang adalah sosok yang dihormati siapa saja. Namun, siapa yang pernah bisa menerka neraka permainan takdir pada hidup seseorang Setelah sang istri meninggal dunia, Bambang menjadi sosok yang sangat lemah. Cenderung tidak memiliki gairah hidup. Mungkin itulah yang dimaksud dengan pasangan adalah belahan jiwa, separuh napas kehidupan. Ketika belahan jiwanya pergi, maka jiwa yang lain tentu tak lagi memiliki nyawa yang sempurna. Secara otomatis jiwa itu pun layu dan ingin bertemu dengan separuh jiwanya yang telah lebih dulu meninggalkannya.
__ADS_1
"Kak, gimana?" tanya Dewi ketika tidak mendapatkan respons apa apa dari suaminya. Andre tampak menampilkan ekspresi datar. Sangat berbeda saat lelaki itu bertanya tadi.
"Sini." Andre naik ke ranjang, berbaring di sana lalu menepuk nepuk bagian yang kosong di sampingnya. Satu tangannya ia rentangkan agar menjadi bantahan saat Dewi berbaring di sampingnya.
Andre tersenyum hangat kala mendapati Dewi yang berbaring berbantalkan lengannya itu. Dewi juga berbaring miring menghadap ke arah Andre.
"Kalau kami setuju, itu tentu saja lebih baik. Kakak juga berencana mengembangkan bisnis para istri dulu. Kalau sudah berkembang dan mandiri, barulah memikirkan usaha yang lain. Amika gimana? Apa dia sudah membicarakan masalah ini kepada suaminya?"
Dewi mengangguk pelan sebagai respons atas pertanyaan suaminya itu. Ia juga bernapas lega jika Andre menyetujui usulannya. Paling tidak, untuk awal ke depan mereka tidak perlu menggelontorkan dana besar besaran. Mengingat dirinya yang masih memikirkan kondisi sang papa. Sudah pasti Dewi tidak akan mampu berpikir ekstra pada usaha yang mulai dirintis. Mau tak mau, pikirannya tentulah bercabang antara merintis usaha dan rumah sakit.
"Aku tahu, kamu pasti tidak akan bisa fokus ke usaha ini. Makanya akan lebih baik jika berjalan pelan pelan dulu." Seperti tahu apa yang tengah dipikirkan Dewi. Andre berucap seraya mengelus kepala sang istri.
Dewi mendongak, membalas tatapan lembut di hadapan nya. Demi apa pun juga, perkataan Andre barusangan sangatlah berarti untuknya saat ini.
Melihat perubahan ekspresi wanita di hadaoannya, Andre sontak menghapus linangan air mata itu menggunakan ibu jarinya. Kemudian memberikan kecupan lembut di kening Dewi agar perasaan wanita itu tenang dan nyaman. Seakan ia ingin mengungkapkan bahwa semua akan baik baik saja. Mereka berdua akan melewati semua ini sama sama. Andre akan bersama Dewi. Selamanya.
Andre mengelus punggung Dewi lalu menarik wanita itu untuk dipeluknya. Dewi pun menumpahkan tangis dalam rengkuhan sang suami.
Setelah tangisan itu mereda. Barulah keduanya mengurai pelukan mereka. Dewi menunduk dalam, menyembunyikan roda di wajah karena malu. Matanya tampak sembap dengan hidung yang memerah.
__ADS_1
"Malu kenapa, hm?" Andre menyentuh dagu Dewi menggunakan telunjuknya, mendongakkan wajah itu agar mau membalas tatapannya. "Kita bahkan udah sering buka buka .... Awww!" Andre tidak menuntaskan kalimatnya sebab Dewi sudah lebih dulu mendaratkan cubitan di lengannya.
Kemudian Andre pun tertawa terbahak. Ia senang karena Dewi telah kembali ke mode yang biasa. Sepertinya, lelaki itu akan lebih senang menerima kegalakan Dewi ketimbang wanita itu dalam mode diam seolah patung berjalan. Apalagi jika harus melihat wanita yang telah melahirkan Adrian itu menangis. Di dalam dada Andre seperti ada yang menyayatnya dengan benda tajam.
"Nah, kalau sudah enggak nangis lagi. Sekarang waktunya kita buatkan Adrian adik," goda Andre seraya siap siap membuka baju Dewi. Namun tiba tiba pergerakannya terhenti kala mendengar ....
"Mama! Adrian mau tidur sama Mama. Enggak mau tidur sama Mbak." Adrian berseru dari luar kamar kedua orang tuanya seraya menggedor gelar pintu kamar itu.
Andre mendengkus kesal mendengar suara teriakan itu. Sementara di sampingnya, Dewi terkikik geli.
"Bahagia bener lihat suaminya sengsara," keluh Andre dengan wajah memelas, seperti orang yang baru saja kalah berperang.
"Sepertinya Adrian belum mau punya adek, Kak. Sabar ya." Dewi menggeleng geleng sembari menutup mulutnya dengan satu tangan lalu turun dari ranjang seraya menyahuti Adrian yang masih berseru, "Iya, Sayang!"
Adrian melompat meminta gendong begitu pintu kamar terbuka lebar.
"Maaf, Nya. Den Adrian tadi sudah tidur, tapi tiba tiba bangun dan langsung lari ke sini," ujar si mbak dengan raut merasa bersalah.
"Enggak apa apa, Mbak. Sepertinya Adrian memang punya sinyal yang kuat," sahut Dewi santai. Lantas, tanpa menunggu respons dari pengasuh anaknya, Dewi pun langsung menutup pintu dan membawa anaknya menuju ranjang.
__ADS_1
Di ranjang Andre menampilkan wajah tersenyum. Kemudian menyambut buah hatinya dengan merentangkan kedua tangan. Setelah itu, ia pun menggelitik Adrian tanpa ampun.
Usai Dewi membacakan dongeng barulah Adrian terlelap. Anak balita itu tidur di antara mama dan papanya. Kebahagian terpancar jelas dari wajahnya bahkan saat ia terlelap.